TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KUMPUL KELUARGA



Bram juga datang bersama Kanya, ia membawa banyak hadiah untuk anak-anak. Semua anak bersorak kegirangan.


"Tate badiahna banat bamat!" seru Samudera menatap begitu banyak hadiah.


"Pilihlah sayang," ujar Bram.


Samudera mengambil bola. Masing-masing anak mengambil masing-masing hadiah mereka. Lidya sedang dipeluk oleh Kanya. Menciuminya. Rion sampai heran kenapa semua orang menangis ketika melihat kakak perempuannya itu.


"Nggak Oma, Daddy, Mommy, Baba, Kakek, semua nangis pas lihat Kak Iya. Ada apa sih?" tanyanya penasaran.


"Tidak apa-apa, sayang. Karena hari ini, Kak Lidya telah menjadi lebih dewasa," jawab Gisel sambil mengelus kepala Rion.


"Tambah dewasa. Kak Iya ulang tahun?" tanya Rion lagi tak mengerti.


"Kakak sudah mendapat siklus pertamanya," jawab Terra kemudian.


"Oh," sahut Rion lalu mengangguk, ia mencoba mengerti walau masih tak paham juga.


"Nona, selamat menjadi gadis besar ya," ujar Gomesh lalu memberinya satu kuntum bunga mawar merah.


Lidya langsung menerimanya. Banyak mata memandang horor pada pria tampan berkulit coklat itu. Gomesh tak peduli karena Lidya malah memberi kecupan di pipi pria itu.


Haidar, Virgou dan Budiman hanya bisa berdecih kesal. Sedang Herman hanya memutar mata malas.


"Jangan terlalu over protective, nanti dia kabur lagi," sahutnya.


"Emang ayah nggak?" sindir Haidar malas.


Herman hanya terkekeh. Darren yang sedang bermain dengan adik-adiknya juga memutar malas pada empat pria yang memang terlalu posesif.


"Sama anak perempuan seperti kita memegang batu mulia. Ingin diperlihatkan, namun tidak boleh dimiliki," ujar Herman berkias.


Haidar, Virgou dan Budiman mengangguk. Mereka memang akan menjaga anak perempuan mereka dengan sangat ketat. Menjaga pergaulan mereka.


"Ribet ya jadi perempuan," sahut Sean tiba-tiba.


"Hush ... Mama perempuan loh. Dan Mama nggak merasa ribet," sahut Terra.


"Mama mah beda," sahut Kean.


"Mama tulunan pupelmen," sahut Dimas menimpali.


Semua tersenyum mendengar perkataan Dimas. Terra mencium gemas balita yang baru berusia empat tahun itu.


"Mama butan pulunan bupelmen. Pati pulunan podel pomen!" Sela Maisya.


"Mama pipidelmen!" sahut Dewi dengan meniru gaya tokoh manusia laba-laba.


"Butan, Mama tapten bamelita!" sahut Dewa ngotot.


"Ipu Baba yan bapten bamelita!" sahut Samudera tak terima.


"Baba Hulut!" ujar Affhan meniru gaya raksasa hijau itu.


"Daddy Thon!" seru Kaila.


Sedang Baby Ella tengah sedikit mengerut kening karena berisik. Gabe di sana bersama istri dan anaknya.


"Daddy bukan Thor," sela Virgou menggeleng.


"Daddy adalah Yudistira!" lanjutnya sambil memperlihatkan ototnya.


Semua anak terdiam. Mereka tak mengenal tokoh Pandawa Lima.


"Kalau Papa adalah Arjuna," sahut Haidar juga memamerkan otot-otot bisepnya.


"Ayah adalah Bima. Dia lah Raja dari semua saudaranya," sahut Herman sambil mendongakkan dagunya.


"Ipu spasa sih?" bisik Dewa pada kakaknya Dimas.


Dimas mengendikkan bahunya. Kesalahan orang tua, tidak mengenal tokoh pewayangan.


"Siapa yang mau oke-oke?!" tiba-tiba Rion berteriak.


"Nai!"


"Sean!"


"Rimbi!"


"Pimas!"


"Pewa!"


"Mai!"


"Affhan!"


Semua anak menyebut nama mereka. Hanya Ella yang belum bisa bicara. Darren langsung memasang alat karaoke. Semua harus siap tahan tawa. Karena kini, bukan lagi Rion yang akan marah tetapi, Affhan.


"Maisya buluan ya," pinta balita itu antusias.


Lagu bintang kecil pun menjadi pilihan.


Lagu pertama selesai. Kini Dimas yang ingin bernyanyi. Semua sudah tak bisa duduk dengan benar. Bahkan Widya yang baru pertama kali mendengar lagu yang sudah berubah liriknya itu duduk lemas karena menahan tawa.


"Lagu apa Baby?" tanya Darren sambil tersenyum.


Lidya sedang duduk menyender pada Khasya. Puspita juga ikut menyender karena lemas menahan tawa. Sedang di ruang paviliun, Robert tak tahan untuk tidak tertawa hingga dia mengeluarkan air mata, begitu juga rekan-rekannya.


"Ladhu bihat bebuntu!" jawab Dimas yakin.


Lagu lihat kebunku dimulai.


"Pihat bebuntu .. benuh penan puna ... bada yan tupih ... pan bada yan pelah ... bebiat pali ... tusilam pemuwa ... bawal betati ... pemuana pindah!"


Budiman tak bisa menahan tawanya. Ia menutup wajahnya dengan bantal. Herman juga mulai mengacak rambutnya, sedang Virgou mengigit bantal karena tak bisa menahan tawanya. Haidar sudah tak bisa bergerak. Ia duduk di sisi istrinya yang juga lemas.


Bram dan Kanya bertepuk tangan bersorak untuk menipu Affhan. Akhirnya semua pun bertepuk tangan.


Nyanyian berhenti karena waktu makan siang. Para pria menggelar kasur lipat. Rion akan mendongeng nanti untuk pengantar tidur siang mereka. Semua makan siang dengan tenang.


Usai makan, mereka menyanyikan satu lagu lagi, kini Samudera ingin bernyanyi.


"Lagu apa Baby?" tanya Darren.


"Bicak-picak pi lindin!'' jawab Sam antusias.


Lagu cicak di dinding pun diputar.


"picak picak di pindin ... biam-piam bewawap, tantan peletol mamut ... hap balu pi kakap! ...


bicak picak bilidin .. piam-piam bewawat ... patan peletol banyut ... hap palu bi bantap!"


"Pewi bawu banyi!' rengek Dewi. Ternyata bayi baru berusia satu setengah tahun itu juga ingin mengeluarkan suara emasnya.


"Oteh, ladhu apa Baby?" tanya Darren lagi sambil tersenyum.


Dewi tampak berpikir. Ia tak tahu lagu anak selain satu-satu aku sayang ibu, yang selalu dinyanyikan ayahnya..


"Lagu biasanya saja, Dar," sahut Herman.


Darren langsung memasang lagu yang di maksud. "Satu-satu aku sayang ibu.". Musik pun mengalun.


"Tatu-tatu atu payan bibu ... puwa ... buwa, duta tayan bayah ... bida pida ... payan dadit pata ... batu puwa pida ... bayan bemuana!"


Semua bertepuk tangan meriah. Dewi kesenangan bukan main.


"Baby Dewa juga mau nyanyi?" tanya Darren kini menawarkan bayi satunya.


Dewa menggeleng. Ia sudah menguap. Kini Rion yang maju mengambil mik. Ia sudah menyiapkan cerita yang bagus untuk semua adik-adiknya.


"Pada jaman dahulu kala hiduplah seorang putri yang buruk rupa dan perangainya. Ia punya ibu tiri yang baik hati juga sangat sayang padanya.


Hingga suatu hari ada pasukan kerajaan yang mengumumkan ingin mencari gadis yang akan dijadikan permaisuri.


Sang ibu tiri sangat antusias, ia ingin putrinya juga ikut serta.


"Apa ibu tidak salah. Aku ini buruk rupa Bu!" tolak putri itu mendengar rencana ibunya.


"Tapi, Nak. Kamu adalah putriku yang paling cantik, kau lah yang pantas menjadi permaisuri," jelas sang ibu," Rion menatap adik-adiknya yang masih setia membuka mata dan mendengar ceritanya.


"Apa Ibu ingin aku dibunuh Raja jika mengikuti sayembara itu! Agar semua harta ayah kau kuasai!" tuduh sang putri kejam pada ibu tirinya." Rion berhenti lagi.


Belum ada satu pun mata menutup. Para balita dan lainnya masih ingin mendengar cerita hingga akhir. Rion pun kembali melanjutkan ceritanya.


"Sang ibu sedih bukan main. sebenarnya, ia yakin jika putrinya itu sangat cantik. tetapi karena ia dikutuk jadi lah ia seperti itu.


"Putriku, kau adalah putri yang cantik percayalah, Nak," ujar sang ibu lalu mencium kening putri tirinya dengan penuh kasih sayang.


Akhirnya sang putri mau ikut ke pesta itu. Sang ibu terus menari dan bernyanyi seperti orang kesurupan. Mengatakan jika putrinya sangat cantik jelita. Hal itu membuat sang putri bersedih.


"Ibu jangan seperti itu. Sudah tidak apa-apa, aku memang buruk rupa," ujar sang putri keluar dari kereta kuda yang membawanya.


Putri memeluk ibunya dan menangis. Sang ibu hanya memejamkan matanya, bersiap para algojo menyarungkan pedang ke leher mereka berdua. Tetapi, yang ditunggu tidak juga terlaksana.


Si ibu heran. Ia menatap orang-orang memandang penuh pemujaan. Ia pun melihat sang putri yabg berubah menjadi cantik jelita. Sang pangeran langsung membawa mereka berdua.


Putri langsung menikah dengan pangeran saat itu juga dan hidup bahagia selamanya. Sedangkan sang ibu juga kini bahagia di hari tua nya," Rion menghentikan cerita.


Semua anak sudah terlelap.Bahkan Lidya dan Darren ikut tertidur di sana. Kini, bocah lelaki itu garuk kepala.


"Terus, yang ceritain dongeng ke Ion siapa?" tanyanya gusar.


Bart terkekeh. Ia memanggil bocah itu dan mengecupnya.


"Sekarang kamu bobo ya," titah Bart.


Rion mulai menguap lalu mengambil tempat menyelip di antara saudaranya lalu tak lama ia pun tertidur.


bersambung.


inti cerita Rion ... keajaiban akan datang bagi yang yakin dan sadar akan kekurangannya.


next?