
Terra menangis sepanjang perjalanan menuju perusahaannya. Gadis itu berkali-kali menyuruh Budiman untuk mempercepat laju kendaraannya.
Bahkan ia tak segan memaki angkot yang menyalip dan berhenti mendadak di depan mobilnya.
Haidar menyetir mobilnya sendiri begitu juga Bram dan Kanya. Sofyan tidak ikut, karena ia mengurusi data diri gadis itu untuk mempersiapkan pernikahannya.
Butuh waktu satu jam setengah ia baru sampai perusahaan. Melewati makan siang dan langsung berlari menuju ruangannya. Di sana Aden tengah memeluk tubuh Darren yang bergetar.
Mata pria kecil itu ke sana kemari. Seperti orang sedang mengawasi sesuatu. Bahkan ia mendekap dua adiknya erat.
"Sembunyi ... ayo kita sembunyi," bisiknya lirih pada dua adiknya.
Lidya dan Rion ikut ketakutan. Mereka ikutan menangis dan memeluk tubuh kakaknya yang gemetaran.
"Tata Dallen, Iya tatut ... hiks ... hiks!"
"Atak Allen ... Ion buba!" cicit Rion lirih dengan wajah pucat.
Terra langsung menangis melihat ketua anaknya seperti itu. Begitu juga dengan Haidar, Kanya dan Bram.
"Mama, sembunyi ,Ma!" lagi-lagi Darren berbisik.
Tangan kecil pria itu melambai-lambai memanggil ibunya. Matanya masih bergerak liar seperti mengawasi sesuatu.
"Sayang ... jangan takut, Nak. Ada Mama di sini," ucap Terra dengan suara serak.
Darren meraih tubuh ibunya. Seperti hendak menyembunyikan tubuh sang ibu dalam rengkuhannya.
"Sembunyi, Ma!" pintanya dengan suara ketakutan.
"Sembunyi dari, apa sayang?" tanya Terra. "Tunjukkan sama Mama. Biar Mama lawan dia!"
Darren menggeleng kuat. Matanya meminta ibunya untuk menurutinya agar semuanya aman.
"Sembunyi, Ma!"
Lidya dan Rion jadi ikut menyuruh Terra sembunyi. Bahkan, kedua anak itu juga menyuruh semuanya sembunyi.
"Wayo, muana bembuni!' pekik Rion dengan suara tertahan dengan wajah pucat ketakutan.
"Om Pudi, bembuni!' pekiknya lagi melihat Budiman tengah mengawasi ruangan.
"Kak Aden, apa Darren tadi melihat sesuatu atau seseorang, Kak?" tanya Terra sendu.
Ia begitu khawatir dengan keadaan putranya.
"Saya tidak tahu, Nona. Tiba-tiba saja dia berdiri kaku ketika kami berada di lobby," jawab Aden juga khawatir.
"Coba cek CCTV," pinta Terra.
"Ini, Nona. Sepertinya Tuan muda Darren melihat pria ini!" ucap Budiman.
Ternyata pria itu sudah menyuruh tim untuk mengecek kamera pengintai. Benar saja. Budiman mendapati Darren berubah kaku di lobby PT Hudoyo Cyber Tech. Ia mengamati sosok yang membuat Darren berdiri kaku.
"Darren, apa kau melihat pria ini, sayang?" Darren menatap sosok dalam layar ponsel yang diperlihatkan oleh Terra.
Ia pun mengangguk. Wajah buram dalam layar. Membuat matanya juga sedikit menyipit dan kosong.
'Aku tidak boleh takut!' ucapnya tiba-tiba dalam hati.
'Jika aku takut. Tidak ada yang melindungi Mama dan adik-adik!' Darren mencoba keluar dari ketakutannya.
"Siapa dia?" tanya Haidar. "Wajahnya tidak kelihatan?"
Darren yang mendengar itu pun menguatkan hatinya. Berusaha keluar dari semua tekanan yang menghimpitnya. Menatap netra ibunya. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada wanita yang kini menjadi pelindungnya.
'Aku laki-laki, aku yang harus melindungi, Mama. Harus!' tekadnya bulat dalam hati.
Tiba-tiba.
"Mama. BraveSmart ponsel mana?" tanyanya.
Terra menatap wajah putranya. Pria kecil itu berhasil keluar dari ketakutannya. Gadis itu memberikan ponsel yang diminta putranya dari dalam ransel.
"Ini sayang. Buat apa?" tanya Terra.
Darren mengambil ponsel itu setelah melepas rangkulannya pada kedua adiknya. Melihat sang kakak berhasil keluar dari ketakutannya, membuat Lidya dan Rion ikut berani walau tangan keduanya mengait baju sang kakak.
"Kita akan lihat wajah orang tadi yang tertangkap kamera pengintai," ucap Darren.
Darren mengetik sesuatu di layar ponsel. Wajah samar itu tiba-tiba berputar seperti loading. Perlahan namun pasti memunculkan wajah orang itu secara jelas.
"Virgou?"
Haidar mengenal pria itu. Mereka sudah lama berkompetisi dan bersaing dalam bisnis. Haidar tidak menyukai cara kerja Virgou yang terkesan licik. Tapi, sebagai seorang CEO tentu ia harus mengenal semua karakter CEO lainnya bukan?
Terra lupa-lupa ingat akan sosok itu. Gadis itu tidak begitu peduli akan orang lain yang tak penting dalam hidupnya, jadi Terra melupakan pertemuannya dengan pria itu di salah satu halte.
"Pria itu yang sering dibawa Tante Firsha ke kamar sambil berciuman."
Perkataan Darren membuat semuanya shock dan setengah tak percaya.
"Apa?!"
"Kau yakin, Nak?" tanya Terra.
Darren mengangguk. Gadis itu memperhatikan wajah putranya yang berubah. Ia meraba dahi sang putra. Tidak lagi panas seperti barusan ia pegang. Bahkan kini ia melihat kilatan lain dari mata pria kecilnya itu.
"Sembunyi, Ma. Biar Darren yang akan menghadapi pria itu. Sudah saatnya Darren melindungi, Mama!"
bersambung.
ah ... Darren keren ...
next?