TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SEBUAH KEPUTUSAN



Cheryl duduk sambil terisak. Wanita itu tengah meyakini dirinya jika pria yang sangat ia cintai akan kembali padanya.


"Kak Idar pasti kembali. Aku yakin, dia pasti kembali!"


Cherryl masih setia menunggu. Baru lima menit pria itu pergi bersama seorang wanita yang diakui sebagai istrinya. Tapi, Cherryl tidak percaya. Ia masih menyangka jika pria itu hanya ingin membuatnya terluka.


"Kakak pasti tak tega melukaiku. Ia pasti kembali," ujarnya meyakinkan diri.


Sudah tiga puluh menit, ia duduk. Sudah tiga kali pula pelayan menanyakan pesanannya. Tapi, gadis itu tidak memesan apa-apa. Dia bilang, hanya ingin menunggu kekasihnya.


Satu jam berlalu. Pria yang dinantinya belum juga datang. Ia makin gelisah.


"Nona, ini sudah lebih dari satu jam. Anda belum memesan apa-apa. Jika, anda tidak memesan apapun, silahkan anda meninggalkan tempat ini," sebuah pengusiran tegas.


Cheryl menatap tajam pelayan yang mengusirnya. Namun,.pelayan itu mempertahankan argumennya. Akhirnya, Cheryl memilih pergi meninggalkan restoran itu.


Kemana Haidar?


Ketika kakinya melangkah, dalam pemikirannya berkecamuk. Sungguh, pria itu ingin menumpahkan segala kekesalannya pada Cherryl. Tapi, semakin lama, langkahnya makin pelan.


"Untuk apa aku marah?" tanyanya dalam hati.


"Untuk apa lagi aku ingin tahu? Bukankah dia sudah tak penting lagi?!"


Ketika sampai depan lobby restoran. Langkah pria itu berhenti. Kemudian ia tersenyum. Sejurus kemudian, ia membelokkan tubuhnya. Berjalan menjauhi restoran.


"Semua berlalu dan tidak ada yang perlu diketahui. Biarkan saja. Toh, aku sudah lupa, siapa dia!"


Haidar pergi ke salah satu toko bunga. Merangkai satu buket bunga mawar dan crisant. Lalu, ia mengunjungi toko perhiasan. Satu cincin bermata Ruby menarik perhatiannya. Tanpa, ragu. Pria itu langsung membelinya.


Setelah selesai. Pria itu melakukan pesanan taksi daring untuk mengantarnya pulang, karena tadi ia menyuruh supirnya untuk mengantar kekasihnya terlebih dahulu.


"Sesuai map ya, Pak!" ucap supir setelah menyapanya.


"Iya, Pak. Kalau bisa kita lewat jalan alternatif saja," ujar Haidar dengan senyum semringah.


Sedang di tempat lain. Terra tengah berasumsi sendiri. Dalam khayalan gadis itu. Haidar bertemu dengan wanita bernama Cheryl. Ada cemburu di sana. Ia meraba dadanya yang sedikit berdesir nyeri.


Tiba-tiba air matanya menetes. Bergegas ia menghapusnya. Jalanan terasa lambat. Ternyata macet parah. Terra menghela napas panjang.


"Apa karena pada keluar makan siang? Jadi macetnya parah," jelas supir.


Terra mengangguk. Gadis itu menyadarkan bahunya. Melepas semua rasa yang membebaninya.


Dua jam berlalu, Terra baru sampai mansion dengan wajah lelah. Ketika ia membuka pintu. Suasana sepi.


Waktu sudah menjelang sore.


"Kenapa lilin ada di mana-mana?" gumam Terra.


Terra mengedarkan pandangan.


"Assalamualaikum, Ma, Pa!" ujarnya memberi salam.


"Wa'alaikum salam ... calon istriku!"


Terra menoleh asal suara. Sosok tegap dengan balutan formal berjalan menuruni tangga. Wajah pria itu bersinar dengan senyum indahnya. Terra menganga. Terpesona.


Haidar mendatanginya. Terra masih setia memandang wajah pria itu. Seketika air matanya menetes. Haidar langsung mengusap buliran bening itu dengan ibu jarinya secara lembut.


"Sshh ... kenapa menangis, sayang?" tanya Haidar lirih.


"Mas sudah di rumah?" pertanyaan bodoh terlontar dari mulut gadis itu.


"Iya, aku sudah pulang," jawab Haidar.


"Mas benaran pulang, untuk Te?" Haidar mengangguk dengan senyum lebar.


Terra menutup mulut dengan kedua tangannya. Gadis itu masih tak percaya.


"Mas memilih Te?" tanyanya sekali lagi.


Lagi-lagi, Haidar mengangguk. Tangannya merentang siap menyambut tubuh gadis itu. Gadis itu berjalan cepat, lalu ia melewati tubuh kekasihnya dengan menundukkan kepala untuk menghindari tangan pria itu yang membentang.


Haidar terbengong. Ternyata Terra memeluk Kanya dan menangis haru di sana. Pria itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Tiba-tiba tiga sosok bocah yang begitu berarti di hidup Terra datang. Darren membawa sebuket bunga mawar dan crisant. Terra makin menangis haru. Ia menerima buket itu sambil mencium pucuk kepala ketiga anaknya.


"Mama, endog!" Rion mengangkat tangannya.


Terra tertawa sambil berurai air mata, mendengar perkataan Rion yang salah. Gadis utu mengangkat bayi montok dan tampan itu dengan satu tangan. Menciumi wajahnya.


"Mama Iya dudha!" pinta Lidya tak mau kalah.


Terpaksa Terra menyerahkan kembali bunga pada Darren dan menggendong Lidya. Akhirnya momen romantis ini rusak akibat ulah dua anak yang berebut perhatian ibunya.


Haidar hanya bisa menghela napas panjang. Bram yang juga berdiri di belakang Kanya, istrinya tertawa. Sedang sang istri sibuk menghapus air mata, bukan karena haru tapi tertawa karena rencana Haidar gagal total.


Haidar berlutut di depan Terra yang menggendong dua anaknya. Sedang Darren juga tak mau kalah, pria itu memeluk sang ibu erat.


"Terra. Will you marry me?!" pinta Haidar tulus.


Terra terdiam. Sedang Haidar harap-harap cemas. Terra mengangguk.


"Aku mau."


Haidar sontak melompat kegirangan. Ia memeluk Terra dengan tiga anak yang menempel di tubuhnya. Karena begitu erat hingga Lidya protes.


"Om Idal. Janan peyuk elat don! Iya syesyek!"


"Ah ... maaf sayang," ujar Haidar dengan senyum semringah.


Sedang baik Bram dan Kanya bernapas lega. Akhirnya, gadis istimewa itu menjadi milik mereka.


"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Kanya antusias.


"Setelah Te lulus kuliah!" saut Te tegas.


bersambung.


lah ... Lemes deh Haidar.


horee othor nggak jadi 🐟 lagi!