TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
ANCAMAN 2



"Ini adalah tempat di mana wanita yang anda incar, Nona!" sahut salah satu pria memberitahu.


Deborah menatap bangunan sederhana, bertuliskan


"LoveLid Healing Consulting". Suasana tidak begitu ramai, para pria yang mengantarkan wanita itu mengatakan jika nanti sore adalah jadwal Lidya datang untuk melakukan pekerjaannya.


"Jadi sore nanti, baru ada dia?" tanya wanita itu.


"Benar, Nona," jawab pria itu.


Para anak buah Jordhan bisa bahasa Inggris dan Indonesia dengan baik. Jadi mereka tak terkendala berkomunikasi dengan Deborah.


"Hmm ... begitu ya?"


Wanita itu melihat jam Gucci limited edition di lengan kirinya. Masih pukul 11.17.


"Masih lama," gumamnya.


"Antarkan aku ke hotel dulu. Lalu, jemput aku lagi ketika ingin beraksi!" titahnya.


Kedua pria itu pun mengantarkan Deborah ke hotelnya.


Wanita itu pun menuju apotik terdekat terlebih dahulu dan membeli obat sakit perut.


Ketika di kamar, ia sudah mendapati Celia tengah mengetik laptop untuk laporan.


"Nona, anda sudah kembali?"


"Ya, antrenya lama sekali," jawab Deborah.


"Jadi bagaimana hasilnya?" tanyanya lagi.


"Hasilnya cukup memuaskan, Nona. Oh, ya. Pemimpin perusahaan ingin engkau besok yang melakukan review," Deborah mengangguk.


Kini keduanya terlibat dalam percakapan tentang seputar masalah kerjasama.


Sedang di tempat lain, enam orang lain masih mengamati lokasi. Mereka berpencar dan berkerumun dengan aktivitas sekitar.


Penjagaan Lidya masih sama, begitu juga Putri, gadis itu juga mendapat pengawalan ketat. Walau ia mengenakan motor tapi empat motor dengan merk yang sama mengawalnya.


"Sayang, katakan bagaimana caramu keluar dari kejar-kejaran itu?" tanya Terra.


Lidya membawa Putri ke rumahnya. Gadis itu kini jadi bagian keluarga Terra. Ibunya menitipkan anak perempuan itu pada Terra, setelah mendengar jika Putri dibuntuti penjahat yang ingin macam-macam dengan Lidya.


"Hanya adu balap saja kok, Tan," jawab Putri sambil tersenyum kikuk.


Terra mengelus sayang kepala sahabat putrinya itu. Ia tak menyangka gadis lemah, dan pendiam juga penyabar ini. Menjadi sosok kuat dan begitu pemberani. Ia menatap Lidya, terkadang ia sedih terlalu mengekang putrinya itu. Tetapi, melihat trauma yang dialami anak perempuannya itu, membuat ia benar-benar harus menjaganya. Terlebih, kini nyawanya dalam bahaya.


'Jadi yang lihat kamu dibuntuti itu Tuan Starlight dan asistennya, ya?" tanya Haidar kini.


"Iya, Pa. Tuan Jacob yang melihat Putri sedang dibuntuti," jawab Lidya.


Beruntung, dia memberitahu. Jika tidak, kau pasti diam saja, kan!" ujar Haidar lagi sambil menatap sebal Putri.


Putri hanya menunduk takut. Ia hanya saja tidak ingin semua khawatir. Toh, dia bukan siapa-siapa hanya sahabat dari anak orang kaya ini.


"Tata Pulti .. tata Pulti!" panggil Domesh.


Maria kini bekerja bersama Terra. Wanita itu dititip oleh Gomesh. Begitu juga Puspita dan enam anaknya, kini berada bersama Terra.


"Ada apa, Baby," sahut Putri gemas pada bocah berusia tiga tahun setengah itu.


"Manti talo beusal, Domesh bawu jadhi bentala don!" ujarnya memberitahu.


"Bentala?" Putri belum paham maksudnya.


"Biya, ipu loh yan pisa penbat dol ... dol ... dol!" kini Putri baru mengerti.


"Oh, tentara!"


"Biya masutna pitu!' sahut Domesh.


"Hebat sekali. Jadi tentara itu harus kuat dan nggak boleh cengeng. Baby, cengeng nggak?" tanya Putri.


"Eundat ... Domesh eundat cemen!" jawabnya tegas.


Tiba-tiba Bomesh mengusili kakaknya dengan mementung sang kakak dengan spatula.


Tuk!


"Ah!" Putri telat menahan pentungan itu.


Domesh langsung menangis kencang. Padahal, barusan ia bilang dirinya tak cengeng.


"Loh, katanya nggak cengeng," ujar Putri menenangkan bayi tampan itu.


"Pati tan satit, Tata Pulti ... hiks ... hiks!" jawab Domesh sambil terisak.


Sedangkan tersangka pementungan kini dengan santai duduk manis sambil memakan pangsit goreng buatan ibunya.


Terra, dan lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Lidya tertawa melihat tingkah menggemaskan adik-adiknya itu.


"Lidya!" panggil ibunya.


"Ya, Ma!"


"Kamu pingin nyetir motor dan mobil?"


Lidya menatap Terra dengan pandangan berbinar.


"Sayang!" tegur Haidar memandang horor istrinya.


Lidya langsung cemberut. Ia sangat ingin bisa menyetir motor dan mobil seperti ibunya. Terra menenangkan suaminya.


"Kita percayakan dia ya, Sayang," ujar Terra menenangkan Haidar.


Pria itu hanya bisa mendengkus. Melihat bagaimana Putri bisa lepas dari kejar-kejaran penjahat, membuatnya sedikit ngeri, jika Lidya yang berada di posisi sahabatnya itu.


"Te, hanya ingin, Lidya juga bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan dirinya suatu saat, jika tak ada yang mengawal," sahut Terra menjelaskan.


"Itu terlalu berbahaya, sayang," tolak Haidar, masih tidak ingin putrinya kenapa-napa.


Jika bisa bayar pengawal untuk apa Lidya harus bersusah payah menyelamatkan diri? pikirnya.


"Sayang ... percaya lah!" ujar Terra menenangkan prianya.


Haidar akhirnya mengangguk. Lidya begitu senang. Akhirnya ia bisa menyetir mobil dan motor suatu saat nanti. Gadis itu memelu ayahnya.


"Makasih, Pa!" ujarnya.


Domesh dan Bomesh kini tengah bermain bersama. Putri dan Lidya pamit untuk pergi ke rumah yayasan milik Lidya.


Kini dua gadis itu naik satu kendaraan, yakni motor ninja milik Putri. Para pengawal tak berani protes karena Terra yang memintanya. Semua pengawal akan mengikuti dua gadis itu.


Tak sampai lima belas menit, mereka sudah sampai di rumah yayasan. Lidya senang bukan main. Ia baru saja mendapatkan pengalaman naik motor setengah ngebut. Karena Putri bermain kucing-kucingan dengan para pengawal. Hal ini disambut protes Gio.


"Nona, tolong jangan lakukan hal berbahaya, nyawa Nona Lidya adalah tanggung jawab kami!"


"Iya, Om Gio. Maaf ya," ujar Putri meminta maaf, ia juga menyesal karena membawa Sahabatnya dalam aksi berbahaya itu.


Juno yang ada di lokasi tiba-tiba menoleh ke suatu arah. Gio juga merasakan kehadiran orang asing di tempat itu.


"Sepertinya, bahaya masih mengincar keselamatan Nona Lidya," ujar Juno mengamati.


Semua pun kembali berjaga-jaga. Pengawalan memang terlihat tidak ketat, karena Budiman mengubah taktik. Pria itu sengaja memancing musuh, agar mudah ditangkap dan langsung diberi tindakan.


Lidya dan Putri tak mengetahui itu. Dua gadis itu tak sadar jika mereka ditinggal oleh para pengawalnya.


Rock, ketua penjahat anak buah Jordhan tersenyum melihat para pengawal yang longgar. Ia pun memberitahu pada ketujuh rekannya.


"Korban sedang tidak dikawal. Ayo kita maju!" ujarnya.


Dari berbagai arah, delapan pria datang, dengan busana awam. Mereka menggunakan tongkat baseball untuk merusak pagar dan menghancurkan kaca. Entah kenapa, biasanya banyak pasien datang untuk konseling, hari ini hanya dua saja. Mereka berteriak panik. Lidya dan Putri yang ada di sana juga kaget.


"Hei ... apa-apaan ini!" bentak Putri marah.


"Kami ingin Lidya, mana dia!" bentak Rock dengan seringai sadis.


"Aku Lidya!" sahut Putri mengaku.


Rock pun menyerang Putri yang mengaku sebagai Lidya itu. Putri menangkis serangan demi serangan sedang kan Lidya juga ikut menyerang pria-pria yang lain.


Putri tidak ingin sahabatnya terluka. Gadis itu merangsek kedelapan pria hingga keluar rumah. Lidya sampai bingung dari mana kekuatan Putri yang besar.


Gadis bertubuh bongsor itu melakukan tendangan putar dan tendangan cangkul.


"Heaa!" teriaknya.


Bug! Pak! Bug!


"Aarrghh!" Rock jatuh tersungkur mendapat serangan brutal dari Putri.


Tiba-tiba dua puluh orang berpakaian hitam-hitam datang dan meringkus kedelapan pria yang menyerang Putri.


"Heaaah!"


Kedelapan pria melawan. Salah satu melihat Putri lengah. Ia pun langsung menarik dan menyekap Putri.


"Jauhkan diri kalian, jika tidak Nona kalian saya bunuh!" ancam pria itu, tengah menodongkan pisau pada leher Putri.


Bersambung.