
Hari ini adalah jadwal Terra ke kampus, ada dua mata kuliah yang harus ia lalui. Seperti biasa, keberadaannya sekarang, dikawal oleh seorang bodyguard tampan, Budiman.
"Kak! Te kan bilang, nggak usah ngikutin Te!" pekik Terra kesal bukan main.
Budiman yang lupa akan persyaratan kliennya itu, segera membungkuk dan meminta maaf. Pria itu baru menjauhi Terra. Gadis itu kesal, karena Budiman terus mengikutinya.
Terlebih paras Budiman yang memang tidak mengecewakan. Gadis itu juga risih melihat teman-teman wanitanya mencoba menggoda bodyguardnya itu.
Belum lama Budiman pergi. Haidar muncul. Pria itu makin membuat Terra menjadi serba salah. Semua tatapan mata para gadis ingin membunuhnya.
"Dasar ya, jadi perempuan nggak tau diri banget. Udah kek ****** aja, dua cowo ganteng dia sikat sekaligus!" sindir salah seorang mahasiswi.
Haidar yang mendengar gunjingan itu menatap Terra. Semakin kesal lah gadis itu, terlebih sifat posesif kekasihnya itu nggak ketulungan.
"Siapa maksudnya itu?" tanya Haidar cemburu.
"Kak Budiman!" jawab Terra malas.
"Kau pacaran dengannya?" tuduh Haidar.
Terra menatap Haidar tajam. Pria itu pun tak kalah tajam menatapnya. Terra semakin marah.
"Terserah!' pekiknya kesal sambil melepas rangkulan Haidar dan menjauh dari pria posesif itu.
"Sayang ... tunggu!' teriak Haidar tak terima.
"Bomat! Bodo amat!'' teriak Terra makin kesal.
"Nona!" panggil Budiman.
Melihat kliennya tengah berjalan kesal, membuat Budiman menghampirinya. Haidar melihat bodyguard Terra makin cemburu.
"Apa yang kau lakukan!" sentak Haidar.
"Saya hanya menjalankan tugas!' jelas Budiman tegas.
Terra melihat keduanya menjadi sangat kesal. Ia mengumpat orang yang menyewa bodyguard itu untuknya.
"Ih ... gara-gara Papa nih!"
Sedang di tempat lain.
"Haaachhi!" Bram bersin.
"Siapa yang berani menjelekkan diriku di belakangku!" teriaknya.
Asistennya kaget mendengar teriakan atasannya.
"Tuan?"
"Hah, sudah kerja lagi!" titah Bram.
Mereka kembali melakukan pekerjaan mereka.
Sedang di kampus di mana Terra, Haidar dan Budiman berada. Tampak begitu ramai oleh kaum hawa. Mereka histeris melihat dua pria tampan yang saling tatap.
"Ya ampun ... mereka ganteng-ganteng amat!" puji salah satu dari mereka.
"Pak Haidar ... uh ... gue banget itu!' lagi-lagi saah seorang memuji mesum kekasih Terra.
"Duh nggak kebayang, dipeluk sama Doskill itu!' ucapnya serak.
"Eh ... lihat itu, otot lengan Pak Haidar sama yang satunya. Oh ... pengen dipeluk ...," rengek salah satu mahasiswi manja.
Terra makin emosi. Kekasihnya menjadi santapan fantasi seksual dipikiran para gadis-gadis kampus. Dengan langkah kesal, ia menuju di mana Haidar dan Budiman berdiri.
Ia menarik keras Haidar. Pria itu yang merasa ditarik, menoleh kemudian tersenyum penuh kemenangan sambil meledek Budiman.
Sedang Budiman hanya bisa menghela napas panjang. Pria itu hanya menjalankan tugasnya, tidak ada maksud lain. Karena merasa kliennya aman bersama Haidar. Ia memilih meninggalkan kampus dan menunggu Terra di mobilnya. Kini kerjanya menjadi rangkap. Sebagai supir gadis itu dan juga pengawalnya.
Haidar terus ditarik oleh Terra yang marah. Pria itu tenang-tenang saja, ditarik sedemikian rupa oleh kekasihnya itu. Terra sempat disoraki oleh para mahasiswi tadi ketika ia menarik tangan dosennya itu.
Ketika di lorong dekat perpustakaan yang sepi. Baru ia melepas tangannya dan menatap wajah Haidar dengan cemberut.
"Puas! Seneng?!" umpat Terra kesal.
Haidar tak mengerti.
"Seneng jadi bahan fantasi mesum cewek-cewek kampus!" sentak Terra terbakar api cemburu.
Haidar tersenyum. Ia senang dicemburui gadis itu. Dengan sigap ia memeluk Terra. Gadis itu segera meronta. Tapi, Haidar mempererat pelukannya.
"Maaf," ungkap Haidar tulus.
Terra masih ingin melepas pelukan Haidar. Pria itu mengecup pucuk kepala kekasihnya dengan lembut. Terra baru terdiam. Haidar mendengar gadisnya mulai terisak.
"Hei ... kenapa menangis?" tanya pria itu lirih.
Haidar mengurai pelukannya, menakup pipi Terra yang basah. Menghapus jejak air mata gadis itu dengan kedua ibu jarinya.
"Kenapa menangis, sayang?" Terra mencebikkan bibirnya.
Haidar gemas bukan main. Sebenarnya, ingin sekali ia menyambar bibir ranum itu, jika saja ia tak sayang dengan dirinya sendiri.
"Habis Te kesel. Bapak jadi bahan fantasi mesum sama anak-anak itu," rengeknya.
Haidar terkekeh. Pria itu memang suka sekali mengusili gadis yang ia cintai ini. Haidar juga tahu, jika Terra tidak akan pernah berpaling darinya.
"Oh ya, lalu apa fantasimu tentangku?" pancing Haidar.
Terra menatap pria di hadapannya bingung. Gadis itu sedang mencari jawabannya.
"Ck ... sekarang, kau malah ingin berfantasi tentangku," ledek Haidar.
Terra melepas pelukan Haidar, pria itu membiarkan pelukannya terlepas.
"Emm ... Te berfantasi jika ..." Terra menghentika ucapannya.
"Apa?" tanya Haidar penasaran.
"Jika nanti Mas jadi suami Terra!"
Terra langsung berlari dari pria yang kini mematung mendengar jawaban kekasihnya itu. Tak lama, Bibir pria itu pun tersungging.
"Aku pun sudah mulai berfantasi liar tentangmu, sayang," keluhnya frustasi.
bersambung
sabar ya .. banyak istighfar ...!
wew ... othor jadi baper.