TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
HEBOH



Mansion Virgou seketika heboh. Dipto, Septian dan Nania begitu terkejut dengan semua yang terjadi.


"Mashaallah ... ramainya!" seru Nania dengan mata berbinar.


Wajah mereka tak berhenti tersenyum lebar, bahkan harus menahan tawa akibat ulah sembilan perusuh itu.


Benua, Domesh, Sky, Bomesh, Harun, Bariana, Azha, Arion dan Arraya. Tampil dengan gemilang dan sukses membuat semua perut orang dewasa kram.


"Pait lah ... setalan pita beulsembah tan ... ladhu dali Baby Baliana!" seru Sky memandu acara.


Bayi cantik itu tampil dengan mik. Maria sudah memasang kameranya. Gomesh juga ada di sana menyemangati putrinya.


"Alo!" sapa Bariana dengan suara besarnya.


"Hi baby!" sambut semua orang dewasa.


"Atuh, Baliana ... lam nal!" sahutnya mengikuti ucapan kakaknya Bomesh.


"Lagu apa baby?" tanya Nai.


"Nton petpet sasa!" jawab Bariana antusias.


Semua tahu apa lagu itu. Karena kemarin Azha menyanyikannya dengan sempurna.


Musik belum dimulai, tapi tubuh Bariana sudah bergoyang ke kiri dan ke kanan. Saf dan Darren begitu gemas melihat para bayi beraksi.


"Aku ingin anak kita seperti mereka, sayang," harap pria itu berbisik.


"Ya, aku juga mau anak kita secerdas dan seberani kakak-kakaknya," bisik Saf.


"Potpot empet nsa ... sasa pi luali ... nya nta pasa ... pasa tua tali ... bolon tilili ... bolon nanana ... lalalalalalala ... polon bilili ... olon tanana ... lalalalala!"


Semua bertepuk tangan dengan wajah memerah ... Virgou sudah menyembunyikan wajahnya di bahu Herman yang nyaris terbahak. Terra memeluk Rion yang ikut bernyanyi ala bayi.


"Kau raja bayi!" ketus Terra sebal pada bayi besarnya itu.


Rion hanya tersenyum. Ia terus memberi semangat pada Bariana yang seketika mulai lelah bernyanyi.


"Huuffhh ... nton ... petet sa sa ... sasat si mulai ... nya tata nsa ... pasa piuali ... bolon silili ... polon anana ... lalala ... ape'!"


Bariana melempar mik yang langsung ditangkap oleh Kean. Semua tetap bertepuk tangan walau musik terus berjalan, sedang Bariana sudah menghentikan nyanyiannya.


"Peultubung tat peulesai banyina ... pita atan beuldenal tan ladhu dali Baby Balion!"


Arion maju dengan baju kodok warna jingga. Ia sudah bergoyang padahal musik belum mulai bahkan ia juga belum memilih lagu.


"Atuh nya panjin beusil ... bubeli bana heli ... pia penan beulbain-pain ... bambil peulali-lali. beli ... dut ... dut ... dut .... teumali ... dut ... dut ... dut. Yo ali ... li ... beli ... ut ... ut ... ut ... peulani ... put ... put ... put ... payo pali-pali!"


Lagu "Heli" telah ditemukan. Kini Arion sudah bernyanyi lagu sama. Selesai Arion, berganti Azha, selesai Azha berganti Ariana. Lalu kakak mereka Sky, Benua, Domesh dan persembahan terakhir adalah Bomesh.


"Bom eundat pawu banyi!" seru bayi itu memberitahu.


"Lalu mau apa baby?" tanya Haidar yang sudah memerah mukanya.


Putri, Jac, Septian, Dipto dan Nania benar-benar merasa terhibur. Mereka lemas bukan main karena tertawa tertahan dari tadi.


"Bahkan Baby Aaima tak bangun ketika mendengar kakak-kakaknya bernyanyi," ujar Lidya.


Wanita itu kini menciumi bayi sahabatnya itu. Nania dan Dipto terharu akan kasih sayang keluarga besar Terra. Putri menatap sahabatnya.


"Aku tak tahu apa yang terjadi pada hidupku, jika tak mengenalmu, Lid," ujarnya dengan tatapan haru.


Nania dan Dipto mengangguk setuju. Tanpa kehadiran keluarga Terra dalam kehidupan mereka. Baik Dipto dan Nania mungkin akan terus merana sepanjang masa.


"Aku bangga bisa mengenalmu," ujar Putri penuh kebanggan.


Lidya hanya tersenyum dengan rona merah di pipi.


"Aku hanya perpanjangan tangan. Garis hidupmu sudah diatur sedemikian rupa. Itu berkat pertolongan Allah menyentuh hati sanubari mama untuk menolongmu," jelas Lidya.


Putri mengangguk membenarkan.


"Tapi, jika bukan kau adalah putri dari Terra Arimbi Hugrid Dougher Young, aku mungkin tak bisa seperti sekarang ini," sahut Putri.


"Sudah, lupakan itu. Oke, sekarang kita nikmati persembahan dari adik-adikku," ujar Lidya.


Semuanya kini kembali terfokus pada panggung kecil di depan mereka. Bomesh akan mempersembahkan aksinya.


"Bada buatu hali ... bi beubuah hutan peulantala ... bidup lah seetol tela yan licin ...."


"Licik, baby!' ralat Kean.


"Ya batsutna ipu!"


Terra gemas bukan main. Ingin sekali dia naik dan menciumi semua perusuh yang mengikuti cerita Bomesh.


"Atuh hutan!" seru Sky tiba-tiba.


"Huufffhh!" semua menahan tawanya.


Herman sampai berteriak kesakitan karena Virgou mengigit gemas bahu pria uzur itu.


"Apa-apaan kau!" teriaknya.


"Berisik!" tegur Bart dengan mata melotot pada Herman.


"Tolon wowan pewasa, janan menandu acala!" tegur Domesh tegas.


Semua mata menatap gemas pada bayi yang baru saja menegur orang yang besarnya empat kali lipat dari mereka.


"Gomesh aku ingin mengigit pipi bulat bayimu itu!" tekan Virgou geregetan.


"Pisa pita lanzutan?" tanya Sky pada hadirin sekalian.


"Bisa!" semua berseru kompak.


"Paitlah!" ujar Bomesh ingin melanjutkan.


Batita itu membuka mulut, tapi kemudian keningnya berkerut tanda berpikir. Bayi itu lupa sampai mana ceritanya.


"Ata' padhi pampai pana ceulitana?" tanyanya serius.


Semua benar-benar gemas melihat mimik bayi tampan itu. Bahkan kedelapannya juga ikut berpikir sampai mana ceritanya tadi.


"Sampai di kera yang licin eh ... licik!" sahut Samudera.


"Ah ... ya ... matasih Ata' Pamudla!" sahut Bomesh dengan senyum indahnya.


"Sama-sama," sahut Samudera.


Semua nyaris gila melihat betapa menggemaskan bayi-bayi yang tengah beraksi di panggung kecil itu.


Bagaimana Harun, Azha, Arion, Arraya dan Bariana bisa kompak dengan kakak-kakak mereka.


"Teulinsi pompat-ponpat hendat menambil woltel!"


Arion melompat-lompat ala kelinci.


"Ai ... tat au otel!" teriak bayi itu.


"Hanya pula-pula baby!" sahut Domesh memberitahu.


"Pula-pula?" tanya Bariana.


"Atuh pula-pula!" tunjuknya.


"Brrfffhh!" semua menahan tawanya.


Domesh pun bingung menjelaskan perbedaan antara kura-kura dan pura-pura yang ia maksud tadi.


"Sutah lah ... pita banjut tan ladhi!" seru Bomesh.


Semua bergulingan di lantai mendengar ucapan Bomesh. Rion yang ketua regu ternyata juga tak tahan dengan kelucuan pasukannya.


"Buetli Alaya seutalan syudah pembuh dali beunyatina. Ponyet licit pudah bitantap oweh laja hutan, sina Sty!"


"Haaauuummm!" seru Sky mengaum.


"Atuh laja hutan atan benhutummuh!" serunya sambil menunjuk Arion yang menjadi kera nakal.


Arion yang ditunjuk berjoged senang.


"Oleee ... tuh akap!"


"Latu Alaya pun bidup pahadia beulamana!"


Kisah usai semua lega dan bertepuk tangan meriah. Bart pun bersorak.


"Lagi ... lagi!"


"Talena Bomesh peulum banyi ... Bomesh atan beulpanyi tan ladhu!" seru bayi itu.


Bomesh mengangguk pada Nai. Remaja itu sudah mengurut pipinya yang sakit akibat terus menerus tersenyum. Ia menyetel lagu yang di pinta Bomesh.


"Ladhu untut mama peumuana!"


Musik berjalan, semua anak bergoyang bahkan sembilan perusuh itu memegang mik masing-masing.


"Papa yan tupelitan buntut mama ... buntut mama teulsayan!" Harun bernyanyi dengan serius.


Puspita dan Seruni menangis mendengar lagu itu. Sedang Terra, Khasya dan Gisel saling berpelukan. Putri tersenyum lebar. Ia benar-benar terharu dengan suasana menyenangkan ini. Putrinya Aaima tampak tenang dari tadi. Jac sibuk merekam semua aksi para perusuh itu.


"Tat bumilili tututu haldha tutut mama beulcinta ...!" Azha bernyanyi.


Virgou tersedak ludah sendiri. Herman langsung berdiri dan keluar dari ruangan untuk buang angin. Haidar dan Dav sudah tak tau harus apa. Darren Rion dan Demian hanya memandang para bayi dengan wajah pasrah.


"Hanya ingin ... tupanyi tan ... ladhu cintatu puntut mama ...." Sky bernyanyi.


"Panya beulpuah ladhu peulbelahna ...," Benua bernyanyi.


"Ladhu cintatu ... puntut ... mama!" sembilan perusuh bernyanyi bersamaan.


bersambung.


ba bowu Mama ❤️❤️❤️❤️❤️


next?