TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
ANOTHER BABY 3



Darren yang malu setengah mati hanya bisa duduk sambil menyembunyikan wajahnya di bahu Khasya.


"Bunda," rengeknya.


"Hei ... sudah-sudah!" tegur wanita itu Iba pada Darren.


"Seperti kalian tak pernah muda saja," lanjutnya.


"Eh lupa, Ayah dan Daddymu kan sudah tua baru kenal cinta," lajutnya meledek.


"Bunda," rengek dua pria itu.


Budiman mulai menyingkir dari kericuhan. Pria itu tak mau jadi korban bully perempuan itu.


"Heh, mau kemana kau?" ujar Virgou menepuk bahu Budiman.


"Kak, kami ke kamar dulu, ya. Kasihan baby Azha dari tadi digendong terus," ujar Seruni pamit.


Wanita itu mengambil bayinya dari timangan Gisel.


"Ya, istirahat lah kalian. Nanti siang, biar suamimu mengantar makan siangnya," ujar Virgou.


Seruni mengangguk lalu mengucap terima kasih, setelah itu, barulah ia masuk ke kamar tamu.


"Ata' Ion, Spy mo panyi!" pinta Sky.


"Oteh ... mau lagu apa?" tanya Rion.


"Papontuh!" jawab Sky yakin..


Musik dimainkan semua ikut bergoyang.


"Papontuh apa mima ... bupa-v


bupa nanana .... bilu tunin lelapu ... pelah pilu ban pilu ... bulutus papon bilu, dol! patitu banat pasau ... papontuh pintan bentat lulepan pelat-pelat,"


Lagu berubah lirik dengan sempurna. Yang tahu lagunya, tentu menyanyikan lagu dengan lirik yang benar. Musik masih bermain. Sky sudah menguap.


"Huaaaah ... Ata'Ion ... Spy pelah!" sahutnya masih memegang mik.


Domesh mengambil mik lain dan melanjutkan lagu itu.


"Talontuh papa mima ... lupa-lupa balnana ... bijo, bunin, belalu ... pelah puda ban libu ... tulutus palon pelah ... dol!"


"Ata' Domesh ... Palon pelah pidat lada!" protes Bomesh.


"Pidat pa'a-pa'a ... talo Ata' pilan belah puda ... musitna eundat sutup," jelas Domesh tenang.


Semua tersenyum mendengar alasan bayi tiga tahun itu. Bomesh pun mengangguk tanda mengerti.


"Penua bawu manyi!" kini bayi berusia sama dengan Domesh itu juga ingin menunjukkan suara emasnya.


"Oteh, mau lagu apa?" tanya Rion.


"Tebun tuh!"


Musik di mulai. Bayi itu pun akhirnya memulai aksinya.


"Pihat bebuntu .... benuh benan buna ... lada yan butih ... dan lada yan melah, betiap hali, bulilam bemua ... pada pelati ... benuana pindah!"


Semua bertepuk tangan dengan senyum lebar. Anak-anak bernyanyi dengan gembira. Tak lama makan siang sudah siap. Terra dan Haidar pun baru kembali dari rumah sakit. Keduanya berwajah ceria.


"Bagaimana-bagaimana?" todong Herman langsung.


"Alhamdulillah, Te hamil," jawab Terra dengan semringah.


Semua mengucap hamdalah. Bart sangat senang, di hari tuanya tak lagi khawatir. Turunannya makin lama makin banyak.


"Besok Leon datang sendiri, katanya mau lihat aqiqah baby Azha," ujarnya memberitahu.


Dav mengangguk. kini mereka makan dengan lahap. Dav ke kamar di mana istrinya berada. Sedangkan anak-anak di suruh untuk tidur siang.


"Ma, Pa, Ayah, Bunda, Bommy, Baba, Mami dan Papi. Iya mau berangkat kerja ya, dinas malam," ujar gadis itu pamit.


Setelah mencium pipi semua orang tua. Lidya kini ditemani oleh dua bodyguard, Robert dan Gio.


Sedang Darren pun kembali ke perusahaan, Rommy menelepon jika ada tamu dari Rusia.


"Darren juga mau ke perusahaan dulu," pamitnya.


Hanya Rion yang tidak. Remaja itu sudah tidur di kamarnya sendiri.


Remaja itu memang disediakan kamar oleh Virgou. Tidak hanya Rion, Darren dan Lidya juga memiliki kamarnya sendiri di mansion pria beriris biru itu.


Darren sudah sampai di perusahaan bersama Budiman. Pemuda itu langsung menuju klinik. Hari ini Aini praktek. Darren mulai memantapkan hatinya untuk mendekati gadis idamannya.


Budiman hanya pasrah. Pria itu tak bisa lagi posesif. Darren bukan anak kecil lagi yang harus ia jaga. Bahkan kini bisa jadi posisinya berbalik. Darren lah yang menjaganya.


Setelah melihat gadis yang ia sukai baik-baik saja dan tengah serius bekerja. Pria itu pun kembali ke ruangannya. Aini yang menyadari jika Darren baru saja menyambanginya memanggil pria itu.


"Pak Darren!"


Deg ... Deg ... Deg!


Jantung Darren seperti melompat mendengar panggilan itu. Pria itu terhenti dan perlahan menoleh.


"Ya," sahutnya.


"Pak Darren sudah datang. Bagaimana bayi dan ibunya apa sehat-sehat?" tanya Aini beruntun.


"Alhamdulillah, keduanya sehat-sehat saja,' jawab pemuda itu dengan senyum lebar.


"Alhamdulillah," sahut Aini.


"Kamu nggak nanyain kabar aku?" tanya Darren.


Wajah Aini langsung merona. Ia sangat kikuk.


"Kan, Bapak baik-baik saja," ujar gadis itu malu-malu.


"Tapi, aku sedang tidak baik-baik saja," ujar Darren menatap gadisnya lekat.


"Bapak sakit?" tanya gadis itu khawatir.


"Mari saya periksa dulu, Bapak!" ajaknya sambil mengamit tangan pemuda itu.


Deg!


Desiran halus menerpa keduanya. Darren menggenggam erat tangan gadisnya. Aini termangu sekaligus terhipnotis dengan tatapan sayu pemuda di depannya.


"Tuan, tamu dari Rusia sudah datang!'


Tiba-tiba momentum romantis itu ambyar seketika. Darren sedikit manyun. Sedangkan Aini menunduk malu sambil melepas genggaman tangannya.


"Aku akan kembali," ujar Darren.


"Jangan berjanji, Tuan muda. Sampai pukul 17.45 anda akan sibuk!" ingat Budiman.


Darren menatap gadisnya. Aini hanya menunduk.


"Aku pasti mendatangimu nanti, entah esok atau lusa. Aku pasti mendatangimu," sahut Darren berjanji.


Aini mengangguk.


"Aku akan menunggumu," cicitnya lirih.


Darren pun meninggalkan gadisnya dan melaksanakan tugasnya sebagai CEO.


Bersambung.


aih ... aih


next?