
Leana tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri. Budiman cukup terkejut dibuatnya.
"Leana!"
Tiga buah suara meneriaki nama wanita itu. Budiman menoleh asal suara. Mengernyit heran. Nyonya Triana Suherman bersama dua teman Leana yang Budiman kenal. Andita dan Felia. Dua gadis yang dulu selalu menghina dirinya.
Budiman hendak menyentuh Leana. Namun segera Triana meneriakinya.
"Jauhkan tangan kotormu dari putriku!"
Budiman pun mengurungkan niat. Tiga wanita beda usia itu mengerumuni Leana. Sang ibu menangis melihat putrinya pingsan.
"Hei ... kenapa malah diam saja! Bantuin dong!" teriak Andita pada Budiman.
"Tapi, Nyonya Triana melarang saya tadi," Budiman enggan menolong.
"Cepat kau panggilkan ambulan, Andita!" titah Nyonya Suherman.
"Iya, Tante," ucap Andita langsung menelepon ambulan.
Budiman pun mengamit tangan Didi. Berniat meninggalkan mereka yang heboh sendiri.
Tak lama kemudian ambulan pun datang. Mereka membawa Leana pergi dari sana. Nyonya Suherman langsung mengikuti Leana di dalam mobil ambulance tersebut.
Felia menatap Budiman. Matanya memindai pria itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Baju Kumal dan wajah dicelemoti tanah. Felia yang memang sedikit lebih cerdas dari Leana, langsung tahu jika Budiman tengah menyamar. Sedang Andita mengamati temannya yang kini memandangi Budiman.
"Hei ... kenapa lu liatin dia?" tanya Andita penuh selidik.
Andita menatap Budiman juga. Ia juga merasa ada keanehan pada penampilan pria itu.
"Lu lagi nyamar kan?" tanya Felia cepat pada Budiman.
"Bukan urusan kamu," saut pria itu lalu melangkah hendak meninggalkan mereka berdua.
"Li beneran nggak mau tau, kenapa Lea bisa punya ide gila kek gini?' tanya Andita kemudian.
"Kalo Lo pengen tau. Kita ketemu di cafe Brena di jalan xx, tempat dulu lu suka ajak kencan Leana, jam tujuh malam!" ucap Andita lagi.
Mereka berdua pun pergi setelah mengatakan hal itu. Budiman pun mengamit Didi, ia mengantarkannya ke rumah sakit di mana ibunya dirawat.
Waktu terus bergulir. Kini Budiman telah berada di cafe di mana ia dan Leana selalu menghabiskan waktu berdua. Walau tidak melakukan apa-apa. Tapi, hanya memandanginya saja, pada saat itu membuat Budiman merasa bahagia.
Seorang pramusaji yang sudah mengenalnya, datang menyapa.
"Selamat malam Mas Samudera, apa pesanan seperti biasa?" tanya pramusaji bernama Adrian.
Budiman menggeleng. "Saya mau cafelate mix Chocolatie hangat, ya."
"Ah, mau menenangkan pikiran ternyata. Baik ditunggu pesanannya, ada lagi, Mas?" tanya Adrian ramah.
"Tidak. Itu saja, terima kasih," jawab Budiman sambil tersenyum.
Ia melihat benda melingkar bermerek rolex berlapis emas dan perak. Masih setengah jam lagi. Ia tadi telah meminta ijin untuk pergi keluar.
"Mau kemana?" tanya Haidar menatap tajam Budiman.
Melihat setelan mahal dan sangat berkelas menjadikan, pria berusia satu tahun lebih muda dari Haidar menjadi sangat tampan, hingga membuat suami dari kliennya itu curiga.
"Nanti saya, akan ceritakan semuanya, Tuan," jawab Budiman lagi.
"Om Pudi mo nana?" tanya Rion melihat dirinya rapi.
"Om Budi danten setali," puji Lidya dengan mata berbinar.
Budiman serasa terbang dibuatnya lalu melirik Haidar dengan penuh kemenangan. Haidar sampai berdecih melihat tatapan pria itu. Terra hanya tersenyum.
"Pokoknya, Kakak nanti pulang, Te tagih penjelasan seluruhnya," pinta Terra tegas.
"Siap, Nona," jawab Budiman.
Budiman tersenyum dengan keluarga tempatnya bekerja. Penuh kehangatan yang tulus. Berbeda dengan ....
"Aku tak boleh membedakan orang lain. Mereka tentu punya kekurangan dan kelebihan masing-masing," ujarnya bermonolog.
Namun ingatannya melesat ke tujuh tahun yang lalu. Ketika itu ia baru saja lulus SMA. Ia menolong seorang pria yang kecopetan.
Budiman adalah anak yang tinggal di sebuah rumah singgah. Ia berhasil melarikan diri dari rumah yang seperti neraka itu. Di mana ia mendapatkan kekerasan dari ayahnya sendiri.
Ayahnya melukai tangan Budiman dengan sebuah pisau besar.
"Potong saja tanganmu yang tak berguna itu!' teriak ayahnya saat itu.
Budiman ingat sekali bagaimana cara sang ayah menarik tangannya dan hendak memotong pergelangan tangannya waktu itu.
Perlahan ia mengusap luka, yang tiba-tiba terasa perih kembali. Namun, kemudian rasa perih itu hilang ketika terlintas senyum manis Lidya diingatkannya.
Luka ini yang tak bisa disentuh oleh siapapun. Bahkan Leana yang ketika itu mencoba menyentuhnya saja, langsung mendapat sentakan kasar darinya.
Kembali mengingat saat pertama bertemu Suherman. Pria itu langsung mengajaknya bekerja untuknya.
Budiman yang memang tidak memiliki kerabat. Ia langsung saja menerima ajakan dari pria yang baru saja ia tolong.
Ketika ia datang. Tak ada keramahan sedikit pun ia dapatkan, baik dari istri Suherman atau pun Leana, putrinya.
Menempati kamar paling belakang. Ia pun tinggal bersama Suherman sebagai pesuruh.
Lambat laun, Budiman yang memang rajin dan tekun. Membuat Suherman senang akan kepintarannya. Ia pun beralih menjadi tangan kanan pria itu.
Semenjak itu Leana semakin sering bertemu dengannya. Rasa sukanya ia pun utarakan, Leana menerima perasaan dari Budiman.
Lagi-lagi, Budiman tersenyum. Entah apa arti hubungan mereka sebenarnya. Ia adalah kekasih Leana, tetapi memperbolehkan wanita itu memiliki kekasih yang lain.
Menghinanya ketika berada bersama teman-temannya. Tapi, ia diharuskan selalu ada untuk Leana jika dibutuhkan.
Makanya, ketika ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan melamar menjadi bodyguard. Leana selalu mengancam untuk minta putus karena waktu yang tidak pernah ada untuknya.
Pesanannya sudah ada di meja lima menit lalu. Ia menyesapnya sambil melihat arah pintu cafe.
Lagi-lagi ia ingat, setiap mengajak kencan Leana di tempat ini. Ia harus menunggu hingga pernah sampai tempat ini tutup karena wanita itu tak datang.
Sekarang ketika jam pertemuan lewat lima belas menit. Ia tak yakin jika dua wanita teman Leana itu akan datang. Tapi, ternyata dugaannya salah. Andita dan Felia muncul.
Mereka didatangi salah seorang pramusaji. Budiman melihat pramusaji itu langsung menunjukkan dirinya.
Felia dan Andita tertegun dengan penampilan Budiman yang benar-benar berkelas. Mereka sampai menabrak kursi saking terpesonanya.
"Aduh ... kenapa sih Lu dorong gue!" seru Andita sengit.
"Kaga ... gue ...."
"Silahkan duduk, jangan buat keributan di sini!" titah Budiman penuh ketegasan.
Dua wanita itu seperti terhipnotis, mereka duduk dengan manis. Seorang pramusaji meletakan minuman yang telah dipesan oleh Budiman.
Mereka tersenyum lebar mendapat minuman itu.
"Kamu masih ingat minumanku?" tanya Felia tak percaya.
Budiman sedikit mengernyit, Felia merubah gaya bicaranya kini.
"Iya, kamu juga masih ingat minuman favorit aku," ujar Andita sambil tersenyum.
Lagi-lagi, Budiman terheran. Dua perempuan ini merubah gaya bicaranya. Ia pun menoleh ke arah kaca besar di sampingnya. Terlihat gayanya yang memang sangat berkelas. Kini ia tahu kenapa dua wanita ini merubah gaya bicaranya.
"Sekarang silahkan minum dan jelaskan ada apa sebenarnya?" tanya Budiman langsung.
"Sabar sih. Kita juga baru dateng. Santai kali, ah," saut Felia sok akrab.
"Tapi, saya tidak ada waktu menunggu. Saya banyak pekerjaan. Jika tidak ada yang penting ...."
"Ish ... iya-iya, kita bakalan ngomong kok," ujar Felia langsung memotong perkataan Budiman.
"Leana hamil!"
bersambung.
Dooorrr!
next?