TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
LIDYA IN DANGER



Melihat putrinya dipeluk seseorang membuat semua pria merangsek hendak menarik tubuh mungil Lidya.


"Tahan kalian semua, Lidya dalam bahaya jika kalian menariknya begitu saja!" teriak Bart.


Semua pasien juga ketakutan, pada perawat dan lainnya menenangkan mereka. Haidar, Virgou dan Herman menahan diri. Wajah Virgou tampak sangat beringas, ia ingin menguliti pria yang kini menyandera Lidya, putrinya.


"Lepaskan Dokter Lidya," pinta salah seorang asisten Lidya dengan penuh permohonan.


Gio bergerak kebelakang pria yang menyandera nona mudanya, sedang Juan dan Hendra juga mengamankan situasi bersama pengawal yang lain.


Lidya yang berada dalam rengkuhan pria itu, sebenarnya bisa saja melakukan sesuatu. Hanya, ia takut, tuduh perempuan kemarin menjadi nyata adanya.


"Jangan ada yang bergerak, Lidya harus menyembuhkan istriku!" teriak pria itu sambil menyeret tubuh mungil Lidya.


Tangan Lidya mengisyaratkan pada semua untuk tenang.


"Sayang!" panggil Haidar.


Semuanya mengikuti jalannya pria itu.


"I'm oke Dad!" sahut Lidya setengah berteriak.


Pria itu bertubuh besar, ia dengan mudah membopong Lidya dalam rengkuhannya. Lidya hanya pasrah mengikuti ke mana arah pria itu. Gio terus berada di belakang, mencari cara membebaskan nonanya.


Pria itu menyeret Lidya sampai pada sebuah ruangan.


"Minggir kalian semua, atau aku akan menyakiti dokter ini!" ancamnya tak main-main.


Semua menyingkir. Gio melihat ada brangkar yang menganggur dengan gerakan cepat ia mendorong kuat-kuat benda itu hingga menabrak tubuh pria yang menyandera nonanya.


Brugh!


"Aarrgh!"


Lidya terlepas. Haidar dengan cepat menarik tubuh putrinya, sedang Virgou langsung menerjang pria itu dengan mencekik dan mengangkat hingga kaki pria terangkat ke atas.


"Uugghh!"


"Daddy lepaskan dia Daddy!' pinta Lidya memohon.


Virgou yang telah gelap mata tak mendengar permohonan gadis itu. Lidya memeluk tubuh besar pria kesayangannya, mengelus tangan Virgou. Cekikan pria itu seketika melemah dan terlepas. Pria itu pun terjatuh ke lantai sambil terbatuk.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk!"


Gio langsung meringkusnya. Pria itu berontak. Dengan sekali gerakan, Gio melumpuhkan pria itu.


"Tolong selamatkan istriku ... tolong ... huuuu ... uuu!" pintanya dengan tubuh yang terbaring di lantai.


Gio mengunci tangan dan kaki pria itu dengan menginjakan kakinya. Pria itu merintih kesakitan.


Lidya menoleh ruangan yang dituju pria itu. Gadis itu pun melangkah. Virgou sempat menghalanginya.


"Daddy," pinta Lidya memohon.


Akhirnya pria besar itu pun menyerah, ia tak mampu menahan tatapan memohon dari adiknya itu.


Haidar dan Herman mengikuti langkah Lidya memasuki ruangan itu. Sedangkan sang pria sudah diamankan oleh pihak keamanan.


Tubuh Lidya bergetar hebat ketika masuk ruangan. Ada delapan pasien yang terbaring lemah dan menghadapi kematiannya masing-masing.


Herman yang melihat perubahan itu langsung menarik dan memeluk Lidya.


"Sayang!" panggilnya.


"Kita keluarkan Lidya dari ruangan ini!" ajak Haidar.


Virgou meminta Gio.membereskan semua kekacauan. Pria itu membungkuk hormat. Bart yang tadi bersama mereka tengah ditangani pihak medis ketika melihat cucunya disandera. Ia langsung lemas.


"Grandpa!" panggil Lidya.


Ketiga pria itu pun sadar, jika Bart tengah dalam penanganan medis.


"Juan, mana Tuan Dougher Young?" tanya Virgou.


"Mari ikut saya, Tuan!" ajak Juan yang baru saja mengantarkan Bart.


"Grandpa!" panggil Lidya ketika sudah masuk kamar.


"Sayang ... kamu tak apa-apa?" tanya pria tua itu.


Pernapasan Bart dibantu oksigen. Ia benar-benar shock melihat dengan kepalanya sendiri cucunya disandera.


"Iya tak apa-apa, Grandpa," ucapnya menenangkan pria tua itu.


"Sayang, apa yang kau lakukan itu sangat luar biasa," puji Herman.


"Aku yakin, tadi kau bisa melakukan sesuatu pada pria yang menyandera mu tadi. Tapi kau memilih membiarkannya. Kenapa, sayang?" lanjutnya bertanya.


"Iya bukan pembunuh, seperti disangkakan wanita kemarin, Ayah," jawab gadis itu.


Tiba-tiba salah seorang perawat masuk.


"Nona Lidya, anda harus melanjutkan konseling anda. Salah satu pasien ada yang mengamuk. Mereka tidak mau disentuh oleh asisten anda!" ujarnya memberitahu.


"Kami dan yang lain tak bisa menangani!" lanjutnya.


Lidya memang harus menyiapkan dirinya. Walau kini, tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Terlebih seluruh energinya tersedot ketika disandera tadi.


"Sayang," panggil Virgou khawatir.


"Tidak apa-apa, Daddy. Ini adalah konsekuensi yang harus Iya hadapi," ucapnya lirih.


Kini mereka semua kembali ke ruangan di mana para pasien menginginkan kesembuhan. Padahal Lidya sudah memberi


penanganan sebelumnya oleh para asisten gadis itu.


Ketika ia berjalan. Tiba-tiba seseorang meneriakinya dan mengatai gadis itu.


"Kuasa gelap, aku yakin dia memakai sihir!"


Wanita itu melempar sesuatu, tentu saja benda itu tak akan sampai di tubuh Lidya. Juan dan Hendra menjadi tamengnya. Wanita itu langsung diringkus. Lidya heran. Kenapa wanita yang sama bisa menyerangnya dua kali. Ia merasa ada konspirasi di rumah sakit ini.


Namun, ia menampik dugaannya. Ia mengabaikan semua teror yang menimpa dirinya. Lidya lebih mementingkan orang-orang yang membutuhkan uluran tangan dan pelukannya.


Sementara di sebuah ruangan. Dua sosok tengah melempari orang-orang yang dianggapnya mampu menangani Lidya.


"Kalian tak becus. Jika begini, pamorku sebagai dokter terbaik akan hilang karena kebaikan dokter muda ini!" teriaknya.


"Aku tak mau tau. Bereskan dia, cari kelemahan tesis dan konsulnya. Aku yakin, dia memiliki trik!" titahnya.


"Tapi, Dokter Lidya memang memiliki kekuatan penyembuhan yang besar. Para pasien yang kita pilih adalah orang-orang yang mengalami depresi akut!" lapor salah satu perawat.


"Jangan ngaco kamu. Tak ada orang sekuat itu!' tolak sosok itu murka.


"Lepaskan Lady!" titahnya.


"Dok!" semua memekik ketakutan.


"Lepaskan. Aku ingin tahu. Seberapa kuat ilmu yang dimiliki Lidya ketika berhadapan dengan Lady," ujarnya penuh dengan seringai licik.


Sedang kan di sebuah ruangan pengap dengan sedikit cahaya. Terdapat sosok cantik dengan baju restrain (baju khusus yang bisa diikat untuk penderita ODGJ akut).


Wanita itu terus menghentak-hentakkan tubuhnya ke dinding yang dilapisi oleh busa tebal, hingga tak menyakiti dirinya.


Di sekujur tubuh wanita itu penuh dengan luka lebam. Rambutnya kusut dan sedikit botak akibat ia jambak sendiri.


"Lady," wanita itu menatap sosok yang memanggilnya.


Ia pun menyeringai. Giginya putih dan rapi, tatapan matanya terkadang kosong terkadang berkilat sadis.


"Kau datang lagi?" tanya wanita itu.


"Kau ingin bertemu dengan manusia lain bukan?" tanya sosok yang mendatanginya.


Wanita itu berdiri. Sosok itu sedikit takut, tetapi ia telah menyiapkan alat yang membuat wanita yang dipanggil Lady itu takut.


"Aarrgghh!" teriak Lady kesakitan karena tersetrum.


Alat kejut yang mengantar listrik itu mampu membungkam Lady hingga meringkuk kembali ke sudut ruangan.


"Menurutlah kali ini. Jika berhasil, kau akan bebas dari semuanya!" ucap sosok itu lalu membelai rambut Lady yang meringkuk.


"A-aku akan bebas?" tanya wanita itu tidak yakin.


"Ya, kau akan bebas jika berhasil mematahkan konseling dokter Lidya," sahut sosok itu menjawab.


"Lidya," panggil Lady dengan mata menerawang.


bersambung.


waaah ... kok jadi serem yaa ... 😳


next?