
Delapan balita itu tengah berkumpul. Mereka sepertinya serius tengah membicarakan sesuatu. Acara karaoke terhenti karena padamnya listrik.
"Manti palo pudah beusal. Cal mau punya pistlik peundili!" sahut Cal sebal, tadi gilirannya bernyanyi. Listrik malah padam.
"Pistlik ipu bunya spasa sih?" tanya Nai heran.
"Pata Mommy bunya belgala," jawab Al.
"Badam itu sama sebuelti mati tan?" tanya Nai lagi.
Semua mengangguk.
"Beulalti talo nyala pistliknya hidup?" lagi-lagi semua mengangguk.
"Butannya talo mati itu halusnya pitubul?"
Kini semua saudaranya menatap Nai serius. Virgou dan lainnya hanya menyimak apa yang mereka bicarakan. Kadang perdebatan anak-anak menjadi obat paling mujarab untuk menghilangkan stress.
"Patsudmu, Nai?" tanya Arimbi tak mengerti.
"Teumalin, Pit Puni penu banat meong mati, pitubul pi tanah belatan mumah," jelas Nai serius.
"Ini pistlik mati, tot beunda pitubul?"
Semua saling menatap satu sama lain. Semuanya juga hening, tak tahu kenapa listrik mati tidak segera dikubur.
"Pata Pit Puni, meong pan mati teumalin talo pidat pitubul walwahna betayangan," sahut Nai lagi.
"Pisa jadhi pidat ditubul. Tan pistliknya batal pidup ladhi!" ujar Kean memberi pendapat.
"Butan pistlik nya yan pidup. Pati walwahnya petayangan!" sahut Nai.
"Eman walwah pa'a?" tanya Daud.
"Walwah ipu hantu seulem!" jawab Nai.
Terra membesarkan matanya. Ia akan menegur Juni nanti, agar tidak memberi info yang salah lagi. Baru saja, ia ingin menegur anak-anak, Virgou menahannya.
"Biarkan mereka. Aku merekamnya!"
Terra pun urung mendekati anak-anak. Ia duduk bersandar di kaki Virgou, ikut menyimak anak-anak berbicara. Sedang Darren, Lidya dan Rion juga hanya mendengarkan percakapan adik-adik mereka.
Rion pun akhirnya datang menyambangi. Ikut bergabung dengan anak-anak.
"Ata'Ion. Hantu ipu pa'a?" tanya Satrio.
Puspita dan Khasya tengah bermain dengan bayi-bayi mereka.
"Hantu itu pocong, kuntilanak, Wewe gombel dan lain sebagainya," jawab Rion.
Terra lagi-lagi terkejut mendengar jawaban putranya itu. Virgou menahan laju tubuhnya ketika ingin menyanggah perkataan Rion.
"Diam!" desis Virgou melarang adiknya itu.
"Buntilanak?" tanya Sean sambil memiringkan kepalanya.
Herman dan Haidar hanya bisa menahan tawa mereka. Tetapi, mereka tidak mau menghentikan percakapan acakadut anak-anak mereka.
"Iya, kuntilanak," jawab Rion.
Darren menggeleng, sedang Lidya hanya bisa mendengkus melihat kejahilan Rion.
"Bewe pombel ipu pa'a?" tanya Satrio ingin tahu.
Rion yang sudah bergaul dengan murid-murid sekolah bahkan dengan anak kelas enam SD yang sering mendengar percakapan hantu dan sejenisnya.
"Wewe gombel itu hantu yang nyulik anak kecil yang nggak suka sholat dan main di luar pas Maghrib!"
Kedelapan balita itu langsung menegakkan tubuh mereka. Semuanya memang belum wajib sholat. Tetapi, ketika adzan, mereka ikut shalat.
"Hayo, siapa di sini yang tidak suka sholat?" tanya Rion menakuti.
Semuanya menggeleng. Tentu saja, mereka memang suka sholat. Rion tersenyum jahil.
"Plus boton ipu pa'a?" tanya Kean.
"Butan boton. Poton!" ralat Sean.
"Butan! tapi bosyon!" ralat Satrio.
"Bosyon, posyon, boton itu sama!" sahut Darren tiba-tiba.
Semua menoleh.
"Sama-sama salah!" Darren pun terbahak.
Kedelapan balita itu pun langsung menerjang kakak tertuanya itu. Mereka menindih Darren hingga pria kecil itu minta ampun.
"Ampun Babies!"
"Ata' Pallen, Ata'Ion pilan bosyon! Tenapa palah!"
"Pocong baby. Bukan bosyon, posyon atau boton. Tapi, pocong. Coba ulangi!" pinta Darren sambil memeluk Kean yang masih setia di atas tubuhnya.
"Poton!"
"No ... coba ... po!"
"Po!"
"Cong!"
"Tong!"
"Ce bukan Te!"
"Be putan pe!'
Tiba-tiba listrik pun menyala. Semua anak pun gembira. Acara karaoke dilanjutkan. Semua pun lupa perkara hantu, pocong dan lain sebagainya.
"Limbi mawu banyi!" pinta gadis balita itu semangat.
Mik pun sudah berada di tangannya. Sebuah lagu "burung kakaktua". Musik pun mulai.
"Pulun ata' puwa ... pentlot bi pelenda ... penet pudah puwa ... pijina pindal buwa... bet bun ... bet pun ... pet pun palala .. pet pun ... bet ... pun, petun talala ... betun ... petun ... letun balaalaaa ... pulun patat buwa!"
"Ih, Ayah!" sindir Terra sebal.
Herman terkikik geli. Lagu usai. Kini Kean ingin bernyanyi "Naik delman". Musik pun mulai.
"Bada pali pindu bululut Ayah petota ... bait pelman bistiwewa pududut pimuta ... bududut pantin patusil, pan pedan peleja ... pendalani puda puyaya bait palana ... hey ... tutitatitutitatitutitatitu ...
putitatitutitatitutita buala bastu puda!"
"Ata' Ion banyi!" pinta Al kini.
Rion memilih lagu. Para orang dewasa masih sengit pada Herman. Sedang pria tua itu tertawa tertahan.
Musik dangdut terdengar, semua orang dewasa pun terdiam. Lagu milik Eri Susan, "Muara kasih Bunda."
Mama.
Engkaulah muara kasih dan sayang
Apapun pasti kau lakukan
Demi anakmu yang tersayang
Bunda
Tak pernah kau berharap budi balasan
Atas apa yang kau lakukan
Untuk diriku yang kau sayang
Saat diriku dekat dalam sentuhan
Peluk kasihmu dan sayang
Saat kujauh dari jangkauan
Doamu kau sertakan
Maafkan diriku Mama
Kadang tak sengaja kumembuat
Relung hatimu terluka
Kuingin kau tau Mama
Betapa kumencintaimu lebih dari segalanya
Kumohon restu dalam langkahku
Bahagiaku seiring doamu
Mommy
Tak pernah kau berharap budi balasan
Atas apa yang kau lakukan
Untuk diriku yang kau sayang ....
I love you, Mama, Bunda dan Mommy!"
Lagi-lagi lirik diubah. Tapi, makna lagu itu tidak berubah. Terra menangis penuh haru. Begitu juga dengan Khasya dan Puspita. Sedang para ayah iri karena tidak mendapat lagu. Darren pun berinisiatif. Ia mengambil mik dan memutar musik. "Ayah dari Seventeen".
Engkaulah nafasku
Yang menjaga di dalam hidupku
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
Kau tak pernah lelah
Sebagai penopang dalam hidupku
Kau berikan aku semua yang terindah
Aku hanya memanggilmu Papa
Di saat ku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu Daddy
Jika aku tlah jauh darimu
Kau tak pernah lelah
Sebagai penopang dalam hidupku
Kau berikan aku semua yang terindah
Aku hanya memanggilmu Ayah
Di saat ku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu Papa
Jika aku tlah jauh darimu ...
i love you, Papa, Daddy, Ayah."
Kini para pria yang menangis haru. Virgou memeluk Darren dan menghujaminya ciuman. Anak-anak pun ingin dicium, begitu juga Lidya.
Kini acara karaoke pun berakhir. Anak-anak mulai mengantuk. Mereka pun langsung ke kamar dan meminum susu dalam botol mereka masing-masing.
"Ah, kenapa kalian cepat besar sih?" sahut Terra membelai para balita itu.
"Terutama kamu sayang. Kamu jauh lebih besar dari usia juga tubuhmu. My Baby," ujar Terra kemudian mencium lembut kening Rion.
bersambung.
ah ... anak-anak ...
next?