TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
IKATAN BATIN



Ketika Lidya jatuh tak sadarkan diri. Terra yang tengah mencuci piring tiba-tiba tergugup hingga piring yang ia pegang jatuh dan pecah. Wanita itu langsung beristighfar. Ani yang melihat terkejut dan segera membersihkan pecahan piring yang berhamburan di lantai.


"Ya Allah ... ya ... Rabb!" ucap Terra memanggil Tuhannya sambil mengelus dada.


Anak-anak juga terkejut mendengar suara piring pecah itu. Mereka hendak mendatangi ibu mereka. Tetapi Para pengawal langsung menahan anak-anak agar tak mengenai pecahan piring.


"Mama!" panggil mereka semuanya.


"Mama kenapa Ma?" tanya Arimbi dan Nai sedih.


"Mama tidak apa-apa, baby. Kamu di situ aja ya jangan ke sini," ujar Terra.


Wanita itu seperti orang bingung setelah memecahkan piring. Pikirannya terbang pada Lidya, putrinya. Ia terus beristighfar agar tidak ada hal yang buruk terjadi pada Lidya.


"Mama ... kok Sean kepikiran sama Kak Iya?" tanya Sean tiba-tiba.


"Baby, doakan Kakak Iya baik-baik saja ya," pinta Terra pada semua anak-anak untuk mendoakan kakaknya yang sedang menjalankan misi kemanusiaan.


"Iya, Mama," sahut semuanya.


"Yut pita beuldoa puat Ata' Iya," ajak Kaila.


Semuanya menengadahkan tangan. Kean yang memimpin doa.


"Ya, Allah, lindungi lah semua orang yang kami cintai, Papa, Daddy, Ayah, Baba, Kak Darren, Kak Rion, terlebih Kak Lidya yang jauh dari kami, aamiin!"


"Aamiin!" sahut semua mengamini doa Kean, begitu juga Terra.


Sedangkan di ruangan Darren terus menerus memegang dadanya yang sedikit sakit. Rommy sampai khawatir melihat atasannya begitu juga Aden dan Iskandar. Mereka tengah membicarakan tentang perbaikan sistem jaringan udara dan laut.


"Dar!" panggil Rommy khawatir.


"Om," sahut Darren lalu ia menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Kamu tak apa-apa?" tanya Rommy lagi.


"Apa perlu ke rumah sakit?" tanya Aden juga khawatir.


Sedang Iskandar sudah bersiap jika memang harus melarikan atasannya itu ke rumah sakit. Darren menggeleng. Pikirannya menuju adik perempuan yang kini ada di benua lain.


Sedang Budiman yang tengah menunggu Darren juga sangat gelisah. Ia seperti mengkhawatirkan sesuatu.


"Lidya," panggilnya lirih.


Sedang Rion yang sedang menemani Haidar tiba-tiba terduduk begitu juga pria itu.


"Papa!" panggil Rion.


"Baby!" sahut Haidar.


"Pa, pulang yuk," ajaknya langsung.


"Iya, Baby. Kita pulang," ujar pria itu lalu memanggil asisten pribadinya.


"Bobby, kau lanjutkan semuanya!" titahnya.


"Baik Tuan!" sahut pria itu.


Haidar dan Rion pun pulang. Mereka berdua tak pernah diikuti oleh para pengawal. Mereka pun pulang diantar oleh supir.


Sedang di kantor Virgou dan Dav, juga sama kedua pria itu seperti panik sendiri. Virgou yang tiba-tiba limbung. Gomesh yang bersamanya pun langsung menangkap atasannya agar tak jatuh. Sedangkan Pablo dan Fabio nampak khawatir dua atasannya bermuka pucat.


"Tuan, anda berdua kenapa?"


"Kepalaku tiba-tiba pusing," jawab Virgou.


"Aku tiba-tiba seperti orang linglung," sahut Dav.


"Lidya!" mereka berdua menyebut satu nama sama.


"Kita ke rumah Terra!" ajak Virgou.


Dav mengangguk. Ia akan menyuruh Juno untuk menjemput istrinya dan membawanya ke rumah kakaknya itu.


Hal sama terjadi pada Herman. Pria itu seperti hilang kendali. Kegelisahannya benar-benar membuatnya panik sendiri. Ia pun beristighfar berkali-kali untuk menenangkan dirinya.


"Apa ini ... ada apa?" tanyanya.


"Ya Allah jauhkan lah seluruh keluarga ku dari marabahaya, aamiin!" doanya khusyuk.


"Sebaiknya aku pulang dan menjemput istri, lalu pergi ke rumah Terra. Aku merasa ada sesuatu terjadi di sana," ujarnya bermonolog.


Terra ditelepon Leon perihal Lidya yang tak sadarkan diri setelah sesi pengobatan. Wanita itu langsung khawatir.


"Mana putriku?" tanyanya panik.


"Mama ..," panggil Lidya di seberang telepon.


Terra meminta video call. Gadis itu pun menyalakan kameranya. Tampak wajah wanita yang sangat ia cintai panik dengan genangan air mata.


"Sayang," panggil Terra dengan sendu.


"Kamu kenapa bisa pingsan sayang?" tanya Terra khawatir.


"Iya kaget, Ma. Amolia salah satu peserta akan pergi selamanya dan tadi dia memeluk Iya," terang gadis itu.


"Oh ... sayang," ujar Terra sedih.


Andai ia bisa langsung ke sana dan memberi kekuatan pada putrinya. Sayang, anak-anaknya semua sekolah. Terlebih, Darren dan Rion yang sudah berkecimpung di dunia bisnis.


"Jaga kesehatan sayang. Jangan lupa shalat!" ucapnya mengingatkan.


"Iya, Ma," ucap Lidya tersenyum.


Sambungan telepon berhenti. Ia terduduk lalu mengucap istighfar berkali-kali. Haidar dan Rion pulang. Wajah mereka seperti khawatir. Tak lama Virgou dan Dav datang bersama Puspita yang sudah terlihat perutnya. Lalu Herman dan Khasya.


Terra menitikkan air mata. Haidar langsung memeluknya. Virgou makin gusar begitu juga Herman dan Dav. Anak-anak mulai menangis. Khasya dan Puspita menenangkan anak-anak.


"Mas ... Lidya, Mas," ujar Terra sesengukan.


"Ada apa dengan putriku, katakan!" seru Haidar panik.


Mendengar nama Lidya. Tak lama Seruni datang dengan wajah panik. Ia langsung menuju anak-anak yang menangis. Sedangkan Gomesh langsung was-was ketika mendengar nama nonanya disebut.


"Sehabis konseling dan healing, Lidya jatuh tak sadarkan diri," jelas Terra.


Virgou langsung menggelosor di lantai. Herman diam mematung begitu juga Dav. Haidar setengah menahan napasnya.


"Lalu?" tanya pria itu lagi, "Sekarang bagaimana keadaan anak gadisku?"


"Lidya mengalami dehidrasi tinggi. Kata Dokter putri kita mengalami kembali traumanya," jelas Terra.


"Tapi dia baik-baik saja sekarang, hanya di suruh istirahat satu malam di rumah sakit, Daddy Leon yang menemaninya."


Penjelasan Terra terakhir membuat semuanya bernapas sedikit lega.


"Ma, sekarang Kakak Iya lagi apa?" tanya Rion ketika melihat jam di dinding.


"Tadi, Lidya sudah minum obatnya. Kemungkinan sekarang kakakmu sudah tidur. Mungkin kita bisa telepon lagi malam nanti, dia sana baru jam tiga sore kan," Rion mengangguk.


Darren pulang cepat. Ia sudah tahu keadaan adiknya. Pria itu pulang untuk menceritakan keadaan sang adik, walau pun ia tau jika ibunya pasti sudah mengetahui keadaan Lidya. Budiman yang menyetir juga sudah mengetahui keadaan gadis kesayangannya dari Darren.


"Assalamualaikum!" pemuda itu cukup terkejut rumahnya dipenuhi semua keluarga.


"Wa'alaikumussalam!' sahut semuanya.


"Ayah, Daddy!' panggilnya.


Pemuda itu pun mencium tangan semua orang tua di sana. Netranya memandang ibunya yang masih menggenang. Ia pun menghapusnya.


"Lidya sudah baik-baik saja, Ma. Dia gadis yang kuat," ujarnya lalu memeluk ibunya erat ia memberi kekutan.


"Iya sayang. Mama hanya begitu khawatir, Lidya belum lepas dari traumanya," jelas wanita itu dengan nada cemas.


"Kita hanya bisa mendoakan dirinya, Ma. Lidya memilih menghadapi semua lukanya kembali. Ia mencoba mengobati dirinya sendiri dengan cara seperti itu," jelas Darren.


Terra mengangguk membenarkan. Semua diam mendengar penjelasan pemuda itu. Memang, semua anak memiliki cara sendiri menghadapi ketakutannya. Sebagai keluarga, adalah selalu bersamanya dan mendukung pilihan Lidya.


"Dia adalah seorang Dougher Young. Aku yakin, dia bisa melewati semuanya, terlebih dia memiliki hati yang begitu kuat," sahut Virgou dengan penuh keyakinan.


Terra mengangguk setuju. Ia yakin putrinya akan mampu melewati semuanya.


"Mama akan berdoa untuk kesehatan mu dan kau cepat keluar dari trauma yang mengikatmu," doa Terra dalam hati.


bersambung.


aamiin.


next?