TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SEBUAH UNGKAPAN CINTA



Hari berlalu, waktu berganti. Kini, baik Terra dan Darren tengah menjalani ujian pendidikan mereka.


Darren dikawal oleh dua orang bodyguard setiap pergi ke sekolah, TPA atau ke tempat latihan pencak silatnya.


Sedang Terra. Semenjak kejadian Sugeng. Gadis itu tak bisa luput dari perhatian Budiman atau pun Haidar.


Budiman sebagai bodyguard yang tugasnya memang menjaga kliennya. Sedang Haidar menjaga mata juga hati Terra.


Terra hanya bisa pasrah. Gadis itu dikintili dua pria tampan. Tentu saja membuat semua gadis heboh.


"Duh ... Mas ... mau dong dikintilin kek gitu," goda salah satu gadis sambil terkikik genit.


"Ih, apa sih bagusnya si Terra. Menang di tinggi doang."


"Iya sih, dia CEO. Tapi, coba miskin ...."


"Tetep banyak yang ngantri keles. Terra cantiknya nggak kelewat ama Elu," seloroh fans Terra membela.


Dua kubu bersitegang, antar fans. Fans Haidar, Fans Budiman juga Fans Terra. Mereka nyaris mengalahkan trending topik LesLas artis dangdut yang tengah viral.


"Terra, jangan cari yang ganteng. Makan hati kau tiap hari, pastinya banyak pekalor eh pelakor yang muncul," seloroh Poltak kini.


"Mending ma aku," lanjut Poltak menaik-turunkan alisnya.


"Ih ... bekacalah dikit, muka kau aja nggak ada separoh gantengnya sama gesper Pak Haidar," kelakar Aryo meledak Poltak.


"ih, cemananya, masa muka aku kau samakan dengan gesper Pak doskil itu, Parah kalinya kau!" saut Poltak tak terima.


"Hei kok kalian yang berantem sih!" hardik Brenda.


"Aku masih jomlo. Kau sama aku, aja Pol. Gimana?" tawar Brenda tersenyum manis pada pria itu.


"Hah! aku ma kau?" Brenda mengangguk antusias.


"Terima Pol. Jarang-jarang loh, ada cewek cantik nembak kau," saut Dino salah satu temannya.


Brenda yang memang naksir Poltak sejak lama. Memberanikan diri untuk mengungkap perasaannya.


"Sebenarnya sih, gue udah suka Elu lama," cicitnya lirih.


"Cieeee!" semua menyoraki Brenda.


Poltak bingung. Pria itu tak yakin dengan perasaan gadis cantik itu. Tiba-tiba muncul lah ide dalam kepalanya.


"Sebenarnya, aku ini cuma anak angkatnya. Jadi, aku bukan anak orang kaya. Jadi harta itu tidak ada sama aku," ungkap Poltak sedih.


Semua melongo. Terkejut akan kenyataan yang baru saja Poltak lontarkan. Terra hanya memandangi raut Poltak. Netra Poltak yang sendu dan tersirat kesedihan membuat seluruh kelas percaya dengan apa yang baru saja ia katakan.


"Terus kalau kamu miskin sama anak angkat kenapa?" tanya Brenda.


Semua terdiam. Poltak menatap netra Brenda. Tidak ada pancaran kebohongan di sana. Gadis itu jujur.


"Emang kau masih mau kalo aku miskin?" tanya Poltak mencibir.


Brenda menghela napas. Entah mengapa, perasaannya sedih. Ia menitik air mata. Gadis itu menyangka jika Poltak berbohong agar, ia menghindarinya. Bergegas ia menghapus air matanya dengan elegan dan cepat.


"Hahahaha ... aku hanya bercanda kok Pol. Kau ini," ujarnya hambar.


Poltak bernafas lega. Pria ini menyangka jika gadis ini benar-benar menyukainya. Brenda langsung duduk di bangkunya tepat di belakang Terra. Mengambil buku dan membacanya.


"Eh angin dari mana kau baca buku?" ledek Poltak yang disauti gelak tawa semuanya.


Brenda hanya tersenyum menanggapinya. Wajahnya kembali serius dengan buku yang ada di hadapannya. Terra menatap raut Brenda. Gadis itu sampai menghadap kebelakang.


Terra mendengar helaan nafas Brenda berkali-kali. Menandakan gadis itu tengah menenangkan dirinya.


Tak lama dosen masuk. Mereka semua terdiam ketika lembaran tugas terbagi. Semua tenang dalam mengerjakan tugas. Kali ini dosen bernama Toni mengawasi. Pria itu berjalan berkeliling. Hingga tak ada satu mahasiswa pun berani melirik bangku lain.


Teng! Teng! Teng!


Bunyi bell tanda akhir dari ujian harus selesai. Semua menghela nafas panjang. Tak rugi rasanya tadi belajar sesaat. Mereka puas dengan jawaban mereka masing-masing.


"Ke kantin yuk," ajak Terra.


Brenda menatap gadis pendiam yang mengajaknya. Ya, Terra adalah gadis paling anteng dan tidak pernah gesrek kecuali jika dipancing seperti kemarin. Brenda menggeleng.


Gadis itu menjatuhkan kepalanya menelungkup di atas papan kursi untuk menulis. Terra mendengar sebuah isakan keluar dari bibir Brenda.


"Kenapa? Apa patah hati sama sikap Poltak tadi?" tebak Terra.


Brenda makin menekan isaknya agar tidak terdengar. Terra mengusap lengan teman kuliahnya itu.


"Yang sabar ya. Jika kamu sungguh-sungguh mestinya kau berjuang untuk cintamu," jelas Terra memberi semangat.


"Hidup ini ujian, tergantung kita menjalaninya. Kuat atau tidak. Mungkin pikir Poltak kau sama dengan gadis lainnya yang mengincar harta," jelas Terra lagi.


Brenda mengangkat kepalanya. Tampak wajahnya yang basah. Terra menghapusnya dengan jemarinya bergantian. Kemudian tersenyum.


"Gue nggak nyangka, Loe bisa cerewet kek gini ... hiks ... hiks," ungkap Brenda sambil terisak.


Sejurus kemudian mereka pun tertawa. Brenda merengek dan memukul pelan lengan Terra. Gadis itu memeluk temannya. Brenda butuh dukungan. Gadis itu baru saja ditolak cintanya.


"Gue beneran cinta ama Poltak ketika masih cama dan di ospek ketika masuk kampus ini," jelas Brenda.


"Gue tebelin muka gue, ngungkapin apa mau gue tadi, walau kesannya nggak banget. Cuma gue takut, kalo beneran gue ungkapin perasaan gue. Dia bakalan ngetawain," ungkapnya panjang'.


"Dan bener aja kan, dia langsung mengarang cerita kek, gitu. Gue ngerasa kalo dia bilang buat gue langsung ngejauhi dia," lanjutnya lagi.


"Gue nggak nyangka bisa sesakit ini cinta gue ditolak!"


"Kau beneran cinta ma aku?' sebuah suara menginterupsi Brenda yang sedang curhat.


Brenda membelalakan mata. Ia menoleh. Air matanya tiba-tiba mengalir ketika menatap Poltak dengan pandangan tak percaya dengan curhatannya barusan.


Terra berdiri. Brenda menahannya, memohon untuk tidak meninggalkannya. Terra pun kembali duduk.


Poltak mengambil kursi lalu mendekati Brenda dan duduk di dekatnya. Pria itu masih menuntut jawaban dari gadis cantik yang kini bersimbah air mata itu.


Poltak tidak yakin dengan penglihatan juga pendengarannya. Ia ingin kepastiannya langsung.


"Brenda!" panggilnya.


Gadis yang dipanggil namanya itu menggenggam erat lengan Terra. Ia butuh kekuatan dari temannya. Terra mengelus punggung tangan Brenda memberikan kekuatan untuknya.


"Bilang sama aku, kau beneran cinta sama aku?" Brenda langsung mengangguk.


Poltak menarik tubuh Brenda dan memeluknya.


"Kau seriusnya?" tanyanya lagi.


Brenda kembali mengangguk. Poltak langsung bersorak kegirangan. Baik Terra dan Brenda tertawa.


"Mau lah aku jadi pacar kau. Habis ujian ini kita langsung nikah aja, biar enak pegang-pegang kau, ya!" ucap Poltak yakin.


"Beneran?" tanya Brenda.


"Iya, beneran!" saut Poltak yakin.


"Mau kan kamu jadi istriku," pinta Poltak.


Brenda mengangguk. Lagi-lagi pria itu bersorak kegirangan. Terra tersenyum. Dalam otaknya ia pun berpikir.


"Apa habis ujian semester ini aja ya, aku minta Mas Haidar nikahin aku?" ungkapnya dalam hati.


bersambung.


eit .. eit ... apakah habis ujian ini bakal ada pernikahan?


next