TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
TIGA BERSAUDARA YANG BERBEDA TEMPRAMEN



Sore hari pun tiba, anak-anak sudah mandi dan bersih juga wangi. Mereka bermain bersama kakak-kakaknya. Lidya membuat permainan teka-teki. Bagi siapa yang bisa menjawab, ia boleh maju satu langkah.


Peta permainan dibagi tiga tim. A, B dan C, tim A terdiri dari para balita, Maisya, Affhan, Dimas dan Samudera. Tim B diisi para bayi, Dewa, Dewi, Rasya dan Rasyid. Sedang tim C terdiri dari Nai, Al, Sean, Daud, Kean, Cal, Satrio dan Arimbi.


"Pertanyaan untuk Tim C. Siapapun yang menjawab kalian berhak maju satu langkah," ujar Lidya memberitahu.


"Berapakah Dua puluh di kali ... dua?"


"Empat puluh!" jawab kedelapan anak kompak.


"Benar. Semuanya maju satu langkah, jika ada yang ke dapatan dua langkah harus mundur lagi dari awal!"


Nai, Sean, Al, Daud, Kean, Cal, Satrio dan Arimbi maju satu langkah. Rion menjadi pengawasnya.


"Pertanyaan untuk Tim A!"


Maisya, Affhan, Dimas dan Samudera bersiap. Diantara semuanya, Samudera lah yang paling kecil, dua tahun tiga bulan.


"Apa nama hewan yang jalannya ... lambat!"


"Bula-bula!" sahut Affhan semangat.


"Dula-dula!" jawaban berbeda disebut Samudera.


"Tula-tula!" Maisya menjawab paling mirip dengan jawaban yang benar.


"Maisya benar. Semuanya maju satu langkah!"


Ketiga anak imut itu melangkahkan kakinya lebar-lebar satu kali. Rion mengawasi perbuatan mereka.


"Untuk tim B. Apa nama hewan berkulit belang dan suka mengeong?" tanya Lidya lagi.


"Bucin!" seru Rasyid.


"Tuzin!' jawab Dewa.


"Pucin!" jawab Dewi.


Rasya berpikir keras, ia ingin jawabannya berbeda.


"Belo Piti"


"Benar sekarang kalian maju satu langkah!"


Keempat bayi lucu itu melangkah kakinya, bukannya maju mereka malah mundur. Semua nyaris tertawa. Keempatnya bingung kenapa malah jalan mereka mundur. Rion masuk tim B dan memberi contoh. Mereka pun melakukan nya dan berhasil.


Semua pertanyaan dijawab dengan benar. Masing-masing posisi menjadi ketat. Target hadiah sudah sampai di depan mata. Darren menggoyang-goyangkan tiga batang coklat yang menjadi hadiahnya.


"Ini pertanyaan hanya untuk satu orang yang bisa menjawab. Harus tunjuk tangan ya,"


"Iya Ata'Iya!" sahut para balita.


"Pertanyaannya adalah ... siapakah nama lengkap ...," Lidya menghentikan perkataannya.


"Mama!"


Kean langsung unjuk tangan lebih dulu dibanding saudara-saudaranya. Nai kesal, Sean manyun, Daud memberengut, Al bersidekap, Cal mencebik sebal. Satrio menghela napas kesal sedang Arimbi menghentak-hentakkan kakinya.


"Terra Arimbi Hugrid Dougher Young!" jawab Keanu semangat.


Terra bertepuk tangan.


"Benar, kalau nama Papa siapa?" Kini Arimbi yang tunjuk tangan lebih cepat.


*Haidar Hovert Putra Pratama!" jawabnya tepat.


Sean unjuk jari. "Nama Daddy Virgou Black Dougher Young!"


"Nama Ayah, Herman Adian Triatmojo!"


"Nama Bunda Khasya ...."


"Ya kalian benar semuanya silahkan ambil hadiahnya!" Lidya menghentikan jawaban adik-adiknya.


Semuanya berlarian mengambil hadiah. Lidya menggaruk kepala, maksudnya untuk tim C saja. Tetapi akhirnya semua mendapat coklat.


"Atuh bunya andin teusil ... tubeli nama heli ... biya suta pelmain bain ... pambil belali-lali ... heli ... Dut ... dut ... dut ... temali ... dut .. dut .. dut ... ayo lali-lali!" Maisya menyanyikan lagu Heli.


"Affhan jelet!' seru Dimas marah.


"Baby!" tegur Rion.


Affhan tadi menggigit coklat Dimas yang masih tersisa. Balita itu memang lama memakan coklatnya. Affhan hanya menaruh jarinya di mulut yang belepotan dengan coklat, sedang Dimas mulai berkaca-kaca.


"Siapa yang mengajari kata-kata itu?" tanya Rion tak suka.


"Affhan matal Ata'Ion ... toslat Bimas dididit ... hiks!" Dimas mencoba membela diri.


"Iya, tau Affhan salah, tapi siapa yang ajarin Dimas berkata seperti itu?" tanya Rion sedikit keras.


"Baby!" tegur Lidya.


Rion menghela napas berat. Ia sangat tak suka jika satu saudara saling ledek atau saling mengatai begitu.


"Affhan kamu sudah dapat coklat sama dengan Dimas punya, kenapa masih gigit punya Dimas?"


Affhan langsung tertunduk merasa bersalah. Dimas yang takut Rion memarahi saudaranya langsung memeluk Affhan yang mulai ingin menangis. Rion garuk-garuk kepala. Ia mendatangi dua adiknya itu dan memeluknya serta meminta maaf.


Terra hanya menggeleng. Sedang para ayah acuh. Membiarkan Rion memegang kendali atas anak-anak. Karena keempat ayah itu tak bisa memarahi anak-anaknya.


"Ata' Dallen, ipu Ata' Ion benata?" tanya Rasya.


"Ata' Ion palah-palah ...beulem!" sahut Rasyid takut.


"Kalau sama Kakak Darren kalian berani?" tanya Darren sambil memasang wajah garang.


Keduanya bukan takut malah tertawa.


"Muta Ata' ballen bucu!" sahut Rasyid sambil terkikik geli.


Darren langsung menyerang Rasyid dengan ciuman di perut bayi itu hingga tergelak. Rasya pun juga ingin diperlakukan sama. Dengan senang hati remaja itu melakukannya.


Malam telah larut. Virgou, Herman dan istri mereka menginap di rumah Terra. Gabe, istri dan putrinya pulang bersama Bart. Bram dan Kanya juga pulang ke mansion mereka. Begitu juga Budiman pulang bersama anak dan istrinya.


Terra masih asik di kamar Lidya yang baru satu hari mendapat siklusnya. masih ada enam hari lagi atau kurang dari itu. Wanita itu menciumi wajah gadis kecil yang kini sudah besar.


Lidya termasuk anak perempuan yang lambat tumbuh. Tubuhnya masih mungil dengan tinggi 130cm. Rion bahkan kini tingginya mulai menyamai kakak perempuannya itu.


"Kamu kecil sekali sayang," ujar Terra sambil mengelus rambut merah Lidya.


Haidar masuk dan ikut berbaring di belakang istrinya. Mencium pipi putri juga istrinya.


"Kalian semua adalah anugerah terindah yang ada dalam hidup ku. Aku masih belum bisa merelakan jika putri kecilku ini sudah beranjak dewasa," ujar Haidar setengah berbisik.


Terra mengangguk membenarkan. Ketiga anak peninggalan mendiang ayahnya ini sangat spesial. Darren dengan sikapnya yang masih manja padahal usianya sebentar lagi delapan belas tahun.


"Rion galak sekali tadi," sahut Terra.


"Ah, babyku," sahut Haidar mengingat bayi montok yang banyak tingkahnya waktu dulu.


"Aku rindu masa-masa itu. Bisakah kita ke lorong waktu kembali mengingat tingkah mereka ketika kecil?" pinta Haidar.


"Jika Te bisa. Tapi, Te, jauh lebih bahagia sekarang," Terra membalikkan badan menghadap suaminya.


"Karena kamu hadir juga anak-anak kita. Kau tahu, kita bisa membuat negara jika nanti semuanya menikah dan memiliki anak banyak," selorohnya.


Haidar mencium bibir istrinya. Mengangguk membenarkan.


"Aku mencintaimu," ungkap Haidar.


"Aku lebih mencintaimu," balas Terra.


"Bisakah kita pindah kamar, sayang?" pinta Haidar dengan suara serak.


Terra tersenyum dengan rona merah di pipi. Ia selalu saja begitu jika suaminya menginginkan dirinya. Ia pun mengangguk. Mereka berdua berdiri perlahan, memberi kecupan pada pipi Lidya.


Haidar mengamit tangan istrinya lalu keduanya beranjak ke kamar mereka, di mana di sana keduanya memadu kasih. Melebur cinta mereka. Tak tahu, jika di dua kamar berbeda, Herman dan Khasya juga Virgou dan Puspita tengah menyatukan diri mereka dalam kenikmatan surga dunia.


bersambung.


ah ... begitu lah...


next?