TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
DRAMA SUKA-SUKA 2



Drama pun berlanjut setelah tadi berhenti sejenak. Herman menyatakan jika bayi mereka telah lahir dengan selamat. Ibunya juga dalam kondisi baik-baik saja.


Semua mengucap syukur. Anak-anak sangat antusias akhirnya sang adik yang mereka tunggu sudah lahir ke bumi.


"Ini Dramanya lanjut atau sudah?" tanya Rion.


"Banjut!" pekik adik-adiknya kompak.


Darren terkekeh. Ia kembali menyetel musik. Pria itu sedikit terhibur setelah melihat aksi adik-adiknya.


"Hali eh ... hari berganti. Rakyat mulai gelisah. Kemarin satu raksasa ganteng datang ke desa mereka. Kini datang lagi raksasa ganteng lainnya," ujar Rion.


Gomesh datang sambil tertawa. Ia menangkap tiga anak sekaligus dan langsung menggelitik mereka dengan bibirnya. Dimas, Maisya dan Affhan tergelak


"Ratu Lidya ... aku datang!" seru Gomesh.


"Hai tau latsasa danten. Mawu pa'a entau te syini!' seru Sean galak.


"Aku ingin bertemu dengan Ratu ku, Lidya!' sahut Gomesh.


"Latutu eundat mawu peultemu denanmu latsasa danten!" seru Sean lagi.


"Oh ya?" tanya Gomesh.


"Biya. Peldhi tau dali syini!' akting Sean mengusir Gomesh.


"Aku tidak mau!" tolak Gomesh.


Pria itu menaruh tiga anak yang tadi habis digelitiki oleh nya. Sean mulai menyerang Gomesh. terdengarlah suara letupan dan bunyi pedang.


Padahal yang terjadi adalah Sean juga habis digelitiki oleh Gomesh. Sean sampai berteriak.


"Polon ... polon atuh satlia Al, Satlia Baud!"


Kedua anak itu ikut menyerang Gomesh. Wlau bunyi pedang dan suara gemuruh berbeda dengan akting mereka yang tergelak karena habis diciumi gemas oleh Gomesh.


"Apa yang kau lakukan pada prajuritku Raja Gomesh!" seru Lidya berakting.


"Aku sudah mengalahkan mereka Ratu. Kau harus jadi istriku!" sahut Gomesh.


"Pidat pisa!" seru Nai.


"Om Pomesh banya milit atuh!" lanjutnya.


Semua menoleh padanya. Nai menggaruk kepalanya. Ia tahu sudah salah. Tetapi tak peduli karena memang balita itu menyukai pria tampan itu. Budiman datang tak terima.


"Hei Ratu Nai ... Kau hanya milikku!"


Datang Haidar memanggil Arimbi.


"Ratu Arimbi ... ayo ikut denganku!'


"Baitlah latsasa danten," ujar Arimbi.


"Ratu jangan tinggalkan aku!" teriak Gabe akting sedih.


Arimbi bingung harus memilih siapa. Sedang Budiman merayu Nai dengan satu coklat hingga membuat balita itu luluh.


"Oteh latsasa Pudi ... atuh atan itut denanmu."


"Ratu Lidya!" panggil Gomesh.


"Baiklah aku ikut denganmu asal kau kembalikan semua kekayaan rakyatku!' sahut Lidya


"Akhirnya. Ketiga raksasa itu hidup bahagia dengan Ratu mereka. Rakyat pun senang. Tuan Gabe akhirnya menikahi rakyat jelata Maisya. Sedangkan para ksatria memilih menjadi petani dan memakmurkan desa mereka!"


Drama selesai. Semua bertepuk tangan. Anak-anak bersorak riang. Mereka puas dengan hasil akhir. Kini semuanya memakan camilan yang dibuat Terra dan Puspita.


Bart memberi semua anak-anak saham sebesar dua persen di salah satu perubahan miliknya sebagai hadiah. Leon dan Frans menambah hadiah mentransfer dua ribu dolar untuk dibagikan kesemua pemain anak-anak.


Makan malam pun berlangsung ramai. Semua hadir dalam keharmonisan keluarga. Virgou, Puspita dan anak-anak akan menginap. Budiman dan Gisel bersama putranya pulang. Kedua orang tuanya tidak ikut bersama karena sang ibu kembali tidak enak badan. Sedang Gabe pulang berjalan kaki.


Pagi menjelang. Keriuhan kembali terjadi. Mereka semua tidak menjenguk adik baru di rumah sakit. Herman melarangnya.


Gabe kembali menaikan level hubungannya dengan Widya. Pria itu benar-benar sudah menautkan hatinya pada sosok gadis kaku. Rommy menceritakan kejadian Rosena yang melabrak Widya.


"Jadi gadisku menjawab seperti itu?" tanya Gabe penuh kebanggan.


"Tentu Tuan. Gadis anda memang sangat berkualitas," jawab Rommy antusias.


"Baik. Selama Rosena tidak berbuat yang lebih. Biarkan saja. Tetapi, aku akan memberi pengawasan ketat untuk gadisku. Ia tak boleh terluka fisik maupun hati," ujarnya lagi.


Rommy mengangguk. Pria itu sangat mendukung hubungan Gabe dengan Widya, yang ia rasa sangat cocok.


Waktu sudah menunjukan sore hari. saatnya pulang bagi seluruh karyawan. Tidak ada lembur hari ini. Semua sudah dikerjakan oleh para tim ahli.


Lagi-lagi Gabe menunggu gadis kertas itu di depan ruangannya. Kali ini senyum ceria tersungging di bibir Widya.


Sepasang sejoli itu saling berpegangan tangan. Kembali Gabe menyembunyikan genggamannya ke saku celananya. Lagi-lagi Widya mendapat tatapan iri dari para pemuja atasannya.


"Hari ini bersiaplah. Aku akan mengajakmu makan malam," sahut Gabe memberi tahu.


"A-apa?" ujar Widya tak percaya.


"Iya, aku akan menghadapi ibumu untuk meminta ijin!"


Widya tak bisa berkata apa-apa. Ia pasrah jika nanti atasannya mundur teratur ketika berhadapan dengan ibunya. Gadis itu belum siap jika Gabe menyerah nantinya.


Mereka kini berada dalam mobil. Tumben kali ini ia bersama seorang supir. Mereka duduk di belakang kemudi. Genggaman Gabe tak lepas dari tangan Widya. Makanya keduanya duduk berdempetan.


Kini baik Widya dan Gabe merasakan detak jantung keduanya. Gabe mengeluarkan tangan yang memegang tangan gadis di sebelahnya. Meletakkannya di atas paha dan mengelus tangan Widya dengan tangan ibu jarinya.


"Widya," panggilnya tegas


"Sa-saya Tuan," sahut Widya tergagap. Ia berusaha setengah mati untuk menetralisir debaran jantungnya.


"Kita pacaran ya," sebuah permintaan yang seperti perintah di telinga Widya.


"Pa-pacaran?"


"Ya, kita naikkan level hubungan menjadi sepasang kekasih. Apa kau mau jadi kekasihku?" pinta Gabe lalu menatap dalam netra berkacamata di sisinya.


Widya menelan saliva kasar. Hatinya bersorak tetapi pikirannya berusaha menolak.


"Jangan kau pikirkan tapi kau rasakan apa yang ada di hatimu sekarang," ujar Gabe seakan mengetahui pergolakan hati dan pikiran gadis itu.


Widya hanya menutup matanya sejenak. Ia berusaha meyakinkan dirinya saat ini. Ia takut jika ia tersakiti. Gadis itu mengangguk.


"Apa arti anggukanmu, Widya?" tanya Gabe gusar.


"Saya ... saya ... mau jsdi kekasih anda Tuan," jawab Widya lirih.


Gabe tersenyum. Ia pun mengecup buku tangan gadis itu sambil tak melepas tatapannya pada wajah cantik gadisnya sekarang.


"Baik lah. Jika Ibumu menginginkan keseriusan ku aku siap melamarmu sekarang juga!' sahut Gabe tegas.


Widya melotot. Ia menatap pria di sebelahnya tak percaya. Gabe menatapnya penuh keyakinan. Pria itu sudah siap dengan semuanya.


Kini pria tampan itu duduk di depan wanita yang melahirkan kekasihnya. Aura intimidasi dirasakan Sriani. Ia tak mampu mengangkat wajahnya di hadapan Gabriel Philip Dougher Young.


"Saya ingin mengajak Putri anda makan malam. Apa diijinkan Ibu?" tanyanya penuh penekanan.


Biasanya, wanita itu sangat ahli membuat pria-pria yang menyukai putrinya mundur teratur. Tetapi, kini ia harus takluk dengan aura yang dikeluarkan oleh atasan putrinya itu.


"Saya .. saya ijinkan, asal pu-pulang tak boleh lewat jam sepuluh malam," ujar Sriani mengijinkan dengan suara tergagap.


Betapa bahagianya Widya mendengar ijin dari ibunya. Spontan ia memeluk dan mencium pipi sang ibu lalu mengucap terima kasih dengan tulus.


Sriani terharu. Wanita itu bisa melihat betapa anak gadisnya sangat bahagia. Mungkin sudah saatnya ia harus melepaskan Widya menentukan pilihannya. Untuk pertama kalinya. Lengkungan bulan sabit terukir di wajah keriputnya.


Bersambung.


akhirnya ... spasa yang bisa melawan Dougher Young?


next?