TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
RION!



Budiman begitu tersentuh. Sedang di telinganya yang terhubung sebuah earphone. Tengah membisikkan sesuatu. Pria itu langsung mengedarkan pandangan waspada.


"Baby Rion!" pekik Darren.


Semua terkejut. Rion batita montok itu menghilang dari pandangan. Terra mulai panik. Darren sedih karena baru kali ini ia ceroboh kehilangan adiknya. Sedang Lidya menggenggam erat tangan kakaknya..


Budiman juga panik. Seumur hidupnya baru kali ini ia kecolongan. Bagaimana bisa ia kehilangan fokus gara-gara memusatkan perasaannya saja tadi.


Tampak Haidar tengah menenangkan Terra. Pria itu juga mengedarkan pandangan. Budiman menghubungi semua rekannya yang juga mengintai mereka dari kejauhan.


"Cek CCTV!" titah Budiman.


Tiba-tiba.


"Nah, para hadirin sekalian kita lanjutkan acara lomba menyanyi kita ya!"


Sebuah panggung pertunjukan memang sedang berlangsung. Ada perlombaan nyanyi bagi anak-anak.


"Peserta selanjutnya ini sangat spesial karena masih sangat muda. Dengan berani mendaftar diri sebagai peserta!"


"Inilah dia peserta terakhir kita. Ion!"


Mendengar nama Ion. Semuanya menoleh panggung. Budiman membelalakan mata. Jarak antara panggung dan tempatnya bermain cukup jauh bagi anak seusianya. Bagaimana bisa bayi baru satu tahun itu berjalan ke sana tanpa pengawasan.


"Balo! Mamitum malohmahtulohi babalatatuh!" ujar Rion memberi salam.


Baik Haidar, Terra, Darren, Lidya dan Budiman juga semua penonton serta para juri tertawa. Namun tetap menjawab salam dari Rion.


Panggung yang tadi sepi sontak ramai gara-gara salam yang salah dari Rion. Budiman langsung memanggil rekan yang lainnya untuk berjaga di sekitar lokasi panggung. Dua puluh orang berpakaian hitam-hitam merangsek masuk mengelilingi panggung. Budiman langsung mengenali mereka.


Bahkan di mana klien dan juga kedua anak serta Haidar turut mereka jaga.


"Baiklah Dedek Rion akan bernyanyi Pelangi-pelangi! Beri tepuk tangan yang meriah!"


Semua bertepuk tangan. Musik mengalun. Rion sudah menggoyang badannya.


"Pewani pewani matangkah mindahmu. Meyah muning Mijo. BI lamit lang biyu. Melutismy bagung piasa belanan. Pewani pewani picaan Tuhan."


Gemuruh tawa terdengar. Terra terbahak-bahak. Haidar membuang muka. Budiman kakinya gemetar. Bahkan semua pengawal yang berjaga di sekitar panggung tak dapat menahan tawa mereka.


Musik berlanjut, semua bertepuk tangan ikut bergoyang mengikuti irama musik.


"Temangi temangi malampah dindahmu. Mewah, tuning, mejo. BI lamit bang libu. Temukikus dagung paisa belenang. Temangi temangi picaan Tuhan."


Lagi-lagi gemuruh tawa terdengar. Semuanya memegang perut karena kram. Terra lemas dan kini dalam rangkulan kekasihnya. Sedang Darren dan Lidya bertepuk tangan senang.


Budiman hingga kaku wajahnya karena menahan tawa. Hancur sudah image dingin dan kaku miliknya. Bahkan di telinganya juga terdengar para rekan yang mengawasi ikut tertawa terbahak-bahak.


"Macacih ... macacih!"


"Hahaha ... terima kasih Dedek Ion. Sekarang tinggal penjurian dan pengumuman pemenang ya. Karena peserta hanya lima orang. Sepertinya para juri sudah menilai siapa pemenangnya," ujar pembawa acara sambil tersenyum.


Kelima anak muncul di atas panggung sedangkan orang tua mereka ada di belakang mereka. Terra maju dengan kaki lemas karena menahan tawa gara-gara ulah putra bungsunya itu.


"Baiklah juara satu jatuh pada Dedek Ariana!"


Semua orang bertepuk tangan meriah. Semua juara telah diumumkan. Baby Rion mendapatkan juara favorit. Sebuah piala kecil ia persembahkan pada Terra.


"Ini ... tutuk Mama!" ujarnya dengan senyum manisnya.


Terra terharu. Gadis itu menciumi wajah bayi montok itu. Mereka berjalan kebawah panggung dan berkumpul dengan Haidar dan dua kakaknya yang bertepuk tangan dan memberi selamat pada Rion.


Terra menurunkan Rion dan membiarkan bayi itu berjalan. Siapa sangka, ada sosok anak balita lain tiba-tiba datang ingin mendorong Rion.


Terra nyaris berteriak. Kejadiannya sangat cepat. Balita yang usia dan tubuhnya jauh lebih besar dari Rion menangis.


Rion mengelak ketika balita itu hendak mendorongnya itu. Maka jadi dia lah yang jatuh. Ayah balita itu menghampiri anaknya.


"Kau apakan anak saya!" teriaknya tak terima pada batita Rion.


Pria berusia Haidar itu hendak memarahi Rion, namun seketika kicep ketika sepasang mata menatapnya tajam. Dan yang menatapnya adalah Budiman.


Pria itu langsung menggendong putranya yang menangis.


Ternyata balita itu tidak terima jika Rion mendapat piala sedangkan dia tidak. Bagaimana tidak dinilai. Balita itu menangis tiba-tiba dan urung bernyanyi di atas panggung tadi.


Terra mengetahui kejadiannya setelah mendapat penjelasan dari salah satu juri. Mereka pun akhirnya pulang.


Sepanjang perjalanan pulang. Budiman berpikir keras atas apa yang di lakukan oleh batita montok bernama Rion itu. Pria itu sangat yakin jika Rion hanya bayi biasa saja.


Namun ingatannya kembali pada saat ia melempar bola pada bocah menggemaskan itu. Pria itu yakin, jika lemparannya bisa mengenai kepala Rion. Tapi, bola tadi lolos di sisi kepala Rion.


Budiman membelalakkan mata lagi ketika tersadar. Rion memang bukan bayi biasa. Bocah montok menggemaskan itu bisa mengelak lemparan Budiman yang lumayan keras tadi. Sangat tipis hingga tak terlihat. Bahkan ia sangat ingat jika tadi waktu hendak didorong bayi Rion mundur dua langkah sangat cepat.


Pria itu berdecak kagum. Setelah mendapat tekanan dari putra pertama Terra, kemudian kelembutan Lidya. Kini, mendapati kecekatan dan kelucuan Rion.


"Benar-benar keluarga mengejutkan!" pujinya dengan penuh bangga.


Bersambung.


Rion !!! Kamu ngadi-ngadi yaaa!


next?