
Semuanya makan dengan nikmat. Bahkan keempat balita itu makan dengan lahap. Mereka sangat senang karena baru kali ini mereka makan di luar.
"Lihatlah anak-anak. Betapa mereka sangat senang diajak keluar. Kalian memang keterlaluan sekali!" sindir Bart pada Terra dan Haidar.
"Mungkin mereka takut uangnya habis jika dipakai untuk anak-anak bersenang-senang," sahut Bram menimpali.
"Pa ...," Haidar merajuk.
"Apa!" sahut Bram ketus.
Keempat bocah memandangi kakek dan buyut mereka bermuka masam. Lagi-lagi Sean berbisik pada Al.
"Ipu Tate penata mutanya kesut taya jeluk pasem?"
Al menatap wajah kakeknya. Ia mengernyit.
"Eundat Pahu, muntin Tate apis matan jeluk," sahutnya juga berbisik.
"Pana jeyukna?" tanya Nai dan Daud bersamaan.
"Ipu di muta Tate," tunjuk Al.
Virgou melipat bibirnya. Terra menunduk pura-pura mencari sesuatu di bawah, Budiman melihat arah lain. Sedang Haidar terbatuk mendengar perkataan salah satu putranya itu.
Bram gemas bukan main. Kanya nyaris saja terbahak jika ia tidak mendapat pelototan dari suaminya. Sedang Bart tengah mencerna apa perkataan cucunya. Karena tidak mengerti ia bertanya pada Bram.
"What he said?"
"Ck ... you kidding me?" tanya Bram kesal pada Bart.
"Hey, i didn't know what he said! So i ask you!" sanggah Bart memang tidak mengerti.
Bram memilih tak menjawab. Ia masih gemas dan menciumi Al yang mengatainya jeruk masam. Al tergelak. Daud, Nai dan Sean juga ingin diperlakukan sama. Dengan senang hati, pria paru baya itu melakukan hal itu.
"Sungguh pintar kalian membawa mereka," ketus Bram lagi.
Bart tidak jadi ingin tahu apa yang tadi di maksud Al, cicitnya. Pria itu akhirnya paham maksud dari perkataannya. Pria itu terkekeh sangat pelan.
"Pa, sudah dong marahnya," rajuk Terra merangkul lengan ayah mertuanya.
"Hei, kau merayu suamiku dan melewatkan istrinya?" sentak Kanya cemberut.
"Buami,.bistli?" Nai tiba-tiba menyeletuk.
"Ah, temalin Cal pilan mawu bistli buwa. Muntin Oma tawu bistli pa'a!" sahut Sean mengingat perkataan saudaranya.
Kanya melotot. Terra terkikik geli.
"Ish ... kau mengerjai Mama!" tekannya kesal pada menantunya.
Terra hanya mengendikkan bahu. Ia masih setia bergayut pada Bram. Haidar dan Virgou serta Budiman sedang membujuk Bart.
"Oma, padi pilan bistli, emanna Oma pahu ipu pa'a?" tanya Sean serius.
"Bistli itu makanan daging saus barbeque," jawab Kanya asal.
"Tuh, tan Sean beunel, temalin pilang bistli ipu matanan!" sahutnya pada ketiga saudaranya.
Al, Daud dan Nai mengangguk.
"Talo puami pa'a?" tanya Nai juga.
"Puami itu makanan juga," jawab Kanya asal lagi.
"Ma!" tegur Terra.
"Apa, Mama harus jawab apa?" tanya Kanya gusar.
"Kau lah jawab sana pertanyaan anak-anak mu itu!" lanjutnya gusar.
Akhirnya Terra membiarkan jawaban asal itu. Yang penting keempat anaknya tidak lagi bertanya.
Kini semuanya pergi dari tempat itu. Keempat anaknya sudah tertidur. Budiman menggendong Al, Haidar menggendong Daud dan Nai. Sedangkan Virgou menggendong Sean.
Semuanya pulang ke rumah Terra. Selang dua puluh lima menit mereka sampai. Virgou meletakkan Sean di kamarnya lalu pamit pulang. Ia akan datang bersama anak dan istrinya nanti malam.
Kanya masuk kamar anak-anak ia kangen ingin tidur bersama cucu-cucunya. Sedang Bart dan Bram tengah duduk santai di ruang tengah. Mereka mengobrol soal bisnis baru.
"Aku ingin membuka perusahaan permata di sini. Di negaraku banyak peminat batu mulia juga permata asal negara ini," jelas Bart yang menemukan ide bisnis barunya.
"Sepertinya itu bagus. Batu-batu mulia negara kami tak kalah dengan permata Afrika. Kualitasnya juga tak kalah bagusnya," sahut Bram setuju.
"Kita akan cari dan mulai bekerja sama dengan penambang lokal dan mendirikan usaha di sana," saran Bram lagi.
"Wah, sepertinya ada ide usaha baru nih. Boleh gabung?" sela Haidar sembari duduk di sebelah Bram, ayahnya.
"Hais ... kau ini. Kami masih marah denganmu!" celetuk Bart masih kesal.
"Grandpa, kau belum mengelus perut Te ...," rengek cucunya sambil menggelayut manja.
"Ah, ini lagi. Kenapa kau membawa senjata yang tak bisa aku tolak!" gerutunya tapi sambil mengelus perut buncit Terra.
Wanita itu tersenyum lalu duduk diantara kakek dan mertuanya. Terra mengambil tangan Bram dan meletakkannya di atas perutnya. Bram akhirnya mengelus perut menantunya itu.
"Hai, jagoan Kakek. Kalian yang tenang ya di sana dsn biarkan kami memarahi Ayah dan Ibu kalian," ujar Bram.
"Papa, Grandpa," rengek Terra manja. "Sudah dong marahnya."
Bart dan Bram akhirnya menghela napas panjang. Keduanya juga tak tega memarahi Terra terlalu lama. Bisa-bisa gantian wanita hamil itu yang ngambek.
"Sayang, kami juga butuh perhatian. Memang kami sudah lanjut usia. Kami pun paham kesibukan kalian. Tetapi, melihat drama dan kesenangan kalian dan melupakan kami. Kami jadi sedih," aku Bart sendu.
"Maafkan Te dan Idar, ya," pinta Haidar kini dengan wajah memohon.
"Baiklah, asal kalian kembali membuat drama dan menghadirkan kami di sana," sahut Bram memberi syarat.
Terra dan Haidar mengangguk. Akan ada keseruan kembali di rumahnya nanti sore. Wanita itu pun mencium pipi kedua pria kesayangannya itu.
Tiba-tiba ponsel Terra berdering. Nama 'Ayah' tertera di layar. Kini dia menepuk dahinya.
Halo assalamualaikum," sahut Terra mengangkat telepon.
"Wa'alaikum salam. Apa kau ingin menjadi anak durhaka!" bentak Herman di seberang sana. "Bundamu sudah pulang tiga hari lalu dari rumah sakit dan kalian belum ada satu pun yang datang menjenguk!"
Terra sengaja menyalakan pengeras suara. Bram langsung menyahuti perkataan Herman..
"Ya, Terra memang sudah menjadi anak durhaka, bahkan dia belum memberi tahu jika istrimu sudah melahirkan!"
"Kau ini, bahkan Mertua mu harus mendatangi rumahmu? Apa aku harus menyeretmu datang ke mansionku Terra!" bentak Herman lagi.
"Ayah," rengek Terra.
"Ayah tidak mau tahu. Kalian semua harus datang ke mansion ku sekarang juga!' titahnya.
"Tapi, anak-anak masih tidur," jawab Terra.
"Ya setelah anak-anak bangun! Apa Ayah harus mengajarimu!" bentak Herman lagi sangat kesal.
"Kami akan ke mansion mu, Tuan Triatmojo," sahut Bart kini.
"Astaghfirullah. Bahkan kau buat Kakekmu yang tinggal jauh di sana mendatangimu?!" tekan Herman lagi.
"Ayah ...," rengek Terra kehabisan kata-kata.
"Aku akan menyiapkan kamar untuk kalian semua!" tekan Herman lagi.
"Baik, Ayah," sahut Terra lemah.
Sambungan telepon terputus. Herman benar-benar kesal dengan kemenakannya ini. Pria itu sudah memberi tahu jika ia dan istri sudah ada di rumah tiga hari lalu. Tapi, tak satu pun batang hidung kemenakan dan suaminya itu datang berkunjung.
"Aku akan menghukum mereka nanti!" janji Herman kesal.
bersambung.
Hahahaha...
next?