TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
NASIHAT TERRA



Pemukulan itu pun berdampak pada pemanggilan orang tua. Sebagai seorang ibu, sepertinya ia harus banyak memberi saran untuk putra-putrinya.


"Boleh Mama, tahu kenapa, Rion pukul Kak Brahma?" tanya Terra ketika disidang di ruang BP. Brahma masih menangis dipelukan ibunya. Sang ibu menenangkan putranya. Sedang ayah Brahma nampak kesal dengan Rion.


"Masih kecil udah jadi preman. Mau jadi apa besarnya nanti!" hardiknya nyinyir.


Terra sebenarnya begitu marah dengan ucapan sembarangan pria tersebut. Ia pun menatap lelaki yang berdiri sok jago di sana. Haidar ada rapat di perusahaan, jadi dia lah yang datang. Budiman pun hendak maju melawan pria sok jago itu. Terra mengkode untuk tidak melakukan apapun.


"Maksud Bapak, apa. Sekarang saya tanya, mau ngapain putra Bapak narik tas anak saya hingga putus?!" tanya Terra sengit.


"Dia buang mainan anak saya!" jawab Pria itu ikut meninggikan suaranya.


"Saya, tanya mainan apa yang dibuang?"


"U ... ular-ularan ... hiks ... hiks!" jawab anak itu sambil terisak.


"Maksud kamu apa ngeluarin mainan itu?" tanya kepala sekolah. Ia sudah mendapat banyak aduan dari berbagai anak murid atas kelakuan Brahma yang suka menakuti anak-anak dengan ular mainannya.


"Dia kan cuma ngajak main!" sela pria itu gusar.


"Ngajak main kok kasar. Lagian, untuk apa anak Bapak ngasih bunga ke putri saya?" tanya Terra ikut meninggi suaranya. Ia tak suka anak kecil bertingkat genit.


"Loh, kan bagus ada yang tertarik dengan anak Ibu ..." kini ibu dari bocah itu membela putranya.


"Mau jadi apa anak ibu genit diusia segini? Penggoda perempuan?"


Sungguh Terra sangat sakit mengeluarkan kata-kata itu. Ia bukanlah tipe orang yang suka berkata kasar terlebih pada anak kecil. Tetapi anaknya tadi dituduh menjadi preman besarnya.


"Sudah-sudah! Ini gimana mau ngobrol secara baik-baik jika kalian saling ngotot begini!" hardik kepala sekolah.


"Saya kasih skorsing untuk putra Bapak, ya. Banyak aduan dari anak-anak yang ketakutan ketika putra Bapak mengancam mereka dengan mainan ularnya. Untuk ananda Rion. Sekarang kamu minta maaf mau, Nak?"


Rion pun berdiri menghadap bocah lelaki yang sebenarnya jauh lebih besar dari dirinya itu. Pria kecil itu pun memeluk ibunya takut.


"Kak Brahma. Ion minta maaf ya, udah mukul Kakak. Ion lakukan itu karena membela diri dan melindungi Kakak Ion dari laki-laki pengganggu. Ion harap Kakak juga lakukan itu pada pengganggu adik atau saudara perempuan Kakak!"


Semuanya hening mendengar perkataan Rion. Bocah lelaki yang belum berusia tujuh tahun itu, sudah tau bagaimana ia memilki tanggung jawab penuh untuk melindungi saudara perempuannya.


Brahma pun mengurai pelukannya pada sang ibu dan turun dari pangkuannya. Ia memeluk Rion.


"Kakak juga minta maaf jika kelakuan Kakak sangat keterlaluan. Kakak janji, akan berubah," ujarnya tulus.


Semua pun diam. Dua wali murid pun akhirnya memilih jalan damai. Terra pun secara gamblang meminta maaf pada kedua orang tua Brahma atas perkataan kasarnya. Begitu juga dengan ayah Brahma.


Kedua orang tua Brahma pulang. Terra masih di sekolah. Ia menunggu putrinya pulang. Rion sudah pulang dan kini bersama ibunya. Terra menciumi putranya itu dengan sayang.


"Mama, itu Kakak Iya, udah keluar dari kelas," ujarnya senang.


"Mama, Baby, Kak Budi!" panggil Lidya senang.


Budiman kini dipanggil kakak oleh anak-anak kecuali Rion dan pasukannya. Mereka masih memanggilnya Om.


Terra pun pulang bersama dua anaknya disupiri Budiman. Sampai rumah, ketiganya berganti baju dan makan siang. Terra memanggil Rion. Sedang adik-adiknya kini bermain sebentar dengan Lidya.


"Baby, sini sayang."


Rion menyambangi Terra dan duduk dipangkuan ibunya. Dengan penuh kasih sayang. Terra menasihati pria kecilnya itu.


"Sayang, Mama terima kasih sekali baby mau menjaga Kakak Lidya dengan baik. Tetapi, lain kali jangan kasar ya. Benar kata Nai, jika diberi bunga itu bagus. Tidak apa-apa, tetapi harus diingat dalam hati. Pemberian itu ada imbal baliknya. Jadi seseorang memberi sesuatu. Berilah kembali sesuatu untuk orang itu. Agar, orang yang memberi tidak berharap banyak."


"Maksudnya Mama?" Rion belum mengerti.


"Jika ada yang memberi kakak Lidya bunga. Ucapan terima kasih. Lalu berikan uang atau makanan padanya sebagi imbal balik dari pemberiannya," jawab Terra.


"Kalo laki-laki kasih bunga berarti dia suka sama perempuan itu, Mama!" sanggah Rion.


"Nggak semua sayang. Kan ada tuh lomba-lomba di mana perempuan diberi bunga," sahut Terra.


"Itu beda. Ion juga tahu!" gerutu pria kecil itu.


Terra terkekeh. Kini ia sadar. Rion akan menjadi pria paling protektif di dalam keluarga. Sesuai ajaran Terra yang memberikan tanggung jawab besar semenjak dini pada pria kecilnya itu.


"Mama senang, kamu akan menjadi pelindung bagi saudara-saudara kamu. Tetapi, berbicara baik-baik akan lebih bagus," sahut Terra bijak.


"Iya, Mama. Besok jika ada yang kasih bunga ke kak Lidya Ion akan biarin, besok Ion bawain makanan untuk membalas kebaikan dia karena telah beri Kakak Ion bunga," sahut Rion kini.


Sebenarnya bukan itu maksud Terra. Tetapi daya tangkap putranya seperti itu. Maka ia pun membiarkannya.


"Suatu saat kau harus membiarkan seorang pria lain menjaga Kakakmu," gumam Terra dalam hati.


"Jika suatu hari itu terjadi ... Mama yakin kau pasti akan merasa sedih."


bersambung.


suatu saat anak-anak akan memiliki keluarga sendiri.