TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENJELANG HARI BAHAGIA



Waktu terus berputar. Pernikahan Lidya dan Demian semakin dekat. Darren begitu menyayangi adik perempuannya itu. Ia memanjakan Lidya dengan apa pun.


"Kau mau apa, Dik?" tanyanya.


Lidya menggeleng. Gadis itu tidak ingin apa-apa dari kakaknya. Ia memeluk pria yang menjadi panutannya selain ayahnya.


"Terima kasih kak," ujarnya.


"Untuk?"


"Untuk tetap bertahan dan menjaga Iya dan Baby," jawab gadis itu.


"Terima kasih, sudah bawa Mama ke kehidupan kita," ujar Lidya penuh haru..


"Makasih Kak, mau bertahan dan selalu menggenggam tangan Iya dan Baby," ujar Lidya lagi dengan suara tercekat.


Darren memeluk adiknya penuh kasih sayang. Satu minggu lagi usia Lidya dua puluh tahun. Gadis itu makin dewasa dan sangat cantik.


"Terima kasih mengejar Mama waktu itu dengan menggendong Baby dan Iya," lanjut Lidya mengingat ketika Terra hendak meninggalkan mereka.


"Dik," panggil Darren dengan suara berat.


Terra mendengar semuanya. Ia ikut menangis. Ia dulu nyaris meninggalkan ketiga matahari kecilnya dulu.


Darren dan Lidya menangis tertahan. Virgou makin sering ke rumah Terra, menjelang pernikahan putrinya itu. Pria itu melihat Terra menangis langsung mendatangi.


"Te?" panggilnya.


"Kak!" sahut Terra dengan suara tercekat.


Pria dengan sejuta pesona itu memeluk adik sepupunya. Menenangkan wanita itu. Sampa Darren dan Lidya terkejut mendengar ibu mereka menangis.


"Mama," panggil keduanya.


"Mama, kenapa nangis?" tanya Darren.


Terra menggeleng, ia memeluk Darren dan Lidya.


"Mama, jangan nangis," ujar Lidya lirih.


"Iya, sayang," ujar Terra.


"Kenapa kalian bersedih seperti ini? Sebentar lagi hari bahagia akan tiba," ujar Virgou.


Terra tersenyum. Lidya dan Darren memeluk pria itu.


"Tidak apa-apa, Daddy ... hanya sedikit sedih karena sebentar lagi Lidya akan bersama suami," jawab gadis itu.


"Pilihan berat orang tua adalah melepas anak-anak mereka menikah," ujar Virgou dengan suara berat.


"Jujur Daddy masih kuat menjagamu hingga napas Daddy berhenti," lanjut pria itu egois.


"Daddy," rengek Lidya manja.


"Iya, sayang sama Daddy. Makasih sudah datang dan sayang sama Iya," ujar gadis itu dengan penuh haru.


"Daddy yang beruntung mendapatkan kamu, Baby. Kau adalah matahari Daddy dan tak ada yang bisa menggeser kedudukan mu di sini," ujar Virgou meletakan tangan Lidya ke dadanya.


Terra begitu terharu. Sosok pria yang sangat menyebalkan awalnya menjadi sosok yang paling dekat dengan semua anak-anaknya. Kepekaan pria itu bisa diacungi jempol.


"Te, aku lapar," ujar pria itu.


Terra mengangguk, ia menyiapkan makanan untuk kakaknya itu. Lidya ingin disuapi pria itu. Dengan senang hati, pria itu menyuapi anak gadisnya.


"Assalamualaikum," Rion pulang dari kuliahnya.


Haidar masih di luar kota. Pria itu bersama Kean dan Satrio untuk melanjutkan masalah proyek kemarin.


"Wa'alaikumussalam," sahut semuanya..


"Daddy," panggil bayi besar itu.


"Baby," sahut pria itu.


"Ion juga lapar, Mama ... mau makan, minta suapin Daddy," pinta Rion manja.


Virgou tertawa mendengar permintaan bayi besar itu. Pria itu kembali menyuapi remaja tampan luar biasa.


"Daddy, besok fitting baju pengantin dan foto prewedding?" Virgou mengangguk..


'Grandpa sudah sewa satu studio foto untuk foto satu keluarga," jawab Virgou.


Lidya mengangguk. Daddy Dominic juga sudah datang kembali untuk foto prewedding.


"Kau makin cantik menjelang pernikahan, sayang," puji Virgou.


Lidya tersipu mendengar pujian dari ayahnya itu. Gadis itu makin manja. Ia tak segan meminta Virgou menggendongnya.


"Kau manja sekali," Lidya hanya merengek jika diledek seperti itu.


"Nanti, Iya nggak minta gendong Daddy lagi, loh," sahut Lidya ngambek.


Virgou terkekeh mendengarnya. Pria itu mencium gadis itu sayang.


Ari dan Ara sudah merambat kemana-mana. Dua bayi itu sudah tujuh bulan, sama dengan Harun yang sudah satu tahun sedang Azha sudah sepuluh bulan. Bariana, putri Gomesh Diablo seusia Harun.


"Hei baby," sapa Virgou.


"Dadda!" panggil Ara memekik.


"Ah, kata pertamanya!" pekik Virgou senang.


"Jika Papamu tau, dia pasti cemburu, Baby," kekeh pria itu.


Terra tersenyum mendengarnya. Pastinya Haidar pasti akan cemburu jika bayinya mengucap kata lain selain dirinya.


"Daddy!" panggil Rasya dan Rasyid ketika baru pulang ekstrakurikuler.


"Kenapa nggak salam dulu?" tegur Terra.


"Assalamualaikum!" salam keduanya walau setelah itu mereka akan bermanja pada pria beriris biru itu.


Tak lama, Puspita datang bersama Gomesh dan anak-anak. Rumah Terra pun jadi penuh manusia. Harun makin aktif bicara karena semua kakaknya berbicara.


"Mama, Spy pidat datan?" tanya Bomesh.


"Sebentar lagi, datang Baby," jawab Terra.


"Mama ... Mama!" panggil Harun.


"Iya, Baby," sahut wanita itu.


"Bini Mama ... abun pawu mie!" sahut bayi itu tak jelas.


"Harun mau apa?" tanya Rion.


"Mie!" jawab bayi itu.


"Bomesh mawu mie Ata'Babitli!" sahut Bomesh.


"Iya, Baby ini," sahut Terra.


Gisel datang bersama suami dan anak-anak. Budiman memang tak ke kantor bersama Darren karena pria itu memilih cuti untuk persiapan pernikahan adiknya.


Sementara di tempat Demian. Pria itu makin tunduk dalam sujudnya. Pria itu tak lepas dari permohonan atas kelancaran pernikahannya yang tinggal menghitung hari itu.


"Demian. Lusa adalah fitting baju pengantin, juga prewedding. Apa ada permintaan khusus dari calon istrimu?" tanya Dominic.


"Tidak, Dad. Lidya tak meminta apa-apa. Bahkan ketika menanyakan mahar, Lidya bilang semampuku," jawab pria itu.


Dominic mengangguk. Pria itu masih patah hati karena cintanya ditolak mentah-mentah oleh seorang perempuan. Ternyata, kekayaan dan ketampanan pria itu tak mampu menggeser sifat baik mendiang suami wanita idamannya.


"Dad," panggil Demian.


"Ada apa, Nak?" sahut Dominic.


"Apa Mama, nanti kita undang?" tanya pria itu ragu.


Dominic terdiam. Ia memang sudah mengatakan pada mantan istrinya jika putra mereka akan menikah. Karena sudah beda keyakinan, wanita itu pun hanya mengucapkan selamat.


"Daddy sudah beritahu Mommy mu. Beliau hanya mengucap selamat saja," jawab Dominic dengan nada menyesal.


Demian mengangguk, ia tersenyum miring. Ibunya hanya mencintai keluarga pilihannya. Sedang dengan ayahnya tidak. Dulu, dengan Deborah. Demian setuju untuk menghormati ibunya yang memberikannya jodoh. Tapi, siapa sangka wanita itu malah mengkhianati Demian.


"Sudah, jangan ingat yang tidak penting. Sebentar lagi adalah hari yang paling penting bagi hidupmu. Jangan sampai ada sesuatu hal yang buruk merusak semuanya," jelas pria itu panjang lebar.


Demian mengangguk. Ia kini merebahkan kepalanya di pangkuan sang ayah. Dominic mengusap sayang kepala putranya.


"Ketika Daddy melihat Lidya pertama kali. Daddy langsung meminta pada Allah, gadis itu menjadi menantu ayah," sahut pria itu.


"Terima kasih, Dad," ujar Demian. "Telah meminta Lidya menjadi jodoh Demian."


"Sama-sama sayang," sahut pria itu..


"Oh ya, minggu depan ulang tahun calon istrimu..Kamu sudah siapkan hadiah?" tanya Dominic.


"Sudah, aku sudah bungkus cantik," jawab Demian yakin..


"Daddy juga mau kasih hadiah ... menurutmu apa ya? Pesawat jet pribadi?"


"Kakeknya punya empat pesawat pribadi," jawab Demian.


"Ia sudah memiliki segalanya, Dad," lanjutnya..


Dominic mengangguk setuju. Ia tak perlu memberikan Lidya hadiah yang fantastis. Gadis itu memiliki segalanya.


Bersambung.


ah ... sebentar lagi Lidya akan menjadi seorang istri ...


hai Readers ... othor masih sakit. minta doanya ya ... lemes banget .... ba bowu ❤️😍


next?