TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KEDATANGAN BART DOUGHER YOUNG



SEBENERNYA PART INI BANYAKAN BAHASA INGGRIS NYA. BERHUBUNG OTHOR MALES TRANSLATE JADI KITA PAKAE BAHASA INDONESIA AJA YAA ... HAPPY READING!


*********************


Hari berganti, waktu berlalu. Hari ini adalah hari jumat, sesuai kabar, jika ayah dari mendiang Ben Hudoyo akan datang.


Terra dan Bram juga Haidar beserta Sofyan sudah datang menunggu kedatangan keluarga Dougher Young.


Kedatangan dua jet pribadi datang mendarat selang satu jam. Semua menunggu di ruang yang telah disediakan. Terra berdegup kencang menanti kedatangan kakek dan keluarga yang tak pernah ia temui. Bahkan ia baru tahu, jika ia masih memiliki sebuah keluarga.


Pintu terbuka. Seorang pria berusia tujuh puluhan masuk ruangan. Terra meneteskan air mata. Ben versi tua terlihat dipandangan gadis itu.


"Honey," panggil pria itu pada Terra.


Suara berat dan serak. Terra hanya bergeming. Kakinya gemetaran. Haidar menggenggam tangan gadis itu, memberinya kekuatan.


"Terra Arimbi Hugrid Dougher Young," panggil pria itu.


"Grandpa," saut Terra dengan suara bergetar.


Bart memeluk Terra erat. Gadis itu membalas pelukannya, tubuhnya tak berhenti bergetar.


"Kau mirip sekali dengan Ayahmu. Kau adalah dirinya versi perempuan," kekeh Bart.


Gadis itu menarik kedua sudut bibirnya. Mengulas senyum terbaik.


"Bahkan senyummu pun mirip dengannya," lanjutnya lagi.


Bart tak berhenti mengusap wajah gadis itu. Haidar berdehem. Pria itu akhirnya tersadar.


Bart tidak datang sendiri. Ia juga membawa dua putra beserta menantunya dan sepuluh pengawal pribadinya.


Istri Bart sudah tiga tahun lalu meninggal dunia. Ia tinggal di sebuah pedesaan di kota London. Semua keluarga tinggal satu atap dengannya.


"Halo Mr. Dougher Young. Saya Bram, calon besan anda," ucap Bram memperkenalkan diri.


"Saya Haidar, saya calon suaminya," Haidar memperkenalkan diri juga.


"Saya, Sofyan. Pengacara mendiang Tuan Ben dan sekarang pengacara Terra, cucu anda.


Bart memperkenalkan dirinya juga. Dua putra bersama dua menantunya.


"Aku, Leon Christian Dougher Young. Aku adik dari Ben."


Seorang pria tampan dengan tubuh tegap. Warna rambut coklat dan kulit Tan. Suara serak dengan berewok di dagu. Mata biru dengan alis lentik juga hidung mancung. Tampan. Berusia sekitar tiga puluh lima tahun.


"Aku istri Leon, Patricia Berhoven."


Seorang wanita cantik dengan rambut pirang, mata biru dan hidung mancung. Kulitnya juga putih. Tubuhnya hanya setinggi telinga Terra. Cantik.


"Aku Frans Philip Dougher Young, aku kakak dari Ben."


Seorang pria gagah dengan tinggi 188cm dan berat 80kg. Kekar dan tegas. Sorot mata tajam, bibir tipis dan rahang kokoh. Sekilas pria ini mirip Virgou. Tampan luar biasa.


"Aku istri Frans. Meita Eliza Vermont."


Seorang wanita cantik dengan rambut kecoklatan, sesuai dengan iris mata senada. Hidung mancung dengan bibir penuh. Wanita itu hanya menatap datar Terra.


Mereka berangkat bersama dengan empat mobil. Terra tentu menaiki mobilnya sendiri Paje** sport. Lagi-lagi Meita menarik bibir tipis, mencela gadis itu. Frans yang melihat menegur istrinya.


Meita menunduk. Wanita itu tentu takut pada sang suami. Sedang Bart ingin satu mobil dengan Terra.


Budiman menjadi sopir Terra. Bart mengenal Budiman. Ia juga mengambil bodyguard di tempat perusahaan pengawal gadis itu mengabdi.


"Kamu di sini, Tuan Samudera?" sapa Bart dengan senyum ramah.


"Benar Tuan. Sekarang saya bekerja menjaga Nona Terra," saut Budiman.


Mobil berjalan beriringan. Mereka pergi menuju restoran yang di maksud. Setelah sampai.


Bram mengajak semuanya masuk ke ruang VVIP yang sebelumnya telah direservasi.


Mereka memesan makanan sesuai dengan selera masing-masing, kemudian memakan makanan tersebut.


Restoran yang berada pada sebuah hotel internasional yang ternyata salah satu milik Bram. Pria itu sudah memesan satu blok kamar untuk tamu-tamu Terra beristirahat.


Bart ingin bercengkrama lebih lama dengan Terra. Namun gadis itu ada kelas siang ini. Maka ia minta ijin untuk kuliah lebih dahulu.


"Te, harus kuliah Grandpa. Bagaimana jika besok saja ketika weekend, kita bercengkrama bersama.


"Apa Grandpa suka mancing atau piknik?' tanya Terra.


"Aku hanya ingin bersama denganmu dan bercerita banyak," jawab Bart.


"Kalau begitu, kita akan ke rumah Te. Ada yang ingin Te perkenalkan dengan Grandpa," ucap Terra.


Bart cukup terkejut jika Terra memiliki sebuah rumah. Pria itu berpikir, Ben telah memberikan cucunya ini harta warisan yang lumayan.


Keluarga Dougher Young pun diantar oleh Bram dan beberapa pegawai hotel menuju kamar mereka.


Mendapat satu blok kamar dengan pemandangan fantastis. Bart senang, bahkan ia mengagumi design kamarnya.


Pria renta itu meyakini, jika calon suami cucunya merupakan seorang konglomerat. Hingga mampu menjamu mereka dengan kemewahan seperti ini.


Meita sedari tadi mengagumi. Ia tersenyum sinis.


"Pintar juga kemenakan mendapat pria kaya," cibirnya pelan.


"Tentu, dia juga cantik dan pantas mendapat yang terbaik bukan!" sergah Frans pedas.


Pria itu tidak menyukai istrinya itu. Hanya karena perjodohan bisnis, ia harus menerima wanita yang sudah memberinya satu putra itu.


"Jaga batasanmu Meita!' Frans memperingati istrinya.


Meita terdiam. Wanita itu makin tidak menyukai Terra. Terlebih Bart langsung mengumumkan berapa kekayaan yang harus diterima oleh Terra sebagai pewaris Ben.


"Menyebalkan. Gadis manja terlihat sekali," cibirnya walau hanya berani dalam hati.


bersambung.


hadeh ... mau kenalan sama Terra, Meita?


next?