TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
HEBOH



Pagi ini, Darren sudah siap dengan seragam sekolahnya. Pria kecil itu sangat tampan dengan senyum yang selalu mengulas di bibirnya. Terra memasukkan bekal makan siang untuknya.


Setelah habis sarapan dan meminum susunya. Darren sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Lidya dan Rion ikut mengantarnya bersama Terra, mereka berjalan kaki. Karena memang jarak sekolahnya dekat.


Waktu menunjukan pukul 6.15. butuh waktu lima belas menit jika berjalan kaki. Terra menggunakan kereta bayi kembar, untuk membawa Lidya dan Rion.


Lidya begitu banyak bicara sepanjang perjalanan. Bahkan Terra tidak mengerti apa yang diungkapkan oleh anak gadisnya itu. Hingga tak terasa mereka sampai gerbang sekolah.


Banyak teman-teman Darren menyapa Terra dengan sopan. Bahkan ada gadis seusia putranya nampak malu-malu memandang Darren. Terra hanya bisa menggeleng. Jaman yang sudah berubah atau dia yang ketinggalan jaman. Entahlah.


"Darren masuk dulu ya, Ma. Assalamualaikum," ujarnya sambil mencium punggung tangan Terra.


"Wa'alaikum salam. Jangan nakal, ya," nasihat Terra. Darren mengangguk.


Terra menatap putranya hingga menghilang dari pandangan. Kemudian ia kembali mendorong stroller menuju rumahnya. Lagi-lagi sepanjang perjalanan. Baik Lidya dan Rion tak berhenti mengoceh. Terra tertawa mendengar ocehan kedua bocah itu.


"Mungkin mereka ngobrol ya?" terka Terra dalam hati.


Sampai rumah. Gadis itu langsung menurunkan kedua balita dari stroller. Lidya langsung ke pojok ruang bersama Rion. Terra memanggil bik Romlah untuk menjaga kedua bocah itu yang sedang bermain.


Hari ini, Terra ada kelas hingga sore nanti. Jadi, ia harus mempersiapkan diri dulu. Selesai mandi dan berpakaian. Gadis itu memberi peringatan pada para pekerja agar tidak sembarangan membuka pintu jika tidak ada dirinya di rumah.


"Telepon saya segera, jika ada apa-apa. Mengerti?!' titah tegas gadis itu membuat keempat pekerja mengangguk.


Terra pun pergi ke kampusnya hari ini. Butuh waktu satu jam lebih untuk sampai sana. Yang pasti karena macet dan kesibukan pagi yang bakal memadati jalan raya.


Tiga puluh menit lewat lima. Gadis itu sampai di kampusnya. Terra buru-buru berlari menuju kelasnya. Bertepatan ia duduk dosen killer yang paling ditakuti mahasiswa pun datang.


Pria dengan tatapan tajam dan dingin itu hanya bisa menggelengkan kepala. Haidar tidak memiliki toleransi pada siapa pun yang telat masuk di kelas ketika mata kuliahnya berlangsung termasuk Terra.


Dua jam mata kuliah selesai. Terra menghela napas lega. Haidar melangkah menuju tempat duduk Terra. Semua mahasiswa maupun mahasiswi saling berbisik.


"Kenapa kamu nyaris telat lagi?" tanya Haidar setelah mendaratkan bokong di kursi.


"Tadi macet parah, Pak," jelas Terra.


Melihat kedekatan dosen killer dengan salah satu mahasiswinya membuat satu kelas heboh. Terlebih melihat dosen mereka begitu mesra dengan Terra.


"Ih ... si Terra pake pelet apa tuh?" sindir salah satu mahasiswi.


"Pelet cinta lah!" jawab asal salah satunya lagi.


"BTW kan Pak Haidar dosen killer untouchable. Kok bisa Terra deket ama dia?"


"Ck ... cakepan gue juga."


"Cakepan sendalnya Terra keles dari muka Lu!"


Begitulah kehebohan seisi kelas. Banyak yang memandangnya iri bahkan banyak pria yang patah hati berjamaah.


"Ah .. ternyata benar yang dia katakan jika Pak Haidar adalah kekasihnya," gumam salah satu mahasiswa yang menyukai Terra.


Kedekatan Haidar dan Terra masuk juga dipendangaran Islah. Gadis itu marah bukan main.


"Bisa-bisanya Terra bermain belakang denganku. Pantas saja, dia menolak bergabung dengan kelompokku. Ternyata dia ada main sama dosennya sendiri," umpatnya kesal.


Haidar mengajak Terra untuk makan siang bersama di kantin. Bergandengan tangan. Well, tidak ada salahnya kan cinta antara dosen dan salah satu mahasiswinya?


Dengan bergandengan tangan menandakan status mereka bukan hanya sekedar pendidik dan mahasiswi saja. Tapi lebih dari itu. Dan tidak ada satu pun yang berani menegur kedekatan merek, kecuali.


"Wah ... Wah ... kuliah kok pacaran ya!" sindir Islah yang datang menghampiri mereka.


Baik Haidar dan Terra saling tatap. Kemudian memandang sosok wanita dengan balutan kemeja biru dengan rok span setinggi lutut warna navi di padu dengan sepatu pantofel warna hitam.


"Apa masalah anda? Jika kami pacaran di luar jam mata kuliah?" tanya Haidar datar dengan sorot mata tajam.


Islah menelan saliva kasar. Sungguh ia tidak bisa menolak pesona Haidar. Gadis berusia tiga puluhan ini, selalu meleleh jika mendengar suara pria idamannya itu.


"Ingat kode etik lah ... Anda di sini adalah seorang dosen yang artinya seorang pengajar ... Anda ...."


"Pak Rudi menikahi Dewi yang juga mahasiswi di sini. Mereka juga pacaran di kampus," potong Haidar.


Islah mati kutu. Ia lupa dengan kisah asmara yang fenomenal di kampus saat itu. Rudi dan Dewi adalah pasangan yang menjadi sorotan kampus.


Haidar merangkul pinggang ramping Terra secara posesif. Pria itu menunjukan pada siapapun bahwa gadis yang berada di sisinya ini adalah miliknya.


"Jika kau tidak ingin melihat kemesraan kami. Kau boleh resign dari kampus ini, Bu Islah Hairunissa," ujar Haidar datar, kemudian melangkah tetap merangkul Terra meninggalkan Islah yang berdiri mematung.


Perkataan Haidar membuat Islah mati kutu. Gadis itu tau siapa Haidar di sini. Anak pemilik universitas Pratama Guna.


"Untuk saat ini, aku kalah. Nanti lain waktu. Akan kutunjukan pesonaku."


bersambung


hadeh ... pliss deh