TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERCAKAPAN ANTAR BAYI



Ketika semua orang tua tengah berkumpul. Begitu pun para bayi. Kedelapan bayi plus komandannya. Duduk di atas karpet. Mereka membentuk lingkaran.


"Ata' Ion. Pata Mommy, bita bidat poleh napal ... eman napal ipu pa'a?" tanya Cal serius.


"Nakal itu suka melawan orang tua. Nggak bisa dibilangin tlus ndak mau nulut," jawab Rion dengan bijak.


"Oh," Cal mengangguk tanda mengerti.


"Ata' Ion ... palo beucal manti pawu padhi pa'a?' tanya Nai.


"Mau jadi olang sutses kaya Papa, Ayah dan Daddy," jawab Rion serius.


"Pidat mawu padhi doptel?" tanya Kean ingin tahu.


"Eundak, Kakak eundak suka sama olang sakit. Meleka yang sakit masa doktel yang lepot," jawab Rion tidak suka.


"Sean pudha bidat mawu padhi botel!" seru Sean lalu mengerucutkan bibirnya.


"Limbi mawu zhadhi bodtel. Banti palo bada pan satit Limbi pembuhin," sahut Arimbi.


"Pemana spasa pan mawu satit? Pamu Mbi?" tanya Satrio.


"Benda' Limbi pan pembuhin zhaza!" elak Arimbi kesal.


"Udah nggak apa-apa. Biar Baby Alimbi jadhi doktel. Oteh!' ujar Rion menengahi.


"Oteh!" sahut semua bayi menurut apa kata kakaknya.


"Kalo Baby Cal, Baby Al, Baby Daud, Daddy Kean, Baby Nai dan Baby Tlio mau jadhi apa?' tanya Rion penasaran.


"Nai pinin jadhi Mama!"


"Kean mawu jadhi Powisi!"


"Cal mawu jadhi bleziden!"


"Daud ... mawu ...."


"Sean mawu jadhi pentala!"


"Daud bewoom!"


"Tlio mawu jadhi latsasa!"


Semua menoleh pada Satrio. Daud sampai tak jadi mengucap apa cita-citanya ketika mendengar ucapan Satrio.


"Latsasa?" tanya semuanya.


"Piya, bial pebelti Om Pomesh!" jawabnya.


"Oh ... latsasa Om Bomesh?" saut Kean. Satrio mengangguk.


"Limbi zhuta pama Om Domesh!" aku Arimbi.


"Suka apa cinta?" tanya Rion lagi-lagi ingin tahu.


"Pinta ...," jawab Arimbi malu-malu.


"Pemana. Om Bomesh mawu sama Limbi?" ledek Satrio.


Arimbi pun terdiam. Ia menggeleng. Satrio menertawainya. Rion menegurnya.


"Jangan ketawain saudaramu!"


"Mamap Ata'," sahut Satrio dengan wajah menyesal.


"Janan sama Om Domesh, mending sama Om Pahlan," ujar Kean memberi usul.


"Om Leja judha, danten," timpal Sean.


"Dantenan Om Puno," sahut Kean.


"Om Pio judha," ujar Cal.


"Ah, dantenan Papa lah!" puji Al menimpali.


"Om Pudi judha!" sahut Nai tak mau kalah memberi tanggapannya.


"Ayah aja lah," akhirnya Arimbi memberi keputusan.


Semua pun diam. Tiba-tiba Cal memasang badan tegap. Ia mengingat sesuatu.


"Ata' pemalin ba Punit pelusupan woh!" adunya.


"Kesulupan?" Cal mengangguk.


"Emang kaya apa?" tanya Rion yang memang tidak tahu apa itu kesurupan.


"Peliat-peliat, patanya butih memuwa!" jawabnya serius.


"Kamu tahu itu kesulupan dali mana?" tanya Rion makin penasaran


"Bak Punit beuldili," jawab Cal polos.


"Kean tahu nggak?" Kean menggeleng lalu tiba-tiba ia ingat lalu mengangguk.


"Hmmm ... apa ada hantunya ya?" ujar Rion penasaran.


"Pantu pa'a Ata'?" tanya Nai.


"Pantu itu zhelem loh," sahut Arimbi menimpali.


"Udah peulnah liat?" tanya Rion.


"Ata' Pampan, beulnah pilan Pantu ipu pajunya bidat banti-banti," jawab Satrio kini.


"Ata' Sali judha pilan pantu ipu ada bidi pajamnya!" sahut Arimbi.


Rion tahu nama-nama yang disebut oleh dua adiknya itu. Mereka adalah kakak-kakak panti yang menjadi anak asuh ayah Herman.


"Jangan bilang masih katanya loh. Siapa tahu meleta boong. Kalo boong bisa apa?"


"Belbosa!" jawab semuanya kompak.


Semua orang dewasa yang mendengar percakapan mereka hanya ternganga tak percaya. Mereka sangat yakin jika anak-anak tidak tahu yang mereka bicarakan.


"Eh, Daud belum kasih tau mau jadi apa?" Rion teringat ada yang belum menjawab pertanyaannya.


"Mawu jadhi pulu maji," jawab Daud bangga.


Rion bertepuk tangan, bangga.


"Wah, euntal ajalin Kakak ngaji ya," Daud mengangguk antusias.


Terra tersenyum. Ia pun memanggil anak-anak sudah waktunya makan malam. Mereka pun didudukan di kursi masing-masing. Setelah berdoa mereka semua makan dengan lahap. Malam ini semuanya menginap.


Para pria dewasa menggelar kasur hingga memenuhi satu ruangan. Malam ini Rion didaulat untuk mendongeng lagi.


"Pada suatu hali ... beuldililah sebuah kelajaan kecil. Lajanya beulnama Bahlan. Laja Bahlan adalah laja yang sangat adil dan pijaksana. Lakyatnya makmul sentosa.


Hingga suatu hali datan penjahat beulbadan hitam. Ia melusak lumah-lumah benduduk. Semua lali petatutan.


"Polong ... eh ... tolong!" teliak lakyat.


"Laja tolong kami!"


Laja Bahlan pun seubeunalnya takut. Penjahat itu pun makin buas. Ia makin melusak semua lumah yang ada.


Akhilnya datang seolang pemuda, ia beulnama Lio. Pemuda itu memanah latsasa dengan panah beulacun. Latsasa mati. Akhilnya laja Bahlan pun ditulunkam lalu digantikan oleh pemuda pembelani beulnama Lio."


Cerita selesai. Rion pun terlelap. Para orang dewasa akhirnya lega. Perut mereka semua kram karena menahan tawa. Dan sejurus kemudian mereka semua tidur di satu ruangan.


bersambung.


Dah ... nama orang diganti semua sama anak-anak.


next?