TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENJALIN KERJASAMA 2



Dominic nampak berbinar ketika melihat begitu banyak anak-anak. Mereka nampak manis-manis. Terra menyiapkan makan suang untuk tamu mereka. Ketiga tamu itu berasa di rumah sendiri, bahkan Jaob nyaris tertidur karena suasana nyaman.


“Mama … ipu spasa sih?” tanya Kaila setengah berbisik pada Terra.


“Oh .. itu tamunya Kakak Darren,”


Jawab Terra juga dengan suara berbisik.


“Manana spasa Ma?” tanya Rasya kini.


“Coba, berani tanya sendiri?” tantang Terra.


Samudera langsung menghampiri ketiga pria bule tersebut.


“Halo,” sapa Samudera pada Dominic.


“Hi, boy!” sahut pria itu.


“Wat yu nem?” tanyanya sok berbahasa Inggris.


Dominic yang sedikit paham pun menjawabnya dengan senyum lebar.


“My name is Dominic.”


“Oh, Pominit,” sahut Samudera sambil mengangguk tanda mengerti.


“No … Dominic! Not Pominit!” ralat pria itu.


“Biya … Pominit, beulnel tan!” seru Samudera tak kalah ngotot.


Dominic garuk-garuk kepala tak mengerti, sedangkan Darren nampak membiarkan kesalaha pahaman itu terjadi. Terra sampai menggeleng, melihat keisengan putra tertuanya itu.


“Talo imi spasa, manana?”


“Sorry?” tanya Dominic tak mengerti.


“Sorry sir, he ask all name of you. He’s five years old, so he can’t speak well event with bahasa,” jelas Darren akhirnya.


Dominic akhirnya tertawa mendengar penjelasan Darren, ia merasa lucu. Ia pun berniat belajar bahasa Indonesia nanti. Sedang Demian hanya tersenyum sja, begitu juga Jacob. Samudera kembali mendatangi kakak-kakaknya. Bocah lelaki itu pun mengatkan siapa saja nama-nama tamu kakaknya.


“Darren ajak tamunya makan, Nak,” titah Terra dengan lembut.


Darren pun mengajak para tamunya makan bersama anak-anak. Tak ada pembicaraan di atas meja, bahkan Samudera berusaha makan sendiri, walau dia kesulitan untuk memasukkan makanan ke mulutnya. Darren membantu menyuapinya. Budiman ikut makan bersama mereka. Terra menjelaskan posisi pria itu di rumah ini. Semua mengangguk tanda mengerti.


Usai makan keempat pria itu naik mobil bertepatan dengan mobil lain masuk. Demian yang sudah berada di mobil, melihat siapa yang keluar dari mobil itu. Sosok gadis yang sangat ia kenali turun dan masuk ke dalam rumah.


“Gadisku!” pekiknya.


“Siapa?” tanya Darren yang sudah menjalankan mobilnya.


“Ah … maksudku, siapa yang turun tadi?” tanya Demian sedikit gugup.


“Oh .. itu tadi adikku, Lidya,” jawab Darren.


“Lidya adikmu?” tanya Demian tak percaya.


“Iya, memang dia adalah adikku,” jawab Darren dengan menatap pria yang duduk di belakangnya melalui kaca spion tengah.


“Ah … maaf, apa adikmu masih sekolah?” tanya Dominic kini penasaran.


“Tidak lagi, sekarang dia seorang dokter ahli kejiwaan anak,” jawab Darren.


Pria itu fokus pada jalan raya, Demian kini yakin jika gadis yang selama ini ada dalam hatinya adalah adik dari Darren, pria tampan yang genius.


“Kenapa anda bertanya Tuan?” tanya Darren.


‘Tidak apa-apa. Aku merasa mengenalnya, wajahnya familiar diingatanku,” jawab Demian.


Dominic menatap putranya. Demian juga menatap ayahnya, ia tersenyum lebar. Jantungnya berdetak lebih cepat. Andai ia bisa tinggal lebih lama, sayang visa kunjungnya hanya satu minggu. Kini mereka kembali ke hotel. Nanti malam mereka harus kembali ke negaranya jika tak dapat sangsi dari visa kunjungannya.


“Dad!” panggil Demian dengan binaran mata pengharapan.


Darren sudah kembali ke kantornya. Nanti malam Iskandar akan mengantar mereka ke bandara.


“Sabar, Nak. Beberapa bulan lagi baru kau bisa tinggal di sini, selama satu tahun penuh untuk mengurus anak perusahaan kita,” ujar


Dominic mengerti perasaan putranya.


“Lagi pula dia belum delapan belas tahun. Masih terlalu muda untuk kau seret menuju gerbang pernikahan,” lanjutnya.


Demian hanya menghela napas panjang. Memang ia tengah membangun anak perusahaan pengolahan tambang yang berpusat di kota itu. Ia juga menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan besar di sana.


“Oh ya, Jac. Apa kau sudah menghubungi perusahaan Triatmodjo dalam kerja sama dua minggu lagi?” tanya Dominic.


“Sudah Tuan,” jawab pria itu.


“Tapi dua minggu lagi aku harus ke Swiss untuk melakukan kunjungan kerja. Perusahaan kita di sana sedang dalam pengembangannya,’ jelas Demian sedikit mengeluh.


“Berdoalah Tuan. Jika Nona Lidya adalah jodohmu, ia tak akan kemana. Lagi pula Tuan akan sulit mendapatkannya sekarang,” sahut Jacob menerangkan.


Dominic mengangguk, ia sangat mengerti arah pembicaraan anak buah putranya itu. Walau kini ia sudah memeluk agama yang sama dengan Lidya. Tetapi putranya belum. Bahkan ia yakin jika putranya tak memeluk agama apa pun. Pria itu memutuskan membiarkan putranya berjuang untuk mendapat cintanya.


Sedang di rumah Terra, Lidya yang melihat tadi kakaknya pergi. Bertanya pada ibunya.


“Ma, tadi kak Darren sama siapa?”


“Oh, tadi kakakmu bawa tamunya, kolega baru dari Eropa,” jawab Terra.


Lidya mengangguk ia pun duduk dan memakan makanannya. Gadis itu belum bisa membuka prakteknya. Ia belum mendapat surat ijin prakteknya. Sekarang ia bekerja di rumah sakit milik Bram, kakeknya. Lidya diminta sang kakek melanjutkan S2 nya yang berhubungan dengan managemen rumah sakit. Ia pun menurut. Gadis itu pun sudah mendaftar program pasca sarjananya mengambil kelas karyawan.


"Sayang, apa kau yakin untuk melanjutkan S2mu?" tanya Terra sedikit khawatir.


"Yakin, Ma. Mumpung Iya masih semangat untuk belajar. Kalau menunda takutnya Iya malah malas," jelas gadis itu yakin.


Terra mengelus kepala putri kebanggaannya itu. Ia pun menemani anak gadisnya makan siang. Sedang adik-adiknya yang lain baru pulang sekolah.


Waktu berlalu malam pun datang. Lidya baru saja merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Kuliah S2nya akan ia mulai setelah kepulangannya nanti dari Eropa.


Sedangkan Demian begitu berat meninggalkan negara yang talah menambatkan hatinya pada sosok gadis yang baru saja ia temui sekilas.


"Andai lebih lama lagi tinggal," gumamnya.


"Hai ... gadis. Tahukah kau getaran ini makin kuat ketika melihat ujudmu barusan? Tahukah rasanya ketika rasa ini ingin menggapai tetapi tangan tak bisa mampu?" Demian berpuisi.


"Lidya ... kau seperti bintang di langit. Aku bisa menikmati kecantikanmu, tapi aku tak bisa menggapaimu," lanjutnya.


"Gadis ... aku titipkan hatiku padamu. Jagalah, sayang .. aku pasti datang untuk mengambilnya."


Demian memejamkan matanya. Perjalanan belum setengahnya. Sedang Lidya yang tertidur tiba-tiba bersin berkali-kali. Ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat seperti biasanya.


Tiba-tiba wajah pria melintas diingatannya.


"Demian," panggilnya lirih.


"Ih ... jangan genit Lidya, kau mau dimarahi macan-macan di rumah ini!" serunya lalu berusaha memejamkan matanya.


bersambung ....


yaaa ... namanya juga cinta ...


next?