
Gabe pulang cepat. Hari ini ia ingin ikut andil dalam drama yang dibuat kemenakannya. Ia pun telah memberitahu Widya.
"Maaf, hari ini aku tak mengantarmu pulang," ujarnya penuh tanda penyesalan.
"Tidak apa-apa, Tuan," ujar Widya tak masalah. Ia pun sedikit lega jika pulang nanti tak ada lagi mata yang menatapnya sinis.
"Baiklah. Terima kasih atas pengertianmu," ujar Gabe lalu mencium kening Widya spontan.
Pria itu pun berlari setelah mencium gadis itu. Sedangkan Widya nampak shock, mendapat ciuman dari pria yang sudah mulai menghiasi mimpinya.
"Dasar perempuan murahan!" sentak Rosena menghina Widya.
"Murahan?" tanya Widya bingung.
"Ya, kau murahan. Begitu gampangnya kau dicium lelaki di tempat umum!" sindir Rosena sengit.
"Emang kalau kau yang dicium kau akan menampar Tuan Gabe?" tanya Widya ingin tahu.
Rosena terdiam. Ia tentu sangat ingin dicium oleh boss-nya itu.
"Ya beda lah. Aku dicium karena aku memang pantas," sahutnya angkuh.
"Apa bedanya? Kita sama-sama makan nasi bukan?" tanya Widya bingung.
"Kau tak mengerti. Karena standar kita berbeda!" sahut Rosena sinis.
"Maksudmu standar Tuan Gabriel jadi turun karena bersamaku?" tanya Widya lagi.
"Ingat ya. Yang mendekatiku itu Tuan Gabe sendiri. Nanti akan kuberi tahu pendapat mu soal standar itu," lanjutnya.
Rosena terdiam. Rommy yang dari tadi mendengar hanya tersenyum tertahan. Ia sangat menyukai cara Widya mengatasi wanita seperti Rosena yang terlalu percaya diri.
Waktu pulang pun sudah lewat dua menit lalu. Melihat Widya yang jalan sendiri mendapat sindiran dari para pengagum Gabe.
"Ciee yang udah ditinggal. Bosen kan akhirnya!"
"Makanya ngaca dikit. Boss kok bisa naksir gadis kertas. Mikir!"
"Yah ... mungkin Tuan Gabe hanya penasaran kali ya. Tapi, setelah tahu kualitasnya jadi berkurang. Ya ditinggal deh tuh gadis cupu."
Widya hanya geleng-geleng saja. Ia tak menanggapi apa pun. Mungkin mereka akan heboh jika tahu Gabe tadi mencium keningnya. Walau Widya yakin itu perbuatan spontanitas saja. Tanpa ada maksud lain. Mungkin para karyawati akan shock dan pingsan.
Gabe sudah sampai rumah untuk berganti baju. Ia pun berjalan kaki saja menuju rumah adik sepupunya. Pria itu belum sadar jika baru saja mencium kening Widya.
Rumah Terra sudah penuh. Anak-anak tengah berdiskusi drama apa yang akan mereka mainkan. Darren berkali-kali memeluk dan mencium Nai yang ngambek.
"Sudah dong, Baby Nai. Kan kakak Darren sudah minta maaf," tegur Haidar.
Nai hanya mengerucutkan bibirnya. Ia menatap kakaknya dengan tajam.
"Besot janan ladhi ya!"
"Iya, Baby. Maafin kakak ya," pinta Darren lagi tulus.
"Oteh," sahut Nai enteng.
Kamera sudah siap. Gisel sedang memangku bayinya yang baru berusia delapan bulan. Bayi itu sangat antusias menatap Rion.
Rion menjadi narator cerita. Darren menjadi instrumen musik sedang Lidya ikut menjadi pemain. Haidar, Budiman dan Virgou juga Gomesh up up menjadi raksasa. Makanan sudah dibagikan pada pengawal.
Satu layar besar tersambung di paviliun untuk menonton pertunjukan drama.
"Apa sudah siap?"
"Biap!" seru semua anak-anak.
"Dahulu kala di sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang Ratu bernama Ratu Lidya," Rion memulia narasinya.
"Ratu Lidya adalah ratu yang sangat cantik dan bijaksana. Ia sangat dihormati oleh rakyatnya. Setiap sang Ratu lewat. Maka rakyat akan memujanya."
"Bidup Latu adun!" seru Maisya.
"Pidup Patu abun!" seru Dimas dan Affhan.
"Terima kasih rakyatku yang tercinta!" sahut Lidya terus berjalan anggun.
"Kerajaan Ratu Lidya juga ada dua kerajaan yang juga dipimpin oleh Ratu. Yakni kerajaan Ratu Arimbi dan Kerajaan Ratu Naisya. Mereka sama-sama cantik dan kuat. Hanya saja mereka iri dengan Ratu Lidya."
"Ih ... spasa ipu Latu Bidya! Sot syantit!" ujar Nai sambil mengerucutkan bibirnya.
Terra dan lainnya sangat gemas. Ingin sekali mencium bayi yang kini berekspresi kesal itu. Virgou, Haidar nyaris membuyarkan jalannya drama karena gemas dengan tingkah laku para balita.
"Di kerajaan masing-masing. Mereka memiliki.pengawal yang sangat tangguh. Satria Al memegang pasukan berkuda. Sedang Satria Daud memegang pasukan senjata, Sedang Satria Sean memegang pasukan memanah. Tiga satria itu hidup di bawah naungan Ratu Lidya." ujar Rion menjelaskan.
"Sedang di kerajaan Ratu Nai terdapat satria Satrio yang memimpin semua pasukan dan Ajudan Calvin yang selalu mendampingi Ratu Nai." lanjut Rion.
"Lalu di kerajaan Ratu Arimbi juga memiliki ksatria hebat yang menguasai semua ilmu bela diri yakni satria Kean dan pengawal pribadi ratu yakni Tuan Gabe."
"Di sana juga terdapat tiga kerajaan raksasa yang sangat menginginkan para ratu menjadi istrinya."
"Aku Raja raksasa Haidar menginginkan Ratu Arimbi!"
"Aku Raja Raksasa Budiman menginginkan Ratu Nai!"
"Aku Raja Raksasa Gomesh menginginkan Ratu Lidya!"
Para Raksasa menyusun rencana untuk menaklukan kerajaan itu. Mereka membentuk pasukan siluman, pasukan tak terlihat."
Darren membunyikan musik tegang. Haidar datang sambil terbahak.
"Hai Ratu Arimbi. Aku menjemputmu sayang!" ujar Haidar sambil tertawa-tawa.
"Polon ... polon ada latsasa!" teriak Dimas.
"Iya, latsasa na daten!" sahut Maisya.
"Tolon ... atuh dipelut latsasa!" pekik Affhan hingga tergelak.
Haidar menciumi tubuh batita itu. Dua lainnya juga mau diperlakukan sama. Maka Haidar pun juga melakukannya.
"Rakyat pingsan karena kedatangan Raja raksasa pertama. Karena tidak mendapatkan Ratu Arimbi. Maka raksasa itu pun pergi."
Haidar pun meninggalkan ruangan. Dimas, Affhan dan Maisya pura-pura pingsan. Datang Kean dengan gagahnya. Ia berakting terkejut melihat rakyatnya yang tergeletak.
"Astaga ... siapa yang pelbuat ini?"
"Papa! eh latsasa!" jawab Maisya sambil memejamkan matanya.
Semua orang dewasa menahan tawanya. Sejak kapan manusia pingsan bisa menjawab pertanyaan. Tapi, inilah mereka. Drama suka-suka.
"Atu halus pilang pada Latu Alimbi," ujarnya langsung menghadap Arimbi yang sedang dipangku oleh Gabe.
"Latu, telajaan pita diselan oweh latsasa danten!" lapornya.
"Spasa latsasa danten Ipu?"
"Papa Idal!" jawab Kean lalu berpikir apakah jawabannya benar. Lalu memilih tak peduli.
"Yang mulia, jangan terkecoh. Mungkin raksasa itu hanya menggertak saja," sahut Gabe mempengaruhi.
"Hmmm ... bait lah ... bial tan sajha latyat bada binsan ... bial jadhi ulusan Latu Pidya!" jawab Arimbi acuh.
"Bait yan bulia!" sahut Kean sambil membungkuk hormat.
Gabe yang gemas bukan main dengan akting Arimbi berkali-kal mencium gadis balita itu. Hingga Arimbi sedikit protes.
"Om Babe!"
"Maaf sayang. Kau menggemaskan soalnya," sahut Gabe menghentikan aksinya.
Puspita dan Terra mengerucutkan bibir mereka. Kedua wanita itu juga sangat gemas akan akting para balita. Sedang Khasya sudah mulas perutnya menahan tawa melihat aksi anak-anaknya.
"Sayang. Apa sudah mau melahirkan?" tanya Herman cemas melihat istrinya meringis.
"Belum selesai dramanya!" sahut Khasya sedikit ketus.
"Sayang. Nanti, kau bisa melihat rekamannya," saran Herman lagi.
Para dokter juga sudah mulai menyiapkan ruang operasi. Khasya akhirnya menurut. Ia pun melakukan penyuntikan mati rasa di sekitar perut ke bawah. Dengan menungging. Dokter menyuntikkan jarum ke punggung Khasya.
Wanita itu menahan sakit yang luar biasa. Hingga menetes air matanya. Herman selalu ada di samping sang istri. Operasi Caesar pun dilakukan.
Selang satu jam berlalu. Terdengar lah suara bayi secara bergantian. Sepasang bayi kembali hadir ditengah-tengah keluarga.
bersambung.
Selamat Bunda Khasya atas kelahiran putra dan putrinya.
next?