TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
ASISTEN BARU DEMIAN



Demian benar-benar kesal pada bawahannya. Sudah tau pekerjaan, pria itu malah memilih menghabiskan masa cuti yang tak pernah Jac ambil.


"Enak amat sih dia!" teriaknya kesal.


"Aku harus cari asisten baru!" lanjutnya


Demian mengingat banyaknya adik-adik istrinya. Ia pun membuka lowongan pekerjaan.


Benar saja. Nama Muhammad Calvin Black Dougher Young hadir di daftar pelamar. Pria itu sangat antusias. Ia yakin jika putra dari Virgou ini sangat cerdas dan cekatan seperti Jac.


"Jika Jac kembali. Cal bisa menjadi asisten ke duaku!" gumamnya terkekeh.


Sedang di ruang praktek Lidya, ia sibuk mengusap peluh di dahinya. Wanita itu juga sesekali mengelus perutnya. Usia kandungannya sudah menginjak delapan bulan.


"Ah, nggak ada Putri pekerjaanku sedikit terbengkalai," keluhnya.


Ia sudah meminta perawat pengganti pada pihak rumah sakit.


"Katanya hari ini perawat baru akan datang," ujarnya bermonolog.


"Sudah jam segini belum datang juga?"


Lidya terus mendumal. Rupanya hormon wanita itu sedikit buruk hari ini. Terlebih ukuran perutnya yang besar membuat ia kesulitan bergerak.


"Aku yang dua saja udah kualahan. Gimana Uma ya?" kekehnya lagi-lagi bermonolog.


Sebuah ketukan terdengar. Lidya mempersilahkan orang yang mengetuk untuk masuk. Ia berharap perawat baru yang datang.


"Selamat pagi menjelang siang dok!" sapa perawat itu sedikit kikuk.


Sosok gadis manis berkacamata. Kulitnya bersih dengan wajah oval. Sepasang mata besar dengan bulu mata lentik dan alis tebal juga hidung mancung. Tampak ia peranakan timur tengah.


"Perkenalkan dok, nama saya Fatimah Ar-Raniry Hasegaf," ujarnya memperkenalkan diri.


Gadis itu menyerahkan data diri. Lidya melihatnya. Rupanya gadis itu adalah salah satu asisten Profesor Helmi Sp.. Lidya mengangguk. Kemudian Fatimah membaca semua data pasien hari ini.


"Dok, nanti ada penyuluhan kejiwaan di desa G. Apa kita tak perlu bawa polisi?" tanya Fatimah sedikit takut.


Lidya menggeleng. Wanita itu sudah mempersiapkan segalanya. Meminta bantuan pengawalan dari Gio.


"Kenapa, dok? Desa itu terkenal dengan penghasil ODGJ terbanyak," ujar gadis itu sambil bergidik.


"Sudah berapa lama kamu jadi asisten Dokter Helmi?" tanya Lidya.


"Tiga tahun, dok!" jawab Fat dengan nada bingung.


"Mestinya kamu belajar cara menangani para pasien mu ketika bersama Prof Helmi," jawab Lidya santai.


Fatimah terdiam. Memang Prof Helmi selalu membawa semua asistennya untuk menangani para pasien yang mengalami gangguan kejiwaan akut. Lidya menatap cincin di jari manis gadis itu.


"Kamu sudah menikah, sus?" tanya Lidya.


"Belum, dok ... ah ini hanya agar tidak ada yang ganggu saja," jawab gadis itu sekaligus menjelaskan ketika melihat benda melingkar di jari manisnya.


"Berhasil?" Fatimah menggeleng.


Gadis dengan tinggi 158 cm dan berat 50kg itu terlihat sintal dan berisi. Pembawaannya juga sepertinya seru dan sedikit cerewet.


Tak lama ruang itu didatangi salah satu pasien. Seorang pria muda dengan wajah sedikit tertekan. Konsultasi pun dimulai. Fatimah mulai mencatat semua percakapan ketika penangan berlangsung.


Kembali ke kantor Demian. Sosok bermata sama dengannya duduk dengan tenang. Memang pria itu ingin menangani sendiri semua kandidat yang terpilih.


"Jadi apa yang anda tawarkan untuk bisa mengambil pekerjaan penting ini?" tanya Demian datar.


"Saya bekerja cepat dan tak banya mengeluh. Terlebih saya juga memiliki pengalaman di bidang data, bahkan menguasai struktur pengawasan perusahaan sesuai dengan pekerjaan saya sebelumnya!" jawab Cal tegas.


"Dan yang terpenting saya adalah adik kesayangan Kak Iya. Bagaimana reaksinya jika Kak Demian tak menerima saya?"


Seringai licik tercetak di wajah tampan remaja berusia lima belas tahun lebih itu. Ia meluruskan punggungnya di sandaran kursi. Demian ternganga baru kali ini ia mendapat tekanan luar biasa dari seorang remaja yang usianya jauh di bawahnya.


"Kau mengancamku?" tanyanya tak suka.


Demian berdecak kagum. Ia berhadapan dengan sosok yang sangat kuat. Selama ini ia pikir tak ada yang bisa menekannya. Bahkan Jac yang super dingin itu tak bisa menggoyahkan Demian jika sudah berkehendak.


"Kau cocoknya menjadi seorang CEO. Bukan asisten pribadi," sahut Demian.


"Memang. Tapi, aku malas jika harus kembali bermain game yang gampang itu," jawabnya malas.


"Astaga, jika kau bersamaku. Aku pasti yang akan bekerja denganmu," sahut Demian merendah.


"Oh .. ayo lah kak, aku masih terlalu muda untuk bisa mengalahkanmu!" seru Calvin tak suka.


"Baiklah-baiklah ... pelajari berkas ini. Sepuluh menit lagi, atur rapat dengan para divisi!" titah Demian lalu menyodorkan satu tumpuk berkas.


"Apa aku diterima?" tanya Cal tak percaya.


"Menurutmu?" sahut Demian memutar mata malas.


Calvin terkekeh. Remaja itu pun akhirnya menerima satu tumpuk berkas untuk ia pelajari cepat. Sedang Demian menutup lowongan kerja.


Waktu berlalu. Calvin benar-benar dapat diandalkan. Demian tak perlu bersusah payah mengajari adik iparnya itu.


"Tuan, apa anda yakin mempekerjakan dia?" tanya salah satu kepala divisi.


"Dia seperti di bawah umur!" ujar salah satunya lagi.


"Kalian lihat saja," jawab Demian tenang.


Benar saja. Cal mampu memberi review bahkan memberi tekanan pada beberapa divisi yang mengalami penurunan, baik secara teknisial dan work sistem. Bahkan penghitungan skala perkembangan produk ia persoalkan.


"Sepertinya sampai di sini rapat saya tutup!" ujar Demian mengakhiri rapat.


Beberapa kepala divisi tampak bersungut-sungut setelah mendapat intruksi perbaikan segera.


"Saya minta laporannya paling lambat besok pagi sudah ada di meja kerja saya!"


Suara bentakan Demian membuat semua orang terkejut dan takut.


"Apa kalian dengar!" bentak Demian lagi.


"De ... dengar tu ... tuan!" jawab mereka terbata-bata.


"Cepat keluar dan kerjakan apa yang barusan saya perintahkan!"


Semua berlari keluar ruangan. Mereka tentu tak mau mendapat masalah dan dipecat dari perusahaan besar ini.


Calvin selesai membereskan semua berkas. Bahkan ia telah memberi tanda pada berkas jika masalah belum selesai.


"Kita akan evaluasi lusa setelah mereka merapikan kesalahan," ujar Demian.


Calvin mencatat semua kegiatan Demian.


"Tuan, kita harus pergi ke perusahaan Triatmodjo untuk memperpanjang kerjasama," ujar Cal memberitahu.


"Kalau begitu ayo. Kita ke rumah sakit dulu dan makan siang bersama kakakmu," ajak Demian. "Setelah itu baru kita ke perusahaan ayah!"


Calvin menggeleng tanda menolak.


"Ayah adalah orang yang sangat disiplin akan waktu. Beliau menyiapkan meeting di sebuah restauran," jelas Cal.


"Lalu kakakmu?" tanya Demian bingung.


"Bilang kakak jika hari ini harus meeting dengan ayah. Kak Iya pasti mengerti," jawab Calvin.


Demian lebih mempercayai perkataan adik iparnya itu. Calvin tentu tahu karakter semua keluarga, terlebih Herman merupakan pengusaha ternama. Di usia sepuhnya, banyak pemimpin perusahaan menjulukinya "CEO legenda".


"Baik lah. Aku hubungi kakakmu dulu. Lalu kita langsung pergi ke perusahaan ayah," putus Demian.


Calvin mengangguk. Ia dan Demian kembali ke ruangan. Jika Calvin mengambil dan menyusun berkas yang dibutuhkan, sedang Demian menghubungi istrinya jika tak bisa makan siang bersama, karena meeting bersama Herman.


bersambung.