
Pagi hari, Riani mengikuti saran suaminya. Membawa bolu kukus yang banyak untuk ia bagikan pada muridnya satu kelas. Ia pun sudah menyiapkan untuk Putri dan Lidya.
Jam belajar pun dimulai. Anak-anak belajar, ada yang tertib dan ada yang tidak. Ruang kelas Riani termasuk kelas yang tertib, karena banyak murid perempuan dari pada laki-laki.
Bel istirahat pun berbunyi. Riani menenangkan murid-muridnya.
"Anak-anak, tenang dulu!" titahnya.
Anak-anak yang ribut pun berangsur tenang. Riani menaruh kotak kue di atas meja. Tercium bau harum kue bolu kukus. Anak-anak mulai antusias. Riani memanggil satu persatu muridnya. Hingga tersisa Lidya dan Nina. Dua anak perempuan itu pun dipanggil.
"Lidya dan Nina tunggu di sini dulu ya," titah Riani lembut.
"Iya, Bu guru!" sahut keduanya menurut.
Riani pun keluar kelas. Wanita itu menjemput Putri. Ia pun membawa anak perempuan itu masuk ke dalam kelasnya. Lalu menyuruh Putri duduk di sebelah Nina.
"Ih, jangan dekat-dekat, nanti miskin kamu menular," desis Nina mulai menghina.
"Nina, kenapa kamu kasar begitu?" tegur Riani.
Nina pun terdiam. Walau tadi ia menolak Putri duduk di sebelahnya. Kini akhirnya ia membiarkannya.
"Sebelumnya, Ibu pertama-tama meminta maaf pada Lidya karena berlaku tidak adil kemarin," aku Riani meminta maaf tulus.
"Lidya, Ibu minta maaf ya," ungkapnya lagi.
"Iya, Bu. Lidya juga minta maaf karena kemarin berbuat tidak sopan sama Ibu," ujar Lidya pun meminta maaf.
"Untuk Putri, maaf ya Ibu kemarin menekanmu untuk merelakan sesuatu yang tidak berkenan di hati kamu. Kamu mau maafin Ibu?"
"Iya, Bu. Saya jika minta maaf, kalau kemarin saya salah," ujar Putri juga meminta maaf.
"Nah, untuk Nina. Perbuatan kamu kemarin itu sangat salah, Nak. Itu tandanya tidak bersyukur," sahut Riani menasehati Nina.
"Tapi, Putri kan emang anak orang miskin, Bu!" sergah Nina masih membenarkan perkataannya.
"Ibu juga miskin. Apa kamu nggak mau diajarin sama Ibu?" tanya Riani dengan penuh kelembutan.
Nina menunduk.
"Sayang, bukan karena orang itu miskin menjadikan ia terhina, atau ia kaya lalu menjadi mulia. Bukan sayang. Tetapi, hati yang tulus, suka menolong, ramah dan solehah. Nina anak yang Soleha bukan?"
"Anak Soleha Bu," cicit Nina lirih.
"Nah, kalau anak soleha. Nina tidak boleh merendahkan derajat orang lain terlebih saudara sesama muslim," nasihat Riani lagi.
Nina menunduk. Ia menerima semua nasihat gurunya. Begitu juga Lidya dan Putri.
"Nah, sekarang. Kamu minta maaf sama Putri!"
Nina melirik Putri yang duduk di sebelahnya. Sedikit gengsi tapi ia memang harus minta maaf.
"Maaf!" ucapnya asal.
"Sayang!" tegur Arin lembut. "Masa gitu. Yang ikhlas dong!"
"Maafin aku ya," ujar Nina pada akhirnya.
"Iya, aku juga minta maaf," sahut Putri lalu memeluk Nina.
"Lidya, sekarang kamu minta maaf sama Nina, karena kamu telah berbuat kasar padanya kemarin," titah Riani lagi dengan lembut.
"Maafin aku ya, Nin," ujar Lidya tulus meminta maaf.
"Nina sayang. Jangan gitu anak manis," tegur Riani lagi lembut tapi penuh ketegasan.
"Iya, aku maafin. Kamu juga maafin aku ya," ujar Nina dengan bibir mancus.
"Hei, bibirnya jangan gitu dong, sayang," lagi-lagi Riani menegur Nina.
Lidya pun memeluk teman satu kelasnya itu. Nina membalas pelukannya. Putri pun memeluk keduanya.
Melihat hal itu, Riani pun lega. Kini, ia telah berhasil mendidik tiga gadis kecil cantik ini berdamai. Jika pun nanti mereka berulah lagi. Wanita itu pun tak segan akan terus menegur dan mengingatkan.
"Nah, karena kalian sudah berdamai. Ini bolu kukus buatan Ibu untuk kalian," ujar Riani sambil menyerahkan bolu kukus pada ketiganya masing-masing satu.
"Wah, makasih ya, Bu," ungkap ketiganya dengan mata berbinar.
"Sama-sama sayang," sahutnya sambil tersenyum lebar.
Kini ketiganya saling bertukar bekal. Melihat senyum anak-anak yang ceria. Riani lega. Negaranya akan jauh dari ambang kehancuran.
Tak terasa bel pulang pun berbunyi. Anak-anak tampak sibuk berdiskusi. Kasak-kusuk pun terdengar. Riani mengernyit heran. Tiba-tiba semua berjejer rapi. Lidya membawa seikat bunga crisant yang tadi sengaja ia simpan.
Lidya tiba-tiba bernyanyi.
"Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa
Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu dari siapa."
"Kita jadi pintar dibimbing pak guru.
Kita bisa pandai dibimbing bu guru." sahut Bimo bernyanyi.
"Gurulah pelita penerang dalam gulita
Jasamu tiada tara." Nina bernyanyi.
"Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa
Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu dari siapa
Kita jadi pintar dibimbing pak guru
Kita bisa pandai dibimbing
bu guru
Gurulah pelita penerang dalam gulita
Jasamu tiada tara!" semua bernyanyi.
"Selamat hari Guru, Ibu Riani Andradewi!" ujar Lidya sambil memberi seikat bunga.
Riani menangis haru ia memeluk anak-anak dan mencium pucuk kepala mereka satu persatu.
"Terima kasih, anak-anak. Terima kasih," ungkapnya tulus.
"Sama-sama, Bu!" sahut seluruh anak-anak.
bersambung.
Selamat hari guru ... ❤️❤️❤️❤️❤️
next?