
Frans berada selama empat bulan di Indonesia. Ia benar-benar menikmati hari cuti panjangnya. Bart dan Leon sampai menyusul pria itu dan menyerahkan semua urusan perusahaan pada asisten mereka. Sedang Meita, suami dan dua anaknya sudah pulang setelah tiga hari berada di sini.
"Kau ini!" ketus Bart kesal pada Frans yang menjemputnya di bandara. Ketiganya menginap di rumah Terra. Wanita itu yang memintanya.
"Aku yakin, kau menyuruh Grandpa, Daddy dan Uncle tinggal bersamamu agar ada yang mengawasi anak-anak mu kan?" sindir Virgou.
"Kakak benar sekali," jawab Terra menyeringai.
"Aku adukan pada Grandpa jika begitu!' sungut pria beriris biru itu.
Terra manyun mendengar ancaman Virgou.
"Bilang lah ... Te, akan membujuk Grandpa tetap menginap d rumah, Te!" sahutnya sambil menjulurkan lidahnya.
"Astaga, kenapa aku memiliki dia sebagai adikku?" tanya Virgou tak percaya.
"Memang, aku adikmu dan kau harus menyandang itu seumur hidupmu!' sahut Terra sengit.
"Hei, bisakah kalian diam?!' seru Khasya pada kakak beradik sepupu ini.
Keduanya diam. Khasya memandang keduanya dengan pandangan kesal.
"Di dalam sana Widya sedang uring-uringan, memarahi Gabe karena kesakitan!' serunya lagi memarahi.
"Waktu membuat itu, mereka tak ribut sama sekali. Kenapa sekarang begitu melahirkan, Widya memanggil semuanya. Bahkan juga Grandpa!" omel Virgou pelan.
Plak! Khasya memukul bahu Virgou gemas.
"Bunda ... sakit," rengek pria itu berdrama.
"Hais ... kalian ini," lagi-lagi Herman memarahi Virgou yang terlalu berisik.
Terra meledek kakak sepupunya itu, dengan menjulurkan lidahnya.
"Rasain!"
"Terra, kamu juga!' sentak Herman kesal.
Terra langsung kicep. Ia menunduk karena Herman memelototinya. Haidar hanya memutar mata malas. Biasanya dia dan Virgou yang berdebat kini istrinya. Semua menunggu kedatangan Bart, Frans dan Leon.
Widya ingin semua keluarganya ada di sini, bahkan Ibunya sudah berkali-kali mengocehinya karena putrinya itu selalu saja bikin keributan.
"Aku ingin Grandpa juga ada di sini!" seru Widya.
"Ayah!" pekiknya memanggil Herman..
Pria itu datang ke ruangan di mana Gabe mengelus perut istrinya. Gabriel membuka dua kamar agar semua keluarga bisa masuk.
"Ada apa, Nak?" tanyw Herman lembut.
"Ayah, Gabe tidak mengelus perutku dengan benar, marahi dia!" rengek Widya..
Sriani hanya bisa menggeleng kepala. Herman memarahi Gabe dengan menyuruh mengelus istrinya dengan benar.
"Elus istrimu! Jangan hanya mau menidurinya saja!"
"Ayah!' tegur Terra.
Herman melipat bibirnya. Ia lupa jika semua anak ada di sini.
Mestinya anak-anak ribut, malah justru yang berisik orang tua mereka. Darren, Lidya, Rion, Keanu, Calvin, Naisya, Sean, Al, Daud, Satrio, Arimbi, Dimas, Maisya, Affhan, dan Samudera duduk dengan tenang melihat perdebatan orang tua mereka.
Sedangkan, Dewa, Dewi, Rasyid, Rasya dan Kaila sedang terlelap di stroller mereka. Budiman dan Gisel yang menjaga bayi-bayi menggemaskan itu. Entah berapa kali sepasang suami istri itu menciumi para bayi satu tahun setengah itu.
Bart, Leon dan Frans datang. Baru lah Widya merasakan kontraksi hebat pada perutnya. Gabe mengantarnya ke ruang bersalin. Ketuban Widya sudah pecah.
Semua menunggu dalam kecemasan. berdoa agar keduanya selamat. Satu jam menunggu, Gabe datang dengan wajah ceria.
"Ibu dan putrinya sehat-sehat semua," jelas pria itu.
Frans memeluk Bart, ia menangis haru. Leon juga menitikkan air mata. Semuanya diluputi kegembiraan tiada tara.
"Alhamdulillah, Baby sudah lahir. Mama Widya juga sehat," ujar Nai lega.
Semua tersenyum mendengar perkataan gadis yang baru berusia enam tahun itu. Kini. Nai, Sean, Al, Daud, Kean, Cal, Arimbi dan Satrio sudah kelas satu SD tiga hari lalu. Rion kelas empat SD Sedang Lidya sudah kelas satu SMP. Darren sudah lulus dari kuliahnya bahkan kini ia sudah menjabat CEO di bawah asuhan Gabe.
Terra begitu terharu. Ia tak menyangka jika semua ini terjadi pada hidupnya. Anak-anak yang tumbuh dengan cepatnya. Gabe yang dikaruniai putri setelah satu tahun setengah pernikahannya.
Bayi diantar di dalam boxnya setelah ibunya datang terlebih dahulu. Wanita itu langsung menggendong bayinya. Menciumi wajah cantik dengan rambut pirang.
"Hi, Baby Gabriela Arsindhu Putri Dougher Young," sapa Gabriel.
"Nama yang indah, sahut Khasya terharu.
"Ayolah Kak. Aku juga ingin menggendongnya!"
"Diam lah!' seru Virgou masih asik menciumi bayi cantik itu.
"Daddy, bial Bommy bendon payina!" seru Affhan marah.
Virgou merengut. Gisel terkekeh, akhirnya ia bisa menggendong bayi cantik itu. Budiman juga mencium Ella, Samudera antusias ingin melihat adiknya.
"Bommy, Sam mawu pihat ... Bommy!'
Gisel mendekatkan bayi pada Samudera yang berusia dua tahun dua bulan itu. Ia pun mencium pelan pipi baby Ella. Rion mendekat.
"Hai Baby, aku kakak Ion. Nanti, kamu kakak ajari ngomong yaa," ujarnya.
Ella terbangun mata coklatnya menatap raut tampan kakaknya. Ia tersenyum manis.
"Hai!' sapanya.
"Oh, Baby jangan bicara dulu," keluh Gabe.
Semua terkekeh.
"Penerus Rion bertambah lagi," sahut Bart semangat.
Semua mengangguk setuju. Sriani mencium pipi putrinya. Ia begitu bangga dengan Widya yang bersikeras melahirkan normal, padahal para dokter memintanya operasi cesar karena letak bayi yang melintang ketika usia kandungannya sudah sembilan bulan.
Kini kamar rawat Widya sepi. Semua sudah pulang ke rumah masing-masing. Bayinya juga sudah disusui. Sriani juga sudah pulang diantar supir menantunya.
"Terima kasih, sayang," ujar Gabe mencium sayang kening istrinya.
"Sama-sama, sayang," sahut Widya tersenyum.
"Aku bahagia sekali. Lihat kado untuk Baby Ella banyak sekali," ujar Gabe sambil menatap tumpukan hadiah di ruang sebelah.
Widya sangat bersyukur berjodoh dengan pria tampan ini. Kesendiriannya dibayar dengan keluarga besar yang saling menyayangi satu dengan lainnya.
"Terima kasih telah memilihku menjadi istrimu," ungkap Widya tulus. "Terima kasih telah menerima semua kekuranganku."
Gabe mencium bibir sang istri penuh kelembutan. Mereka berciuman lama mencurahkan semua perasaan keduanya. Ciuman berhenti ketika sepasang suami istri itu kehabisan pasokan udara.
"Aku mencintaimu," ungkap Gabe tulus dengan napas menderu.
"Aku juga sangat mencintaimu, suamiku," balas Widya tak kalah tulus dengan suara pelan karena terengah-engah.
Tiba-tiba pintu terbuka. Sosok pria tampan dengan tubuh tegap dan kekar.
"Bro!'
"David!" pekik Gabriel tak percaya.
"Brother!' David masuk dan langsung memeluk Gabe.
David memang sangat dekat dengan Gabe terlebih dari adik perempuannya Gisel. Karena hanya Gabe kakak laki-laki yang ia miliki dan selalu melindunginya dulu.
"Apa Daddy tahu kau datang?'' David menggeleng.
"Kau akan dibunuhnya," ujar Gabe menakuti David.
"Makanya tolong aku," pinta David memelas.
Gabe menolak, ia juga kini kesal terhadap adiknya ini.
"Katakan kenapa kau tidak datang bersama Grandpa dan Daddy Leon?" tanya Gabe penasaran.
"Well panjang ceritanya. Tapi intinya aku baru menyelesaikan pendidikan ku setelah berlatih bersama tentara Indonesia tiga hari lalu," jelas David dengan nada menyesal.
"Dan kau tidak memberitahu Daddy jika kau ada di sini?!' tanya Gabe kesal yang lagi-lagi David membenarkan pertanyaan kakak sepupunya itu.
"Oh ya ini istriku, Widya," sahut Gabe memperkenalkan istrinya.
"Hai sis, selamat ya," ujar David mengelus lengan Widya.
Wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk. Kedua pria itu mendatangi box. David tampak membungkuk dan mencium bayi cantik itu.
"Kau akan benar-benar dibunuh Daddy dan Grandpa akan memakanmu," lanjut Gabe menakuti adiknya.
Bersambung.
waah selamat datang baby Ella ... hai uncle David ...
bersambung.