
"Apa kau mau mendatangi Terra?" tanya Frans lagi.
"Siapa pun dia, aku akan mendatanginya, asal putriku kembali," ujar George.
Frans akhirnya memberikan kartu nama Terra. Di sana ada alamat perusahaan yang harus ia datangi.
"Kapan kau pergi?" tanya Frans.
"Besok sore, agar saya sampai lusa pagi hari," jawab Goerge.
Pria renta itu pun mengucap banyak terima kasih pada Frans. Ia pun langsung pulang. Kakinya makin lama makin parah pincangnya.
George dengan wajah sedikit lega, setidaknya ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan putrinya kembali. Ia pun langsung memberitahu istrinya.
"Sayang, besok aku akan ke Indonesia. Doakan agar aku mendapatkan putri kita kembali," ujar Goerge.
Miranda mengangguk. Karena terlalu memikirkan anak mereka semata wayang. Keduanya jadi tak berselera makan, hingga tubuh mereka kurus.
"Verra, tolong bantu aku membereskan pakaian Tuanmu," ajak Miranda pada salah satu maidnya.
"Baik, Nyonya," sahut Verra.
Kedua wanita itu masuk kamar. George mengikuti mereka. Ia merasa kakinya makin lama makin sakit. Dokter memintanya beristirahat dan tak memaksakan berjalan. Tetapi, untuk mendapatkan putrinya kembali, ia tak peduli rasa sakit ini. Miranda menyusun pakaian suaminya.
"Bawa satu koper kecil saja. Kemungkinan aku tak menginap," ujar George.
Miranda mengangguk. George menghubungi Zeus, asisten pribadinya. Pria itu masih menjalankan bisnisnya, sedangkan Celia juga ikut membantu menjalankan tugas Deborah selama nona muda itu belum ditemukan.
Sedang di negara lain. Darren yang sedang berada di perusahaannya. Tengah memimpin rapat. Di tengah-tengah rapat. salah satu koleganya jatuh pingsan. Semuanya panik. Darren menenangkan mereka.
"Tenang semuanya!"
"Tuan Budiman!" panggil Rommy.
Budiman masuk melihat ada yang jatuh tak sadarkan diri, ia langsung berlari memanggil dokter perusahaan yakni dokter Aini.
"Dok, ada yang tak sadarkan diri di ruang rapat!" seru Budiman
Aini langsung berlari mengikuti langkah lebar Budiman..Ia juga membawa peralatannya. Setelah sampai, ia meminta semuanya untuk keluar ruangan untuk memberi udara cukup. Darren sudah memberikan pertolongan pertama pada koleganya.
Aini memeriksa denyut nadi dan detak jantung pria yang kini tengah bernapas tersengal.
"Sudah panggil ambulans?" tanya Aini.
"Sudah, Dik ... eh ... maksudku Dok," jawab Darren kikuk.
Aini sedikit merona. Ia memberi Nebulizer. Nebulizer adalah alat untuk mengubah obat dalam bentuk cairan menjadi uap yang dihirup. Pengobatan yang memanfaatkan nebulizer biasanya diberikan pada penderita gangguan pernapasan, seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) saat gejala sesak napas sedang muncul. (sumber. Google)
Pria itu di minta tenang oleh Aini. Tak lama petugas medis datang membawa brankar. Pria itu dibawa ke rumah sakit, asistennya juga ikut bersamanya setelah mengucap banyak terima kasih.
Darren menatap Aini begitu juga sebaliknya. Budiman hanya bisa mendengkus kesal. Rommy terkekeh melihat sifat posesif pria itu. Sedang Aden, Iskandar dan Jhenna hanya bisa menggeleng.
"Biarkan Tuan Darren merasakan jatuh cinta. Soal patah hati atau yang lainnya, bukankah itu sudah menjadi efek dari cinta itu sendiri?" ujar Rommy pada Budiman.
"Iya, Tuan. Biarkan Darren menikmati masa mudanya," sahut Jhenna menimpali.
Budiman memang tak boleh egois. Darren sudah dewasa, sudah waktunya untuk mencari pendamping hidup.
"Dok, apa bisa nanti kita makan siang bersama. Kebetulan aku bawa dua bekal," tawar Darren pada Aini.
Gadis sedikit ragu.
"Jangan khawatir kita makan dipantau oleh Babaku kok!" lanjut pemuda itu.
Aini mengangguk sambil tertunduk dan tersipu. Darren senang bukan main. Ajakan makan siang untuk pertama kali berhasil.
Sedang di rumah sakit. Putri mulai sesekali membantu Lidya. Gadis itu tak mau ambil cuti lama-lama.
"Ilmunya nanti ilang kalo kelamaan di rumah," ujarnya memberi alasan.
Lidya akhirnya membiarkan.
"Eh, Put, ternyata yang bayar rumah sakit Lo, bukan Bokap ama nyokap gue loh!" uhar Lidya mengingat.
"Hah, masa? Apa kak Darren yang bayar?" Lidya juga menggeleng tanda bukan kakaknya yang melakukannya.
"Kalo dengar dari ciri-ciri orangnya sih sepertinya Tuan Jacob yang membayar semua biaya perawatan mu," jawab Lidya.
"Tuan Jac yang membayarnya?" tanya Putri tak percaya.
Lidya mengangguk. Kini, makin banyak utang budi Putri pada pria itu. Sudahlah darahnya masuk ke tubuh Putri, bahkan semua biayanya dilunasi juga.
"Aku belum ngucapin terima kasih, Loh sama Tuan Jac," keluh Putri.
"Apa kita ke perusahaannya dan membawa bingkisan untuk ucapan terima kasih?" tanya Lidya meminta pendapat.
Putri menggeleng. Lidya pun mengangkat bahunya tanda tak tahu mesti harus berbuat apa.
"Tapi dari pada tidak sama sekali, sepertinya ide itu bagus juga," ujar Putri pada akhirnya.
Lidya mengangguk. Mereka berdua akan ke perusahaan Demian, setelah pulang praktek.
Waktu istirahat tiba. Aini kini berada di ruangan Darren yang begitu nyaman. Di sana Budiman juga ikut memakan bekal yang dibawakan oleh istrinya.
"Pak Darren lebih suka bawa bekal ya ketimbang makan di luar?" tanya Aini.
"Sebenarnya sih, enggak juga, kadang aku kan makan di luar bersama kolegaku pada acara-acara penting," jawab Darren..
"Kalo nggak ada kerjaan?" tanya Aini ingin tahu.
"Ya, lebih sering bawa bekal. Sudah kebiasaan soalnya," jawab Darren.
Aini mengangguk. Gadis itu menghabiskan makanan yang dibawa Darren sedangkan Darren memakan bekal yang dibawa Aini.
Usai makan siang, Aini pun kembali ke ruang prakteknya. Darren meraba jantungnya setelah kepergian gadis itu.
"Baba ... inikah rasanya jatuh cinta?"
Budiman memutar mata malas. Pria itu tak menanggapi perkataan tuan mudanya. Ia pun keluar ruangan dan. berjaga di sana.
Hari berganti sore. Dua gadis tengah mendatangi satu gedung bertingkat. Begitu mewah dan sama besarnya dengan perusahaan milik ibunya.
Gio dan Hendra mengawal dua gadis itu. Sebelumnya, mereka mampir ke sebuah butik untuk mencari sesuatu di sana. Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Keduanya pun turun di lobby dan melangkah mendekati resepsionis.
Baju seragam Putri dipandang aneh oleh gadis cantik dengan make up penuh. Netranya menelisik dengan kedatangan dua gadis ke perusahaan tempatnya bekerja.
"Selamat sore, apa bisa bertemu dengan Tuan Demian Starlight?" tanya Lidya dengan senyum ramah.
"Sudah buat janji?" tanya resepsionis menatap keduanya aneh.
"Kami tidak ada yang sakit, dan perusahaan ini sepertinya tidak memanggil perawat ke sini," ujarnya lagi menatap sinis Putri.
"Sayangnya, kami memang tak memiliki janji, tapi apa boleh kami menunggu?"
"Untuk apa kalian menunggu atasan saya!" sentaknya.
Lidya dan Putri ternganga. Lalu kemudian menggeleng tak percaya.
"Ini gadis halu yang berharap Boss besar suka sama dia," bisik Putri pada Lidya meledek resepsionis itu.
"Huss!" tegur sahabatnya itu.
"Nona Lidya, Nona Putri?" panggil seseorang.
Keduanya menoleh. Pria itu tersenyum lebar melihat kedatangan kedua gadis cantik itu.
"Tuan Jac. Kami ke sini hanya ingin mengucapkan terima kasih dan memberi bingkisan yang ala kadarnya ini," ujar Putri dalam bahasa Inggris.
Sang resepsionis hanya memutar mata malas. Ia ingin sekali menyuruh Jac membuang bungkusan sederhana itu. Tapi ia tak berani.
Jac menerima bingkisannya dan mengucap terima kasih juga.
"Saya ingin mengajak anda ke atas bersama saya menemui Tuan Demian?" ajak Jac.
Lidya dan Putri menolak. Mereka harus ke rumah yayasan itu. Jac berjanji akan ke sana bersama Demian.
bersambung.
next?