
Hari berlalu begitu saja. Darren semakin sibuk. Sedang Virgou tengah mengurus pernikahan keponakan yang sudah dianggapnya anak tersebut. Sudah dua minggu, pria dengan sejuta pesona itu bolak-balik ke kantor KUA. Tetapi, tidak ada tanggal kosong sesuai yang diinginkan calon mempelai.
"Kenapa tidak ada yang kosong. Kalian cari mati ya!' bentak pria itu murka.
"Tapi, memang begitu Pak! Semua tanggal penuh, tidak ada yang kosong, mungkin bisa minta numpang nikah di daerah lain," saran petugas KUA.
"Kau pikir aku tak melakukannya?' bentak Virgou lagi.
"Sudah sepuluh kantor catatan sipil untuk mencatat pernikahan anak kami, semua bilang penuh di bulan yang sama!' lanjutnya marah-marah.
Gomesh dan Dav yang bersama pria itu sampai harus menahannya agar tak menghancurkan meja.
"Kantor apaan ini! Masa mau nikah dipersulit!" protesnya.
"Jika anda mau menunggu, sekitar enam bulan lagi paling cepat, tapi paling lambat bisa satu tahun," jelas petugas itu.
"Sungguh, Pak. Kami tak bisa menyelipkan nama calon pengantin di data kami. Semua sudah penuh dan tak ada tanggal dan jam yang kosong!' sahut petugas itu lalu memberikan catatannya yang penuh dengan nama orang-orang menikah!" lanjutnya.
Virgou ditarik keluar oleh Gomesh dan David. Keduanya menenangkan pria itu.
"Ambil bensin!" titahnya.
"Buat apa?" tanya Gomesh heran.
"Aku bakar kantor ini!" ujarnya.
David langsung menarik kakaknya itu, masuk mobil. Gomesh lalu melarikan mobil itu menjauh dari kantor yang tak memiliki salah apa pun.
"Semua daerah yang punya kantor KUA kita sudah datangi dan tak ada satu pun hari yang kosong. Semua buku penuh hingga enam bulan ke depan," ujar Virgou lemas.
"Gimana kalo nikah siri?" saran Gomesh.
"Kau pikir, mereka siapa? Darren CEO, Aini Dokter. Apa kata orang? Mau sebenar apa pun, itu akan berimbas ke depannya, bahkan bisa mempengaruhi usaha keduanya. Mereka itu bukan orang biasa saja!" tekan Virgou kesal dengan saran pengawalnya itu.
"Terutama putraku adalah putra terbaik, masa iya nikah siri. Sah sih ... tapi, kok kesannya dia hamili Aini?" keluhnya.
Virgou takut akan omongan orang. Terlebih ia melihat berita viral seorang artis yang mengandung ketika menikah secara resmi. Hingga banyak berita buruk mencoreng artis pendatang baru tersebut. Setelah, ditelusuri ternyata mereka sudah menikah Sirri.
"Sir itu rahasia. Apa iya, Darren mesti merahasiakan pernikahannya sampai setengah hingga satu tahun lamanya?"
Baik Dav dan Gomesh diam mendengar hal itu. Semua orang takut dengan stigma masyarakat. Tapi, begitu lah jika hidup bersosial. Orang akan langsung menilai tanpa mau tau proses yang dijalani.
Sedang di rumah sakit, Gio berubah dingin pada Aini. Ia selalu berlaku formal pada gadis itu juga dengan dua adiknya. Pria itu membatasi dirinya. Ia juga sudah menghukum dirinya.
Setelah pulang dari mengawal nonanya. Gio mendatangi markasnya. Ia melapor jika dirinya nyaris berkhianat.
"Berkhianat apa?" tanya komandan regunya.
"Saya harap, hukum saya saja, Komandan!" ujar Gio.
Pria itu diarak oleh para punggawa dengan pakaian hitam-hitam. Mereka semua memakai topeng, hingga Gio tak mengenali semuanya. Satu persatu punggawa itu memecut tubuh pria itu dengan rotan. Itulah hukuman yang diterima bagi seorang yang mengakui dirinya ingin berkhianat.
Gio memilih dihukum sekejam itu, agar bisa membunuh perasaannya.
Tubuhnya sudah bersimbah darah karena lecutan rotan. Pria itu nyaris tak sadarkan diri. Tapi, Gio menguatkan hati dan mentalnya.
"Aku harus kuat. Aku tak boleh kalah dengan perasaan yang salah ini!" tekadnya dalam hati.
"Pagi, Om Gio!' sapa Ditya dan Radit.
"Pagi juga Tuan muda Ditya, Tuan Muda Radit!" balas pria itu tegas.
"Pagi, Mas," sapa Aini dengan senyum indah.
"Selamat pagi, Dok!" balas pria itu lali menunduk hormat.
Waktu berjalan seperti biasanya. Hanya saja Gio tak seramah sebelumnya, pria itu menjadi datar dan dingin dalam pandangan Aini.
Akhirnya, waktu pulang tiba. Aini melihat dua adiknya yang tertidur. Ia membangunkan keduanya.
"Dek, yuk bangun."
"Ngantuk, Mba!' rengek Radit.
Memang, gadis itu pulang sedikit malam. Pasiennya tiba-tiba membeludak.
"Ditya, bisa jalan sendiri nggak? Mba mau gendong Radit."
Ditya setengah terpejam. Ia pun berdiri. Aini memasang jaket pada dua adiknya. Ia melihat keluar. Gio masih ada di sana. Biasanya pria itu akan sigap membantunya. Tetapi, pria itu tak menghadap jendela ruang Aini, Gio menatap pintu praktek nona mudanya.
Dengan susah payah, ia menggendong Radit dan menggandeng Ditya yang jalannya terpejam. belum lagi ia harus membawa tasnya. Hendra heran melihat rekan kerjanya yang biasanya sigap menolong. Tapi tatapan pria itu masih fokus pada pintu ruang praktek Lidya. Hingga pintu itu terbuka, Gio membungkuk hormat, walau hal itu membuatnya kesakitan luar biasa, karena luka bekas lecutan belum sembuh benar.
"Selamat malam, Nona," sahutnya.
Hal itu pun dilakukan oleh dua pengawal lainnya. Karena itu lah standar SOP pengawal.
"Astaga, Kak Aini!"
Lidya langsung mengambil Radit yang nyaris terjatuh dari gendongan gadis itu. Baru lah Hendra menolong nonanya untuk menggendong Radit, dan Rio menggendong Ditya yang juga nyaris jatuh.
Gio tetap menunduk hormat pada Aini.
"Om kok nggak bantuin Kak Aini?" tanya Lidya heran.
"Maaf, Nona. Tapi, saya kena tegur kemarin karena mengabaikan standar kami sebagai pengawal nona!" jawab Gio tegas.
"Walau atas perintah Iya atau Kak Darren?' tanya Lidya.
"Sayangnya begitu, Nona. Seusai perjanjian kerja, kami mengawal anggota keluarga Nyonya Hugrid Dougher Young!" sahut Gio lagi dengan nada menyesal.
Aini kini mengerti.
"Kalau begitu saya minta maaf, jika karena membantu saya, Tuan Prakoso terkena masalah," ujar Aini dengan nada menyesal dan sedikit serak.
Gio hanya menundukkan kepalanya. Setitik bening jatuh di sudut mata gadis itu. Ia pura-pura kelilipan debu, lalu mengucek matanya hingga merah.
"Kita anter aja, ya!" ajak Lidya.
"Tidak usah repot-repot, Dok. Saya terbiasa membawa mereka dalam keadaan tidur," sahut Aini cepat.
"Kak," panggil Lidya.
Gadis itu keras kepala dan mengambil Ditya terlebih dahulu dan di letakan pada kursi khusus yang terikat kuat. Setelah yakin adiknya aman. Ia pun duduk terlebih dahulu, baru meminta Radit. Dengan selendang, ia membebat adiknya ke pinggangnya. Meletakkan kepala sang adik sedemikian rupa di dadanya. Radit duduk menghadap dirinya.
Lidya tak bisa memaksa. Bahkan Gio yang biasanya perhatian pada calon kakak iparnya juga dari tadi diam tak membantu. a
Motor itu melesat meninggalkan halaman parkir rumah sakit.
"Nona," panggil Gio menyadarkan Lidya.
"Kita ikuti dia, hingga sampai rumahnya!" titah gadis itu lalu masuk dalam mobilnya.
Perlahan, kendaraan roda empat itu pun meninggalkan halaman rumah sakit, dan mengikuti motor Aini hingga sampai rumahnya dengan selamat. Barulah mobil itu pulang ke rumah. Putri tak masuk hari ini, ia mengantar pulang ayahnya tadi siang dan akan kembali bekerja besok pagi.
bersambung.
Gio 😱
next?