TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENGGODA SANG CEO



Darren tengah mengikuti mata kuliahnya. Beritanya tentang dirinya yang sudah menjabat CEO di perusahaan besar, membuat banyak mahasiswa dan mahasiswi berebut perhatiannya. Mencoba peruntungan, siapa tahu bisa masuk tanpa seleksi ketat.


"Dar, di perusahaanmu ada lowongan nggak?" tanya salah seorang mahasiswa.


"Ada sih, banyak. Kalian kalo mau bersaing mesti lulus dulu," jawab Darren santai.


"Aku nitip lamaran ke kamu boleh nggak?" tanyanya lagi.


"Lah, kamu kira, saya tukang pos gitu?" sahut Darren aneh.


"Yaa, bukan gitu. Kan kamu direkturnya. Jadi kalo kamu yang bawa pihak HRD pasti bakalan misahin dan lolosin. Ayo lah, bantu kawan, nggak dosa kok," rayunya.


"Wah, aku dapat apa nih, kalo berhasil bawa berkas lamaran kamu?" tanya Darren mulai bernegosiasi.


"Hah, masa kamu minta sih, kan udah Boss. Masa mau minta japuk lagi?" pria itu masih berusaha membujuk.


"Wah, iya dong. Saya mesti dapat sesuatu, karena gara-gara saya kamu bisa masuk kerja tanpa seleksi ketat dan bersaing dengan ribuan pelamar lain," jelas Darren tetap dalam pendiriannya.


"Ah, nggak asik kamu Dar. Padahal kemarin kamu menggaungkan anti suap dan korupsi. Sekarang malah kamu minta sesuatu dari pelamar itu sendiri," sahut pria itu mulai kesal.


"Loh, sekarang yang mencari keuntungan siapa, saya atau kamu?"


"Ya, kamu lah. Karena berusaha meminta sesuatu dari saya," jawab pria itu mulai naik suaranya.


"Kalau begitu jangan minta saya membawa surat lamaran kamu, karena artinya sama," sahut Darren enteng.


"Ya beda lah, itu namanya kamu nolong temen!" sentaknya.


Darren menggeleng tak percaya. Bagaimana mana bisa pria yang mestinya jauh lebih tahu apa arti memanfaatkan, malah bertingkah menyebalkan.


"Maaf, silahkan melamar sesuai prosedur ya," ujar Darren tegas.


"Alah ... sok kamu. Dasar sombong! Nggak punya hati. Orang minta tolong, juga!" bentaknya menghina.


"Minta tolong kok maksa," sindir Darren lagi.


"Halah, bilang aja emang dasar, orang kaya. Seakan dunia milik dia. Berlaku seenaknya sama orang miskin!" sentaknya makin ngawur.


Darren memasukkan semua alat tulisnya di ransel. Ia rasa sudah cukup untuk meladeni mahasiswa stress ini. Ia pun melangkah melewati pria yang berdiri di hadapannya.


"Hei, gue belum selesai bicara!" sahutnya sambil menarik tas Darren.


Gio yang melihat tuannya sedang dalam bahaya, langsung merangsek ke dalam kelas dan mencekal tangan pria itu hingga melepaskan tali ransel Darren. Sedang Dahlan dan Felix langsung mengamankan tuan mereka dan membawanya ke mobil.


Pria itu kesakitan karena tangannya dipelintir oleh Gio. Bodyguard itu memandang dingin mahasiswa yang kini meringis dan bersimpuh karena Gio menekan tangannya hingga sampai ke bawah.


"Sekali lagi, saya melihat anda mencoba mencelakakan atasan saya ...," Gio menghentikan ucapannya.


"Tangan ini bisa saya patahkan!" ancamnya.


Pengawal tampan itu melepas pergelangan yang ia cekal. Pria itu langsung berdiri dan mundur.


"Saya akan laporkan kekerasan ini dalam pihak dewan kampus!" ancamnya.


"Silahkan. Saya tunggu," sahut Gio tenang.


"Oh ya, jika anda ingin tahu. Perbuatan saya tadi tidak melanggar hukum sama sekali," lanjutnya sebelum pergi.


Mahasiswa itu meraba tangannya, hanya memerah saja, tapi tidak ada rasa sakit yang seperti tadi.


Haidar yang mengetahui jika putranya diserang langsung mendatangi mahasiswa yang memaksa Darren. Ia melaporkan pria itu pada dewan disipliner. Sebuah rekaman kamera pengawas menjadi bukti jika pria itu bersalah.


"Pa, jangan dilaporin sih. Itukan hanya masalah biasa. Namanya juga aji mumpung, hanya saja dua kelewatan. Coba mau diajak kerjasama," ujar Darren menyayangkan tindakan ayahnya yang terlalu melindunginya.


"Maksud kamu, kamu memang ingin jadi calo para pelamar?" tanya Haidar gusar.


Darren hanya terkekeh, ia memang selalu bisa menggoda ayahnya. Hingga pria dewasa itu jadi gemas pada Darren. Haidar mengacak rambut remaja itu kesal.


"Usil banget!" sindirnya.


"Nggak apa-apa, yang penting Papa sayang Darren," jawab remaja itu manja lalu memeluk ayahnya.


"Hais ... bisa aja kamu ini," ujar Haidar tak bisa berkutik.


Pria itu mendekap putranya dan mencium sayang kening Darren. Remaja itu makin tampan. Bahkan banyak pada dekan mau pun dosen yang memiliki putri seusia Darren meminta adanya perjodohan.


Hari berganti. Mahasiswa kemarin terkena skorsing. Semua jadi takut mendekati Darren. Padahal jelas itu memang salah. Makanya remaja itu tak begitu suka dirinya terlalu dilindungi ayahnya. Ia jadi tak punya teman.


"Hai, Dar!" sapa salah satu mahasiswi, bernama Cinta.


"Aku denger kemarin Jatmiko diskorsing gara-gara narik tas kamu ya?" tanyanya menyindir.


"Apa seperti itu berita yang tersebar?" tanya Darren sambil tertawa hambar.


"Ya, keknya gitu sih. Kamu kan anak rektor, udah itu cucu pemilik kampus ini. Terang lah, siapa pun yang berurusan denganmu bakalan dihukum. Aku sih yakin, jika tanpa ayah dan ibu kamu, kamu nggak bisa apa-apa," sindirnya sarkas.


"Emang kamu bisa ngapa-ngapain tanpa batuan orang tua?" tanya Darren penasaran.


"Bisa makan tanpa diajarin, berjalan tanpa ditatah dan mengenal tanpa ada yang membimbing?" lanjutnya penasaran.


"Kalo kamu bukan anak CEO, kamu nggak bakalan jadi CEO!" bentak Cinta kesal.


"Mark Zuckerberg bukan anak CEO tapi dia bisa menjadi CEO," sahut Darren acuh.


Cinta menghentakkan kakinya. Gadis itu ingin menyindir pria itu habis-habisan. Tapi, sepertinya senjata Darren begitu banyak. Hingga tak mampu dijatuhkan.


Gadis manis itu pun meninggalkan Darren. Remaja itu hanya menghela napasnya panjang. Ia memejamkan mata.


"Jika Mama tidak datang hari itu. Aku yakin, kini entah berada di mana dan adik-adikku pasti sudah diambil oleh orang lain," gumamnya pelan. "Ya, kau benar Cinta. Tanpa kedua orang tuaku. Aku tak akan bisa seperti ini."


Darren membereskan tasnya. Hari ini tidak ada lagi mata kuliah. Ia pun beranjak dari tempat itu. Di depan pintu Juan dan Felix sudah menunggunya.


Sedang di tempat lain. Rion tengah duduk di teras belakang rumah. Mengamati adik-adiknya yang mengerjai seluruh pengawal yang bertugas di sana. Semenjak dirinya terkunci di gudang. Haidar menyuruh para bodyguard bergantian berkeliling.


"Om Bobet!" panggil Nai.


"Saya Nona baby," sahut Robert lemas.


Pria itu tak bisa menahan tawa. Celoteh anak-anak terus membuatnya terpingkal.


"Om Pobet pahu, pedana pulan pama pintan?" tanya Nai.


"Tidak, Nona," jawab Robert langsung menyerah.


"Talo pulan ipu pulat taya telun ... pati talo pintan pelsinal taya tamu," ujar Nai menggombal.


Robert langsung meleleh mendengar gombalan anak dari atasannya itu. Pria itu pun membalas gombalan Nai.


"Nona, tahu kah perbedaan dari matahari dan Nona?''


"Peda lah Om Pobet. Nai ipu banusia butan batahali!' sahut Daud merusak suasana.


Lagi-lagi Robert tertawa terbahak-bahak. Pria itu selalu geli mendengar percakapan para bayi.


"Ih, pialin bulu, Om Pobet mawu bebombalin, Nai!" sahut Nai meminta pria itu melanjutkan gombalannya.


"Tidak ada bedanya Nona," jawab Robert setelah berhasil meredakan tawanya.


"Woh, tot pisa ditu?" tanya Sean penasaran..


"Karena, Nona Nai sama bersinarnya seperti matahari," ujar pria itu sambil tersenyum.


Nai memiringkan kepalanya. Ia tak mengerti maksud pria tampan yang sedang merayunya itu.


"Om Bobet baneh!" sahut Al mencibir.


Robert menatap balita yang menyebutnya aneh. Ia mengernyitkan dahinya.


"Nai ipu wowang Om Bopet danten. Butan bampu yan pisa nala!" protesnya.


Maka pria tampan bernama Robert itu pun kembali tertawa terpingkal-pingkal.


bersambung.


ribet urusan kalo adu debat sama quarto Pratama .


next?