
"keluarga adalah tempat berbagi dalam suka dan duka."
~othor's words 13 September 2021
*******************
Acara ngumpul bareng masih berlanjut. Bart memarahi Virgou, Gabe, juga David. Mereka pria besar yang mestinya menjaga sang adik.
Semuanya tertunduk. Begitu juga Darren. Pria kecil ini, memang lupa menjaga adiknya. Ia merasa bersalah. Hanya saja, ia ingin juga bermain bebas tanpa dibebani menjaga adiknya.
"Ma ... maafin Darren ya, nggak jagain adik. Hiks."
Darren mendatangi ibunya. Terra sudah mengganti pakaian dan Haidar tetap mengobati dada dan perut istrinya yang lecet tanpa imbuhan plus-plus lainnya.
"Tidak apa-apa sayang. Tidak apa-apa," ucap Terra langsung memeluk Darren.
"Kamu juga ingin bermain bebas. Mama juga salah. Sebagai Ibu harusnya menjaga penuh anak-anaknya," ungkap Terra juga menyesal akan kejadian barusan.
"Tapi, gara-gara Darren nggak jagain adik. Mama jadi terluka," ujar Darren sedih.
Terra menangkup pipi putranya dengan kedua tangannya. Netranya menatap mata berair yang penuh penyesalan.
"Andai Darren tidak egois ...."
"Hei ... sayang dengar Mama, Nak!" perintah Terra.
Darren menatap lekat iris coklat terang milik kakak yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu. Buliran bening itu akhirnya menetes. Terra segera menghapus air mata putranya.
"Kamu tidak salah. Ingat ya, tidak ada yang salah. Oke. Semua ini terjadi memang sudah seharusnya. Lain kali, kita harus lebih berhati-hati lagi. Oke!' jelas Terra memberi penenangan pada Darren.
"Oteh, Ma," ujar Darren.
Terra memeluk sayang putranya itu. Haidar yang mendengar perkataan dan penyesalan Darren jadi terharu. Pria kecil itu masih terlalu dini mengerti tugasnya melindungi.
Namun, Darren yang sudah terbiasa melindungi dua adiknya bahkan pria kecil itu belum bisa melindungi dirinya sendiri. Haidar memeluk dua orang yang saling berpelukan itu.
"Papa, sesek!' protes Darren.
"Ah maaf, habis badan kalian itu enak buat dipeluk," ucap Haidar.
Bart yang mendatangi Terra karena melihat Darren bersedih, langsung bertanya.
"Why is he sad Terra? Was it because I scolded him earlier?" (kenapa dia bersedih Terra? Apa karena aku memarahinya tadi?)
"No, but he regrets neglecting to take care of his little brother," (bukan. Itu karena ia menyesal karena lalai menjaga adik laki-lakinya).
"Grandfather knows that he has always taken care of his younger brother. He can't even take care of himself yet," (Kakek tahu, jika dia dari dulu menjaga adiknya bahkan dia belum bisa menjaga dirinya sendiri.)
Bart mengusap kepala cucunya. Ia sangat mengerti jika Darren juga ingin bermain bebas. Ia mengecup kening Darren, Terra juga Haidar dengan sayang.
"Forget it. Let's play again!" (sudah lupakan, ayo kita bermain lagi!). ajak Bart.
"Darren kemari. Daddy akan mengajarimu main catur!" ajak Virgou.
Darren menyambangi Daddy-nya. Ia pun duduk di sebelah pria yang dulu ia takuti. Darren menatap wajah pria yang memiliki pesona luar biasa tersebut. Tiba-tiba.
Darren mengecup pipi Virgou. Pria itu terkejut. Bukan hanya Virgou namun juga Terra. Ia sangat tahu bagaimana putranya sangat takut terhadap pria yang duduk di sebelahnya.
Virgou menatap haru Darren yang tersenyum padanya. Ia langsung memeluk tubuh Darren erat. Menciumi pipi bulat Darren berkali-kali.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih," ucap Virgou tulus.
"Sama-sama Daddy," ujar Darren tak kalah tulus.
"Mama. Ion mo oke-oke!" pinta Rion.
Virgou mengajari Darren main catur melawan Frans. Sedang Terra menyiapkan apa yang diminta bayi montoknya itu.
Ketika sedang menyiapkan karaoke. Bram datang bersama Kanya, Karina juga Raka. Budiman menyambutnya. Pria itu sedari tadi di luar.
Bahkan ia terkejut ketika tahu jika tuan baby nya nyaris jatuh ketika hendak naik ke atas rumah pohon. Tadi, ia disuruh Bart untuk memotong tali tangga itu, agar kejadian tadi tak terulang.
Budiman tersenyum penuh arti pada Karina. Raka langsung memeluk pengawal tampan itu.
"Om Pudi. Raka bawain Om puding loh," ujarnya dengan wajah serius.
"Oh ya?" Raka mengangguk.
"Terima kasih Kakak Raka ganteng," ujar Budiman.
Raka senang jika ada yang memanggilnya ganteng atau tampan. Karina senang dengan keakraban keduanya. Kanya yang melihat interaksi itu tersenyum senang.
Bram sudah ada di dalam dan tengah mengobrol dengan Bart. Kanya menghampiri suaminya dan bersalaman juga cium pipi pada kakek menantunya itu. Karina masuk bersama Raka.
"Mama Teyaa!" panggil Raka.
"Sayang, sini. Ayo kita oke-oke sama Baby Rion!" ajak Terra.
Raka yang memang suka bernyanyi langsung mengambil mik yang dipegang Terra. Rion sudah memegang miknya sendiri. David, Gabe juga Gisel tengah tiduran dengan bantal-bantal besar yang tersusun di ruang tengah itu.
Kanya dan Karina menyusun makanan yang mereka bawa. Sengaja membawa banyak. Mereka juga membagikan satu bungkusan besar untuk tim pengawal di luar. Kebiasaan Terra mengilhami mereka.
Karina membawa dua piring kecil berisi potongan puding kepada Budiman yang sedang duduk di luar bersama Deno. Mereka berdua mengucap terima kasih.
Netra Budiman bersibobrok dengan Karina. Jantung keduanya berdebar kencang. Wanita itu langsung memutuskan pandangannya. Wajahnya merona ketika masuk dalam rumah.
Kanya melihat wajah putrinya yang memerah setelah memberi puding untuk yang duduk di teras. Ia tahu kenapa putrinya merona.
Kemudian musik berbunyi. Lagu anak-anak mendominasi. Rion yang menjadi bintang hari ini.
"Pu tantan lamit pewuh pintan pelabuhan ... peltelap pelip pelumpana tinta pelan ... lada bebuah pelih tepang pahayaya ... ipu lah pintan tu lintan pejola pan mindah palu ...!"
bersambung.
oke Rion ... apa pun katamu deh ...
next?