
Hadijah membuka pintu. Darren tersenyum. Pemuda itu mengangguk.
"Tante Seruni sudah sah menjadi istri dari Om saya, David Leonidas Dougher Young," ujarnya.
Terra dan Khasya akhirnya menyusul. Wanita itu mengamit pengantin dan nyai Hadijah. Seruni masih belum percaya jika ia sudah menjadi seorang istri.
"Sini, Nak. Cium tangan suamimu," titah Gustaf penuh haru.
Dengan langkah bergetar, gadis itu melangkah mendekati pria tampan yang tersenyum lebar. Dav menyodorkan tangannya. Masih gemetaran, akhirnya ia menyentuh tangan pria itu lalu mengecup punggung tangan Dav dengan takzim.
Dav mencium lembut kening istrinya. Hingga membuat pipi gadis itu merona. Semua anak-anak bertepuk tangan meriah.
"Holee ... pita bunya Mama balu!" seru Dewi sambil menggoyang pinggulnya.
"Mama Beluni!" tiba-tiba Benua datang ingin meminta gendong.
Gisel yang mengandung memang bulan lahirnya itu tampak kesusahan menjaga putranya yang memang kelewat aktif itu. Sedangkan sang suami sedang berjaga di luar.
"Baby, sini!" panggil Terra.
"Tidak apa-apa, Kak," Seruni langsung menggendong Benua yang baru berusia satu tahun setengah itu.
"Pantit sepali ... Mama Peluni!" puji Benua dengan mata berbinar.
"Hei, kau mau menggoda istriku ya?!" sahut Dav lalu mencium gemas bayi tampan itu.
Mendengar ucapan pria itu semua terkekeh.
"Ini nggak dilanjut, acara nikahannya. Belum sah secara negara loh?" tanya penghulu menyindir.
Dua pengantin pun duduk, Seruni yang memangku Benua. Gemetaran memegang pulpen.
"Mama, tanana gelat-gelat!" seru Benua takjub. Ia baru melihat tangan orang yang gemetaran.
Gisel menepuk keningnya. Semua hanya mengumbar senyum lebar. Gustaf memanggil bayi yang ada di pangkuan Seruni.
"Sini!" sambil menepuk-nepuk pahanya.
Benua pun bangkit dari pangkuan Seruni. Memang bayi itu paling berani. Sedangkan yang lain, bukannya tak bisa melakukan hal sama. Tetapi, para ibu mereka menahan. Sedang Rion mulai menunjukkan kuasanya pada bayi-bayi itu.
"Baby!" panggilnya.
"Penua mawu pisitu ... pebental, ya," ujar bayi itu memohon.
Rion hanya menatap bayi itu. Akhirnya Benua memandang wajah pria sepuh yang memanggilnya dengan tatapan sedih.
"Tidak apa-apa, Nak," ujar Gustaf lembut.
Benua masih menatap kakaknya untuk meminta persetujuan. Rion akhirnya mengangguk, lalu memberi kode jangan nakal. Benua akhirnya tersenyum lebar. Ia pun langsung duduk di pangkuan pria sepuh itu.
"Tate ... bulitna tot taya dhini?" tanyanya serius sambil mengusap wajah keriput pria uzur itu.
"Karena Ya'i sudah tua, Nak," jawab Gustaf. Ia mulai mengerti bahasa bayi.
"Oh ... bedituh lupana," sahut Benua sambil mengangguk tanda mengerti.
Karena melihat saudaranya diperbolehkan. Semua anak-anak melepaskan diri dan mengerumuni Gustaf.
Dav dan Seruni sudah selesai menandatangani beberapa berkas dan buku nikah. Mereka memamerkannya dan diabadikan oleh fotografer. Bahkan momen-momen tadi juga tak luput dari jepretan kamera. yang langsung menjadi foto prewedding keduanya dan di pamerkan di luar ruangan.
Semua mulut terdiam. Semua bibir yang nyinyir pun tersenyum kecut. Mereka dengan jelas mendengar mahar yang diberikan pengantin pria pada pengantin wanita.
" .... dengan mas kawin uang sebesar lima ratus dinar dan satu unit mobil dan emas seberat lima gram dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawin Seruni binti Ahmad almarhum dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Dan terdengarlah kata Sah dari mulut para saksi. Para tetangga berdatangan mereka memakai baju terbaik mereka. Semua terngaga melihat souvernir yang dibagikan. Sebuah kristal berbentuk angsa dengan ukiran tinta emas bertulis nama keduanya.
Mereka begitu bingung ketika tidak ada kotak untuk memasukan uang, yang seperti biasanya ketika mereka menghadiri undangan.
"Eh, duitnya kita taro di mana nih?" tanya mereka bingung pada among tamu..
"Dibawa pulang aja lagi Bu. Yang nikah miliarder, jadi nggak perlu uang dari para tamu," sahut among tamu yang berdandan cantik itu.
Darren tampak mengobrol dengan Budiman. Tiba-tiba pandangannya teralih pada sosok cantik berhijab biru dengan gamis senada. Terlihat gadis itu memiliki lesung pipit yang begitu kentara.
"Ehem ...!" tegur Budiman dengan tatapan tajam.
"Bukan begitu Tuan muda. Jangan sembarangan tertarik dengan wanita. Kadang, penampilan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan," petuah pria beranak akan tiga nanti.
Darren hanya menghela napas. Ia tak bisa menyangkal apa kata pria itu. Memang, kita tak bisa menolak ukur tabiat seseorang dengan penampilan.
Sedang Rion yang banyak digandrungi para wanita semenjak taman kanak-kanak itu, cuek dengan sekitarnya. Ia hanya memperhatikan tingkah anak-anak. Sedang Lidya sudah membaur dengan gadis-gadis seusianya dan semua adalah santrinya Ya'i Gustaf.
"Wah, kukira orang kaya itu sombong ya!" sahut salah satu gadis.
"Siapa yang kaya?" tanya Lidya tiba-tiba.
"Eh .. itu ... kamu kan kaya,. Masa mau bergaul dengan kita orang miskin?"
Lidya tersenyum.
"Yang kaya itu Allah, bukan manusia," sahutnya tegas menjawab pertanyaan gadis itu.
Semua tamu memberi selamat atas pernikahan Dav dan Seruni. Betapa kebahagiaan terpancar di wajah kedua mempelai itu. Bahkan, pria itu mulai berani menggenggam tangan Seruni.
"Mas ...," cicit gadis itu dengan rona di pipinya.
"Apa sayang," Dav dengan berani juga mencium mesra tangan sang istri.
"Malu ih," sahut gadis itu merajuk.
Dav hanya tertawa pelan. Kini ia suka menggoda Seruni dengan rayuan-rayuannya. Gadis itu makin memerah mukanya akibat rayuan maut sang suami.
"Mas ... udah ih ... malu!" rengek gadis itu.
"Baik, sayang ... maaf ya," ujar David menyudahi rayuannya.
Tiba-tiba Rion sudah di atas panggung.. Lagu marawis berganti dengan lagi milik almarhum Uje. "Bidadari syurga".
Semua terpana dengan suara merdu remaja itu. Melihat ada yang menyanyi, semua anak naik ke atas panggung. Terra, Khasya, Puspita, Gisel, Maria dan semuanya tak dapat mencegah.
".... engkaulah ... bidadari syurgaku ...."
Rion menyelesaikan lagunya. Semua bertepuk tangan. Para bayi tak mau ketinggalan.
"Penua bawu manyi!' pekik Benua.
"Bomesh Pulu!" sahut Bomesh.
"Gantian Baby, oteh!" peringat Rion.
"Oteh!" sahut keduanya menurut.
"Pak, bisa lagu anak-anak kan?"
Pengiring organ tunggal mengangguk. Lagu "Balonku" jadi lagu pertama yang dinyanyikan oleh Benua.
"Palontuh bada pima ... lupa-lupa bawalna. Bijo, punin, belabu ... pewah puda ban libu ... tulutus palon punin ... dol!"
"Palon pijo don, tot palon bunin?" protes Bomesh.
"Posen ah ... pasa, Palon pijo telus yan tulutus!" jawab Benua dengan musik yang terus berjalan.
"Oh ... oteh!' sahut Bomesh mengangguk.
"Tol ... batitu sanat pasau ... palontuh pindah pentat ... tutepan lelat-lelat!" lanjutnya.
Semua pun tertawa. Seruni terpana mendengar Benua menyanyikan lagu salah. Ia pun terduduk lemas.
"Sabar ya sayang, kita akan hadapi ini seterusnya. Karena ketua bayi ada di sini," sahut Dav mengelus punggung tangan istrinya.
"Siapa?" tanya Seruni ingin tahu.
"Tuh!" tunjuk Dav pada remaja tampan yang berada di panggung dan memimpin para bayi yang ingin menyanyi.
Bersambung.
Rion always the best
next?