TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KE PERUSAHAAN



Hari berlalu waktu berganti. Pagi-pagi sekali,.Terra harus mengikuti meeting dari Jepang bersama Rommy. Pria itu membawa kembali pengusaha Jepang yang sedang melakukan proyek cyber miliknya.


Terra berencana, hanya memperkejakan tenaga ahli berasal dari Indonesia. Sebagian Karyawan sudah melakukan pelatihan juga belajar bahasa serta bahasanya.


Pihak Jepang menyetujui. Untuk itu mereka kembali ke negara ini, untuk kembali mengesahkan beberapa poin yang menjadi acuan dalam kerjasama.


Lagi-lagi, Terra memboyong semua keluarga Bart untuk ikut. Kali ini, Rion ingin naik mobil baru. Tentu saja, disambut protes oleh Patricia dan Meita.


"Jika kau tak mau kau bisa tinggal di rumah. Atau aku mengirimmu kembali pulang!" ancam Frans dengan mata tajam.


Meita dan Patricia tak berkutik. Bahkan Leon tak menggubris. Ia lebih memilih bersama kemenakannya dari pada bersama istrinya.


Kali ini Budiman membawa Paje*o Sport milik Terra dan membawa dua istri kliennya. Sedang Terra bersama anak-anak, kakek dan dua pamannya menaiki mobil baru.


Terra mengelus interior mobil mewah itu. Ia tak menyangka jika mobil semahal ini bisa ia beli dengan sekali gesek saja.


Puas memandangi interior mobil mewahnya, tiba-tiba Rion berteriak kesal.


"Mama, wayo bawan!" titahnya.


"Ah ... oke Boss!" ucap Terra sigap.


Rion hanya mengangguk-angguk percaya diri. Terra pun mengemudikan mobil baru itu. Sedang Bart yang memangku bayi montok itu hanya bisa tersenyum.


Lagi-lagi suasana mobil sepi. Kening Rion begitu berkerut, ia seperti melupakan sesuatu. Terra sangat paham apa yang dimau anak itu.


Musik dan lagu anak-anak. Gadis itu memiliki akal.


"Kenapa Baby?" tanya Terra.


"Embak aba mupik, Ma?' tanyanya dengan mata bulat penuh tanda tanya.


"Maaf, sayang. Ini kan mobil baru, jadi musiknya belum dipasang," jelas Terra.


Nampak wajah kecewa diperlihatkan oleh bayi menggemaskan itu. Terra nyaris tertawa melihat tampang Rion. Sedang Bart memeluk bayi itu erat-erat dan menciuminya gemas.


"Benpa, atit!' teriaknya kesal.


"What he's say?" tanya Bart tak mengerti.


"He's in pain you hug too tight!" jawab Leon.


"Oh, maaf," ucap Bart melonggarkan pelukannya.


"Bipin atit aja. ntal Ion putun, Atak Iya balahin Ion mpi," sungut Rion mendumel.


"what else does he say now?' tanya Bart lagi.


"I don't know, he uses his own language," saut Frans menimpali.


"Terra?' tanya Bart.


Terra hanya tersenyum. Ia harus berpikir dulu, apa yang tadi Rion katakan. Tiba-tiba Darren menjawab.


"Rion said, earlier it made him sick, if later he hit Grandpa, Iya would scold him." (kata Rion, tadi itu membuatnya sakit. jika dia pukul kakek nantinya Iya kan memarahinya).


"Oh ... Sorry, dear," usap Bart pada Rion.


"Oteh pis oteh!' saut Rion enteng.


"What he's said again?" tanya Bart putus asa.


Bart menepuk keningnya. Terra hanya tersenyum. Pagi ini tidak begitu macet seperti Senin pagi biasanya. Darren libur sekolah karena hari ini ada ujian kelas enam dan kelasnya di pakai selama tiga hari jadi, dia pun libur.


Mobil merah itu sampai di depan lobby kantor. menyerahkan kunci pada salah satu sekuriti untuk memarkir mobilnya.


Setelah menaikan Rion dan Lidya dalam strollernya, ia pun melangkah masuk dengan tenang, diikuti oleh Bart dan lainnya.


Sedikit keanehan. Kenapa karyawan seperti Terra diperbolehkan oleh Bossnya membawa anak-anak ke kantor.


Ketika sampai lobby semua karyawan berjejer rapi menyambut kedatangannya. Bart makin heran. Aden datang memberi salam.


"Selamat pagi, Nona," sapanya dalam bahasa Inggris.


"Pagi, Kak. Selain bertemu dengan pihak Jepang nanti, apa lagi jadwal untukku?' tanya Terra juga dalam bahasa Inggris.


Aden menjelaskan jadwal Terra, hari ini ia juga harus bertemu dengan CEO PT Bermegah Pratama untuk memperbaharui kerja samanya.


"Kak, bisa kita juga adakan pesta kecil nanti siang. Te, akan memperkenalkan keluarga Terra yang baru saja bertemu setelah sekian lama," pinta Terra.


"Baik, Nona," saut Aden tegas.


"Maaf, tapi di sini apa kedudukan mu, Nak?" Bart masih belum mengerti.


"Tuan Dougher Young. Cucu anda adalah CEO dari PT Hudoyo Group juga pendiri dari PT Hudoyo Cyber Tech.," jelas Aden.


Bart terpana. Begitu juga yang lainnya. Meita makin iri dibuat gadis itu.


"Jadi kau seorang CEO?" tanya Bart lagi tak percaya.


Terra mengangguk. "Ayah mewarisiku perusahaan bernilai omset ratusan miliar dolar," jelas Terra.


"Putraku ... hiks!" Bart haru.


Pria itu memeluk cucu perempuannya. Ia menangis kencang. Terra memeluknya dan mengelus pundaknya. Keharuan itu membuat semuanya ikut turut dalam suasana.


Terra mengajak semuanya ke ruangan kerjanya. Pria itu pun mengikuti cucunya. Dan pria itu berkali-kali mengagumi kemewahan perusahaan milik mendiang putranya.


Setelah pertemuan dengan pihak Jepang dan PT Bermegah Pratama. Gadis itu mengundang ke pesta kecil untuk memperkenalkan keluarganya.


"Mas, nanti apa nggak sekalian saja memberitahu soal hubungan kita?' tanya Terra meminta pendapat.


Haidar tersenyum. Ia pun mengangguk antusias. Pria itu langsung menghubungi ayahnya untuk datang ke pesta kecil yang diadakan Terra nanti siang. Bram tentu dengan senang hati menyambut pesta itu, ia akan membawa istri juga putrinya.


Setelah selesai dengan semua pekerja. Terra memutuskan untuk membawa Bart berjalan-jalan meninjau perusahaan miliknya.


Mendatangi Cyber Tech. Bart begitu terpana dengan penjelasan yang dilontarkan oleh Terra. Pria ini juga baru tahu jika cucunya ini ahli IT.


Sampai di divisi marketing. Terra menyuruh Puspita sebagai kepala Customer service untuk menjelaskan apa itu chip data.


Dengan senyum ramah, Puspita menjelaskan apa saja itu chip data dengan jelas, serta keunggulannya.


"Halo ... apa pemilik dan pencetus chip data sudah datang?"


Sebuah suara serak menginterupsi. Semua menoleh. Empat pasang mata membelalak sempurna ketika melihat siapa yang datang.


"Virgou!"


bersambung.