TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KEBERSAMAAN



Hari berganti. Malam telah datang. Ketika semua makhluk beringsut ke peraduan mereka. Lima sosok manusia beda usia tengah bercengkrama di ranjang super size mereka.


Haidar sudah menetap di rumah sang istri. Pria itu enggan untuk pindah atau membeli rumah guna memboyong semua keluarga barunya. Pria itu sangat tahu sejarah terbangunnya rumah ini.


Darren menggambarnya. Terra menciptakan keinginan putranya. Di sini, semua kejadian bermula bangkit.


Kini, tubuh pria kecil itu memeluk erat Haidar. Sebagai seorang ayah. Pria itu mencurahkan segala kasih sayang.


"Papa selalu ada, untuk kamu, Nak. Jangan pernah takut akan hal apapun. Papa akan melindungimu dengan nyawa Papa sendiri," sumpah Haidar sambil mengecup sayang kening putranya yang sudah terlelap.


Terra memandangi suaminya. Ia begitu bahagia karena Haidar selalu ada untuknya juga ketiga anaknya. Pria itu seperti dikirimkan Tuhan memang untuk menolong dan juga membantunya keluar dari segala masalah.


"Mas," panggil Terra, tangannya merentang ke arah tangan sang suami.


Haidar menyambut tangan itu dan menggenggamnya erat. Menyalurkan seluruh perasaannya. Setelah menikahi Terra. Ia tak lagi merasa cemburu dengan pengawal tampan istrinya.


"Iya, sayang," saut Haidar mesra.


Blush!


Wajah Terra langsung merona. Ia masih saja malu, jika sang suami berlaku mesra padanya.


"Terima kasih, Mas selalu ada untuk Te dan anak-anak. Jika Mas, tidak ada. Entah apa jadinya Te. Jujur, Te sudah merasa lelah," ungkap Terra jujur.


"Sama-sama, sayang. Aku juga banyak belajar dari dirimu. Kau tahu, begitu pertama kali aku melihat kedekatan mu dengan anak-anak, membuatku salut dan bangga," ucap Haidar juga mengungkapkan kekagumannya pada sang istri.


"I love you, Mas," ungkap Terra lagi tentu dengan semburat merah di pipinya.


Haidar tersenyum, jantungnya berdegup kencang, ada desiran aneh menjalar di sekujur darahnya, ketika Terra mengungkap perasaannya.


"I love you my wife," balas Haidar.


"Ba bowu, Mama. Papa!" celetuk Rion tiba-tiba.


Haidar dan Terra tersenyum lebar mendengarnya. Pria itu sedikit melonggarkan pelukan Darren dan mengangkat tubuhnya mencium Rion dan Lidya.


"Ba bowu, Baby." Ia pun merebahkan tubuhnya kembali.


Sejurus kemudian. Mereka pun terlelap. Malam itu, tidak ada yang terbangun karena mimpi buruk. Semua terlelap dalam mimpi yang indah.


Pukul 02.45. Darren terbangun. Pria kecil itu sudah terbiasa bangun di jam dini hari seperti saat ini. Perlahan ia bangkit dengan menggeser pelan tubuhnya.


Setelah itu ia pergi ke kamar mandi. Terra yang mendengar suara gemericik air, terbangun. Melihat jam di dinding. Sudah waktunya shalat malam. Ia pun membangunkan suaminya.


"Hmmm ...," saut Haidar masih mengantuk.


"Tahajud yuk," ajak Terra.


Haidar langsung membuka mata. Melihat tak ada Darren di sisinya. Ia mencari keberadaan putranya itu.


"Darren sudah bangun terlebih dahulu. Sekarang ia di kamar mandi, berwudhu," ucap Terra menjelaskan.


Haidar pun bangun perlahan. Ada pergerakan dari Rion. Ia segera menepuk pelan paha montok bayi itu. Membenahi selimut dan turun menyusul istrinya.


"Mama, Papa udah bangun?" tanya Darren dengan tak enak hati. "Maaf, ya, Ma ...."


"Tidak apa-apa, sayang. Justru Mama dan Papa berterima kasih karena kamu telah membangunkan kami berdua," potong Haidar cepat sambil tersenyum lebar.


"Sekarang, ganti bajumu dengan yang bagus, tunggu Papa dan Mama ya. Kita sholat bareng," titah Haidar lembut.


"Iya, Pa," saut Darren langsung mengganti piyamanya dengan baju koko.


Haidar juga langsung membersihkan dirinya, ia berwudhu setelah Terra, istrinya. Darren telah menyusun sajadah.


Setelah Haidar mengenakan koko dan kopiah juga sarung. Ia pun berdiri di depan Darren dan Terra sebagai imam.


Memang shalat Sunnah berdiri sendiri. Tidak berjamaah. Mereka pun khusyuk dalam shalat mereka.


Usai shalat, Terra mencium punggung tangan suaminya dengan takzim, diikuti Darren. Haidar mengecup kening keduanya bergantian.


Darren membuka Al-Qur'an menyerahkan pada Terra. Membacakan beberapa ayat yang ia sudah hafal di luar kepala. Beberapa kali, Terra membenarkan bacaan putranya. Sedang Haidar hanya menjadi pendengar. Pria itu bukan penghapal Al Qur'an. Bahkan bacaannya pun buruk.


Usai Darren menyetor ayat pada ibunya. Haidar pun berinisiatif untuk memperlancar bacaannya.


"Sayang. Ajari, aku mengaji, dong," pintanya.


Terra tersenyum lalu mengangguk. Al-fatihah menjadi ayat pertama yang dibaca oleh Haidar. Ejaan dan makroj hurufnya sudah benar. Terra hanya tinggal membimbing sedikit saja.


Satu juz Al-Qur'an telah dibaca oleh ketiganya secara bergantian. Mereka kembali menggeser kiblat. Waktunya shalat subuh karena adzan sudah berkumandang sejak tadi.


bersambung.


ah ... indahnya.


next?