TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
AKAD NIKAH




Hari pun berlalu, waktu terus bergulir. Hari ini adalah hari bersejarah bagi dua insan, yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.


Terra sudah di dandani cantik. Dengan gaun pengantin modern. Gadis itu menolak kebaya, karena memang ia bukan gadis anggun.



Gaun berwarna putih padu padan bahan satin dan brokat, yang ditaburi oleh kristal dan swaroski. Make up natural dan flawless.


Gadis itu tengah duduk dan menggenggam erat tangannya yang sudah berkeringat. Ia begitu gugup. Di sisinya Karina menemani. Sedang ketiga anaknya sudah dibawa oleh Bart ke tempat akad.


"Hiks!" Terra menangis.


Karina berkali-kali mengusap air bening yang menetes dari pelupuk mata gadis itu. Ia sangat mengerti di hari paling bersejarah. Orang yang mestinya menjadi wali sahnya sudah tiada.


"Ayah ... hiks ... hari ini, Te, menikah, Yah! Hiks ... hiks."


"Maafin Te ... uuu .. hiks ... belum bisa banggain Ayah ... hiks ... eemmm ... hiks!"


"Istighfar yang banyak, sayang," saran Karina.


Wanita berusia tiga puluh tiga tahun itu hanya bisa menyabarkan gadis itu.


Drrt ... drrt! Bunyi ponsel Karina. Tanda, ia harus membawa Terra keluar. Haidar sudah siap di sana.


Semua mata memandang gadis itu. Kecantikan wajahnya benar-benar memukau semua orang. Banyak yang berdecak kagum, namun tak sedikit yang bergumam iri.


Sofyan yang menjadi wali hakim bagi putri mendiang kliennya. Itu sudah ditunjukkan dengan surat kuasa Ben, saat terakhir.


Rommy dan Aden menjadi saksi untuk Terra, sedang dari pihak Haidar memilih dr. Tomo Hovert Pratama. Paman Haidar adik sepupu Bram.


Bram merupakan anak laki-laki satu-satunya dari keluarga Hovert Pratama. Lainnya adalah wanita.


"Sudah siap?" tanya penghulu pada calon mempelai pria.


Terra duduk di sebelah Haidar. Jantung keduanya berdegup kencang. Bibir pria itu nampak bergetar hebat karena begitu gugupnya.


"Istighfar dulu, Nak Haidar," saran penghulu. "Ambil napas lalu hembuskan sambil membaca takbir."


Haidar mengikuti saran penghulu. Setelah yakin ia pun memantapkan hati.


"Inshaallah saya sudah siap!"


"Baik, jabat tangan wali hakimnya," titah penghulu.


Haidar menjabat tangan Sofyan erat.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara/Ananda Haidar Putra Hovert Pratama bin Bram Hovert Pratama dengan anak yang saya wali kan bernama Terra Arimbi Hugrid Dougher Young dengan mas kawinnya berupa uang sebesar dua ribu dua ratus dolar, Tunai.”


"Saya terima nikah dan kawin Terra Arimbi Hugrid Dougher Young dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!'


Haidar melafadz kan ijab kabul hanya dengan satu tarikan napas.


"Bagaimana para saksi, Sah?" tanya penghulu.


"Sah!' teriak para saksi.


"Alhamdulillah ...."


Terra menangis ketika para saksi menyatakan sah. Kini dirinya sudah menjadi seorang istri.


"Silahkan dipakaikan cincinnya, lalu dicium tangan suaminya," titah penghulu lagi.


Haidar mengambil cincin dari emas putih bertahtakan berlian ke jari manis istrinya. Terra menyematkan cincin perak pada suaminya lalu mencium punggung tangan Haidar dengan takzim. Haidar memberi kecupan ringan pada kening sang istri.


Tiba-tiba.


"Gue sah bro!" teriaknya sambil tertawa.


Terra malu bukan main. Sedang penghulu dan lainnya hanya bisa menggelengkan kepala.


"Mama, Mama!" panggil Lidya dan Rion langsung menghambur kepelukan Terra.


"Jadi Iya sudah punya Papa?" Terra mengangguk.


"Yey ... Papa ... Iya sayang Papa!" Haidar mencium pipi Lidya gemas.


"Papa, ba bowu," saut Rion.


Haidar juga langsung mengangkat bayi itu tinggi-tinggi, hingga tergelak. Menciuminya dengan gemas. Darren datang dengan air mata membasahi pipi. Masih tersirat ketakutan di matanya.


Terra langsung merengkuh tubuh pria kecilnya. Memeluknya erat.


"Kamu adalah segalanya bagi Mama. Tidak akan ada perpisahan bagi kita kecuali maut," bisik Terra bersumpah.


Darren memeluk erat ibunya. Sejuta ungkapan ia tuangkan dalam pelukannya. Ia percaya pada sumpah ibunya.


"I love you, Mama," bisiknya.


Mereka berdua pun terkikik geli. Haidar langsung merengkuh Darren memberinya pelukan hangat. Mengatakan jika bersamanya ia dan adik-adik tidak akan kekurangan kasih sayang sedikit pun.


Acara berlanjut pada sungkeman. Terra menangis pilu ketika bersimpuh dihadapan Bart. Pria tua itu juga menangis sesengukan.


Tangisan makin kencang ketika berada di depan Kanya dan Bram.


"Ma, Pa ... makasih ya, selama ini ada buat Terra dan anak-anak. Terima kasih selama ini, Mama dan Papa selalu mendukung Terra," ungkap gadis itu sambil terisak.


"Terima kasih Mama telah melahirkan pria sempurna untuk Terra. Makasih, Ma."


Kanya memeluk dan menciumi wajah gadis kesayangannya itu, begitu juga Bram.


Semua yang hadir pun mengharu biru. Rion begitu tenang dalam gendongan Virgou. Pria beriris biru itu berkali-kali mencium gemas bayi montok itu.


"Ba bowu, Baby," ungkapnya tak menyerah setelah kemarin Rion malah memfitnahnya.


"Ba bowu Daddy," saut Rion membalas.


Deg.


Jantung Virgou seperti berhenti berdetak. Bulu kuduknya meremang. Ada desir aneh menjalar di setiap aliran darahnya.


"Daddy, Iya mau dendong dudha!" pinta Lidya mengangkat dua tangannya.


Virgou langsung meraih Lidya dan membiarkan gadis kecil itu merengkuh lehernya kuat.


"Daddy ... Iya saaayang sama Daddy!"


Cup!


"Daddy juga sayang sama kamu, cinta!"


Cup.


Darren menyambangi kakeknya. Pria tua itu langsung merengkuh cucunya.


Acara pun berlanjut ke resepsi.



Terra duduk di pelaminan. Ia sudah berganti baju.



Haidar juga sangat tampan dengan balutan taxedo warna hitamnya. Begitu kontras. Namun keduanya memiliki pancaran aura yang begitu kuat.


Semua tamu penting berdatangan. Saling memberikan selamat juga doa. Tiba-tiba acara mendadak riuh.


Semua petugas keamanan nampak sibuk. Seperti sedang mengamankan seseorang. Sosok kurus tinggi dengan senyuman khasnya. Pria itu memakai baju batik warna biru dan merah.


Semuanya hanya terbengong melihat kehadiran pria nomor satu negeri ini.


"Selamat menempuh hidup baru ya, semoga sakinah mawadah warahmah, aamiin," ujarnya memberikan doa juga selamat.


Mereka semua berfoto.


"Mana yang namanya Darren?" tanya pria itu dengan logat bahasa daerahnya yang khas.


Darren datang lalu mencium punggung tangan pria nomor satu itu.


"Belajar yang pinter ya, jadi orang baik dan jujur," nasihat pria itu.


"Baik, Pak," saut Darren.


Pria nomor satu itu pun pamit. Lalu para tamu sibuk mengabadikan dirinya dan menyebut namanya. Pria itu selalu tersenyum dengan ramah dan melambaikan tangannya.


Bram dan Kanya masih shock. Terlebih Bart dan Virgou juga Leon serta Frans. Seumur hidup mereka, belum pernah disambangi oleh orang paling berpengaruh sebuah negeri.


"Aku bangga padamu, Nak," puji Terra pada Darren.


Haidar mengangguk membenarkan pujian istrinya. Darren hanya bisa tersipu.


Pesta makin meriah. Para tamu hadir silih berganti. Tiba-tiba.


"Mama, Ion banyi puntut Mama!'


Semua yang mengetahui apa yang akan terjadi menepuk kening mereka. Virgou ada bersama bayi montok itu sambil tersenyum girang.


"Apu-apu atu wayan mama. bua-bua dudha wawan mama. pida-pida apu pawan mama. Apu lua pida Ion payan mama ...!"


bersambung


oke lah Ion ... kamu sayang mama dari satu sampai tiga.


next?