
Hari ini semua orang sudah berkumpul di satu studio. Tak perlu penata gaya. Karena semua ganteng dan cantik. Para perempuan dijejerkan. Mereka mengenakan gamis warna shock pink dengan hijab warna gold. Lidya cantik sekali dengan gamis buatan perancang ternama. Demian juga sangat tampan dengan balutan jas formal warna hitam pekat. Rambut pirang dan mata birunya begitu memukau. Bagaimana ekspresi spontan Lidya dibiarkan begitu saja. Rona malu-malu dengan senyum bahagia terpancar di wajah cantiknya.
"Mashaallah ... cantik banget calon pengantinnya," puji fotografer.
Lidya hanya tersipu, sedang Demian menahan cemburu melihat pria lain melirik calon istrinya. Virgou menepuk bahunya.
"Jangan cemburui istrimu. Anak gadisku itu memiliki kualitas tinggi, ia tak akan tertarik dengan pria mana pun," ujarnya.
Demian hanya menghela napas pasrah. Benar kata, Virgou. Lidya adalah gadis di atas rata-rata, yang tak mungkin melirik pria lain.
"Sayang," panggil Demian pada Lidya.
Pria itu kesal pada fotografer yang terus menatap gadisnya.
"Apa aku perlu mencongkel matamu itu?" ancam pria tampan itu.
Sang fotografer langsung meminta maaf. Pria itu kini memfoto para bayi yang begitu menggemaskan. Terlebih, Sky, Benua, Bomesh dan Domesh.
"Poba aba Ata' Babitli .... Spy tanen," keluh bayi itu.
Darren iseng menelepon gadisnya itu.
"Halo assalamualaikum ... sayang, kau di mana." tanyanya.
".......!"
"Kau sedang tidak praktekkan. Mau datang ke sini nggak?" tawar pria itu.
" ......!"
"Aku ada di studio foto xx di jalan xxx!"
"Aku ke sana!" sahut Saf lalu mematikan ponselnya.
Gadis itu tengah berjalan-jalan mengendarai mobilnya. Ia hanya berjalan sedikit kemudian berbelok lalu mendatangi studio yang di maksud.
"Halo, saya Safitri mau ketemu sama Darren," ujar gadis itu pada para pengawal.
Hendra yang mengenalnya lalu menyuruhnya masuk. Saf pun masuk ke dalam studio besar itu.
"Ata'Babitli!" pekik Sky antusias.
Safitri tersenyum lebar. Semua anak bersorak melihat kedatangannya. Mereka langsung mengerumuni gadis itu dan memeluknya.
"Ibu," rengek Lidya.
"Halo adik Dokter. Kau akan menikah ya?" Lidya mengangguk sambil menggayut manja pada gadis itu.
"Ibu, Iya kangen," rengek Lidya lalu memeluk erat Saf seperti tak ingin membaginya pada yang lain.
Terra cemburu. Safitri memang beda sekali. Semua anak tak akan menghiraukannya bahkan Rion kini menjauhkan kakak perempuannya itu dari tubuh gadis bongsor.
"Ion juga kangen!"
"Baby!" tegur Lidya kesal.
"Peluk sana Mas Demian, wew!" seru Rion sengit.
"Mama!" teriak Lidya mengadu.
Bart hanya menggelengkan kepala. Ia senang dengan kehadiran Safitri. Begitu juga yang lainnya.
"Hei aku yang memanggil Safitri. Mestinya aku yang dapat pelukan!" protes Darren.
"Jangan mesum!" sindir Haidar geli.
Darren hanya tersenyum kecut. Padahal ia juga ingin memeluk tubuh padat gadis itu. Ia juga sangat merindukannya.
"Jika bisa aku bawa dia ke KUA dan langsung kunikahi!" sahutnya gemas.
"Kau kira dia gadis apaan asal kau tarik paksa begitu!" tegur Herman.
"Papa dulu hampir menikahi Mama di KUA kan?" sahut Darren langsung menunjuk ibunya.
"Terra?" Herman menatap keponakannya.
Bram hanya diam, ia yang tahu jalan ceritanya. Kanya pun tertawa tertahan mengingat hari di mana putranya nekat membawa Terra ke kantor urusan agama pada saat itu.
"Kan nggak jadi Ayah!" rajuk Terra manja pada pria kesayangannya itu.
"Syukurlah. Jangan ikuti yang nggak bener!" sahut Herman pada Darren.
"Ayah, nanti Saf diambil orang," rajuk Darren pada Herman.
"Jam berapa ini?" tanya Virgou tiba-tiba.
"Pukul 10.10!" jawab Satrio.
"Safitri!" panggil Virgou.
Gadis yang tengah menciumi perut para bayi ini menoleh.
"Kau mau jadi istri putraku, Darren?" pinta pria itu.
Deg!
Semua terdiam. Mereka menanti jawaban gadis itu. Sementara Saf terkejut setengah mati mendapat lamaran mendadak.
"Ha ... harus jawab sekarang?" tanya gadis itu tergagap.
"Iya, jawab sekarang. Agar langsung kalian aku nikahkan!" tekan pria dengan sejuta pesona itu.
Darren menatap gadis itu dengan pandangan berbinar. Ia masih menunggu jawaban Saf.
"Safitri!" panggil Virgou lagi.
Saf memejam mata. Kean dan lainnya sangat berharap jika gadis itu menerima lamaran dan menjadi kakak mereka. Semuanya tak ingin Saf diambil oleh pria lain selain kakak mereka.
"Kalo Kak Saf nggak mau sama Kak Darren. Kean, mau jadi suami Kakak!"
"Hei ... kalian!" tegur Herman marah pada para remaja.
"Ih ... ayah ... nggak apa-apa, Satrio juga mau kalo Kak Saf membuka peluang juga!"
"Mashaallah ... punya magnet apa sih, Safitri sampai begitu diperebutkan?" tanya Puspita heran.
"Emang Mommy nggak mau punya menantu kek, kak Saf?" tanya Dimas penuh selidik.
"Ya, pasti mau lah!" jawab Puspita cepat.
"Safitri Serenity Aurelie Velareal ... maukah kau jadi istriku!" pinta Darren lalu menekuk kakinya bersimpuh.
Jantung gadis itu berdetak cepat. Ia pun mengangguk tanda setuju.
"Apa arti anggukanmu Saf?" tanya Kanya kini penasaran.
"Saf mau jadi istri Mas Darren!" jawab gadis itu lalu menutup wajahnya.
Terra langsung menangis mendengarnya. Ia pun memeluk erat gadis itu. Entah kenapa, ia merasa enteng setelah ini.
"Alhamdulillah, akhirnya!"
"Ayo kita bawa mereka ke KUA untuk mendaftar pernikahan mereka secepatnya!" ajak Virgou.
"Ini fotonya sudah selesai kan?" tanya Bart.
Fotografer mengangguk.
"Foto kami berdua belum!" pekik Darren lalu menarik Safitri dan mendudukkannya di sebuah kotak kayu, pria itu mengambil bunga dan memberikannya pada Saf. Kegiatan itu langsung diabadikan oleh fotografer dan beberapa gaya lainnya. Anak-anak juga mau difoto bersama. Begitu juga yang lainnya.
"Baik, jika foto sudah jadi, nanti kami beri kabar," ujar fotografer.
Semua keluar studio dengan wajah gembira. Virgou langsung mendatangi kantor KUA di sana. Darren dan Saf juga di bawa ke sana.
"Assalamualaikum!" salam Virgou.
Kedatangan bule tampan ke kantor itu membuat kaget seluruh karyawan. Terra tak bisa menghentikan kenekatan kakak sepupunya itu.
"Virgou!" tegur Herman mengingatkan.
"Saf adalah gadis baik-baik, kita harus melakukannya secara baik-baik!" lanjutnya.
"Ada apa ini, Pak?" tanya petugas.
"Tolong nikahkan mereka sekarang, Pak!" sahut Virgou.
Darren dan Safitri di dudukan. Para petugas menggaruk kepala mereka. Petugas pun menanyakan surat-surat kelengkapan.
"Bisa nyusul kan semua itu?" tanya Virgou.
"Bisa," jawab petugas mengangguk.
Setelah memberikan kartu identitas keduanya. Darren diminta kesediaannya menikah Safitri begitu juga sebaliknya. Keduanya pun siap. Saf menyerahkan wali pada petugas saja, karena ia memang tak punya keluarga yang bisa menikahkannya.
"Terra!" pinta Herman pada keponakannya.
Terra pun bingung. Ia dihadapkan pada kejadian belasan tahun lalu.
"Terra!" tekan Herman lagi.
"Sudah lah Yah. Te juga mau Darren menikah cepat!" sahut wanita itu pada akhirnya.
Herman terdiam. Ia menatap Bram dan Bart bersamaan. Keduanya angkat tangan.
"Sudah, Pak. Tidak apa-apa. Tak masalah kok mereka menikah cepat, itu lebih baik dan menghindari zinah," ujar petugas.
Akhirnya karena kalah suara. Herman membiarkan Darren menikahi Saf.
"Ananda Darren Putra Hugrid Dougher Young, saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan perempuan bernama Safitri Serenity Aurelie Velareal binti Jonnas Velareal dengan mas kawin uang satu juta rupiah dibayar Tunai!"
"Saya terima nikah dan kawin Safitri Serenity Aurelie Velareal binti Jonnas Velareal dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Darren melafalkan ijab dengan lantang dan satu tarikan napas.
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu.
"Sah!" sahut semuanya.
"Alhamdulillah ....!"
"Ata' Babitli udah punya Sty?" tanya Sky tak percaya.
Virgou mengangguk. Sky dan Benua pun menangis terharu. Ia kini memiliki kakak yang sangat ia inginkan. Sosok Safitri memang menjadi magnet bagi semua anak-anak.
"Nah, untuk buku dan semuanya akan selesai setelah semua berkasnya juga beres," sahut petugas setelah mendapat tanda tangan keduanya.
Saf bingung kini, ia tak percaya jika sudah menjadi seorang istri.
"Nah, cium punggung tangan suaminya," Saf menatap petugas tak percaya.
"Iya, Mba. Anda sekarang sudah menjadi istri!" sahut petugas membenarkan pikiran Safitri.
"Sayang," panggil Darren lembut.
Lalu ... cup! Satu kecupan di daratkan di kening gadis itu.
"Mama ... Saf dicium orang!" pekiknya menangis.
Terra langsung memeluk Safitri dan tertawa tertahan.
bersambung.
aha ... jadi Darren duluan kan yang nikah!
next?