
Waktu berlalu tak terasa, kini Nai, Daud, Sean,.dan Al akan masuk TK sebentar lagi. Betapa bahagianya mereka. Keempat sudah mengenali huruf dan angka. Bahkan tahu warna-warni.
Naisya Hovert Putri Pratama, Muhammad Narsean Hovert Putra Pratama, Ali Narendra Hovert Putra Pratama dan Daud Narandra Hovert Putra Pratama. Begitu antusias membereskan semua peralatan alat tulisnya.
Mereka juga sudah mencoba seragamnya. Bart membelikan tas dan sepatu sekolah semua anak-anak. Kean dan Cal, Arimbi dan Satrio ingin sekolah bersama. Hal itu menyulitkan orang tuanya.
"Pototnya tita penen setolah balen syama, Nai, Sean,.Al dan Daud!" ujar mereka ketika ingin didaftarkan sekolah yang dekat dengan rumah mereka.
"Talo eunda tita modot setolah!" ancam Arimbi pada ayahnya.
Begitu pun ancaman Kean dan Cal pada Daddy mereka.Virgou. Akhirnya mau tak mau semua mendaftarkan diri. Muhammad Keanu Black Dougher Young dan Muhammad Calvin Black Dougher Young, ikut mendaftar di sekolah quarto Pratama. Begitu juga Raden Mas Satrio Hardi Putra Triatmojo dan Raden Ayu Arimbi Hardianti Putri Triatmojo.
"Mereka mengancam akan mogok sekolah jika tak didaftarkan bersama di sini," ujar Puspita.
"Lagi pula sekolah di sana memang belum ada taman kanak-kanak juga sih," lanjutnya.
"Ya, sudah tidak apa-apa. Mereka sekolah bersama di sini, nanti pulangnya ke rumah Mama," sahut Terra.
"Benar, pulang kerja, Ayah dan Daddy bisa jemput," sahut Rion yang ikut mengantar mereka.
Virgou dan Herman akhirnya mengangguk. Mereka juga ingin anak-anak saling dekat satu dengan lainnya. Agar mereka saling dukung dan saling membantu satu sama lainnya.
"Baiklah jika begitu. Pagi-pagi aku mengantar mereka ke sini, biar berangkat bareng," ujar Virgou.
Terra dan Haidar mengangguk setuju. Mereka akan senang anak-anak berkumpul. Lagi pula, keduanya tak perlu pengasuh karena Rion akan menjaga mereka.
"Aku akan membeli satu mobil golf lagi untuk antar jemput anak-anak. Aku harap pengawalmu tidak keberatan menjaga mereka," ujar Herman.
"Tentu saja mereka harus mau. Kean, Cal, Arimbi dan Satrio adalah anak-anakku," sahut Haidar.
Herman tersenyum lebar. Ia tentu tidak akan lepas tangan begitu saja. Ia juga akan mengirim beberapa pengawalnya untuk membantu menjaga keamanan putra dan putri mereka.
"Jadi mereka semua kembar?" tanya guru yang mendata mereka.
Kean dan Cal menjadi sorotan karena mata biru mereka. Walau, semuanya mata coklat, Nai, Sean, Al, Daud dan mata hitam pekat Satrio dan Arimbi tak kalah tajamnya, wajah kesemuanya begitu rupawan.
Setelah mendaftar, dan mendapat seragam kini semuanya pulang. Anak-anak heran kenapa belum masuk kelas dan belajar.
"Belum mulai Baby, dua minggu lagi baru sekolah," jawaban Terra sedikit membuat mereka kecewa.
Terra tersenyum ketika mengingat pertama kali mendaftarkan anak-anak sekolah. Kini, Rasyid dan Rasya sudah mau satu tahun. Tingkah keduanya tak jauh beda dengan kakak-kakaknya terutama Rion.
Kini kedelapan anak kembar itu saling bergandengan tangan. Mereka akan mulai sekolah. Semuanya tampak menggemaskan, hari pertama sekolah, para ibu akan mengantarnya.
Khasya membawa Dewa dan Dewi juga Dimas, sedang Puspita membawa Maisya, Affhan dan Kaila. Semua bayi seumuran hanya beda dua dan empat bulan saja. Mereka memilih berjalan kaki menggunakan stroller. Para pengawal langsung mengelilingi atasan dan anak-anak.
"Oh Ibu dan ayah, selamat padhi tu peldi setolah sampai tan nanti ... belamat pelajan nat benuh semanat ... lajin lah selalu tentu tau dapat. Holmati dulumu sayani teman ... ipu lah bandana tau mulidna Baba!" Nai bernyanyi seru.
Semua menoleh padanya. Merasa aneh dengan lirik terakhir.
"Tok mulidna Baba?" tanya Satrio bingung.
"Nama Baba spasa?" tanya Nai enteng.
"Pudiman!" jawab semua anak kompak.
"Jadi Nai eundat salah don," sahutnya enteng.
Semua orang dewasa tersenyum mendengar jawaban Nai. Memang putri Haidar itu sedikit lebih usil dibanding saudara laki-lakinya. Bahkan dia lebih genit dari Arimbi yang sedikit tomboy.
Mereka pun ikut bernyanyi seperti Nai, dengan akhir lagu sama dengan tadi, jika mereka murid baba mereka, Budiman.
Pertama sekolah, anak laki-laki langsung menarik teman-teman perempuannya. Sedangkan Nai dan Arimbi menjadi daya tarik para anak laki-laki.
"Hai, namanya siapa?" tanya salah seorang anak laki-laki bertubuh gembul mendekati Nai.
"Naisya," sahut gadis kecil itu dengan tersenyum.
"Kalo kamu?" tanyanya pada Arimbi.
"Rimbi," jawab singkat dan datar dari gadis kecil berkuncir dua itu.
"Aku, Theo," ujarnya memperkenalkan diri.
Nai tersenyum, sedang Arimbi cuek. Terra dan Khasya hanya bisa menggeleng. Mereka masuk kelas yang sama. Guru sempat memisahkan mereka, tapi langsung ditolak.
"Janan pisahtan tami!" seru Cal mulai berdrama.
Guru akhirnya menyatukan mereka. Mereka berdelapan memang genius luar biasa. Ketika anak-anak baru bisa menghitung hingga sepuluh mereka sudah sampai seratus.
"Sembilan puluh sembilan ... selatus!" mereka pun bertepuk tangan untuk diri sendiri.
Guru hanya terbengong. Jam istirahat berbunyi. Semua anak mengeluarkan kotak bekalnya. Mereka saling bertukar tempat makan. Para kembar saling bertukar makanan.
"Anak-anak, bertukar nya dengan sesama teman, ya, bukan sama saudara," jelas Bu guru.
"Di lumah kami memang saudala Bu Dulu. Di setolah tita teman," sahut Kean santai.
Bu guru akhirnya diam. Ia tak bisa melarang kedelapan bersaudara itu saling berbagi makanan.
"Nai," panggil Theo.
Nai yang hendak membuka makanan dari Satrio menoleh. Theo membawa kotak bekalnya.
"Aku ingin tukelan sama kamu," ujarnya sambil menyerahkan kotak bekalnya.
Nai menyerahkan kotak bekal Satrio padanya. Theo tersenyum senang. Ia pun bergabung bersama delapan bersaudara itu.
Usai istirahat mereka kembali belajar. Sekarang mereka belajar bernyanyi. Kedelapan saudara itu paling antusias bernyanyi.
Akhirnya jam belajar habis. Mereka antusias, berebutan keluar ruangan. Hanya delapan anak itu yang menunggu semuanya keluar baru mereka belakangan.
Ketiga ibu mereka tersenyum. Belajar selama satu jam setengah. Mereka kembali pulang dengan berjalan kaki.
Mereka kembali bernyanyi.
"Belan sibatu delan ... delan si lama lama ... mali pulan ... mali lah pulan mali lah pulan beulsyama-syama ... mali pulan ... mali lah pulan ... mali lah pulan beulsyama-syama."
bersambung.
maaf yaa telat update ... othornya lagi kedatangan ponakan.
ah ... anak delapan knp tulisannya enam ... othor nggak bisa ngitung kalah sama delapan bersaudara itu.
next?