TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
TERHAJAR



Virgou sedang bersama Gomesh dan Darren juga Gio. Sedang Budiman juga Dahlan sedang mengawal Terra yang harus datang ke sebuah kota.


"Sudah lama aku nggak lihat Aini dan adik-adiknya," gumam Darren.


"Apa mau mampir?" tawar Virgou.


Pria beriris biru itu duduk bersama keponakannya di belakang. Sedang Gio dan Gomesh ada di depan. Kali ini Gio yang menyetir.


"Apa boleh, Daddy. Setelah batal nikah beberapa minggu lalu, perasaanku memang berubah, dan menganggap dia adik, sama seperti Lidya?"


"Sudah tidak apa-apa. Daddy rasa Aini juga punya pemikiran dewasa," sahut Virgou enteng.


"Aku pengen comblangin Aini sama Gio, Dad," sahut Darren.


"Tuan!" tegur Gio tak suka.


"Jangan paksa perasaan orang, Sayang," tegur Virgou juga kurang suka dengan perkataan Darren.


"Maaf, Dad," sesal Darren.


"Tapi, sepertinya kamu cocok sama Dokter cantik itu, Gio!" sela Virgou terkekeh.


Gio hanya diam walau jantungnya berdetak begitu cepat.


"Arahkan mobil ke rumah Aini!" titah Virgou.


"Kita lewat belakang saja, jauh lebih dekat," ujar Darren yang tau arah.


"Baik!" sahut Gio.


Mobil Jeep putih milik Virgou melesat memasuki jalan yang sedikit sempit. Jadi laju kendaraan besar itu harus memelankan lajunya.


"Eh, ada apa itu?" tanya Gomesh.


Sedang di tempat sana. Aini menggigit kuat lengan yang mencengkram lehernya, hingga pria itu berteriak kesakitan. Gadis itu menginjak kaki centeng Burhan kuat-kuat. Lalu terlepas lah cengkramannya.


Saf langsung bergerak cepat. Satu totokan menyerang dua penyergap Ditya dan Radit.


"Aini!"


Semua menoleh. Gomesh yang geram langsung menolong Safitri, begitu juga Gio. Safitri tak ambil pusing. Gadis itu langsung menerjang Burhan yang memucat.


Bug! Bug! Bug!


"Aarrgghh!" teriak pria itu.


Saf membabi buta memukuli pria itu hingga Aini menjerit.


"Ibu sudah ibu!"


Virgou sampai harus memeluk gadis itu dan menenangkannya. Gio menghajar dua pria yang menyekap dua adik Aini dibantu Gomesh.


"Telepon satuan;" titah Virgou.


Delapan orang tergeletak tak sadarkan diri. Begitu juga Burhan yang wajahnya hancur oleh Saf. Salah satu penjahat masih mengincar Aini. Pria itu menerjang. Dengan sigap Gio langsung menghajar batang lehernya dan pria itu jatuh tak sadarkan diri karena leher patah.


"Tenang lah Serenity!" bisik Virgou.


Saf terdiam. Ia menatap pria yang menjulang di depannya. Ia mengernyit dan mengingat.


"Paman ... anda Paman BlackAngel?" Virgou tersenyum.


Beberapa orang pakaian hitam-hitam datang. Mereka menyeret para centeng yang tak sadarkan diri. Sedang Burhan, ia nyaris melarikan diri, jika saja Darren tak menghajar pria itu.


"Ampun ... jangan penjarakan saya. Saya punya anak istri di rumah!" ujarnya menghiba.


"Cis ... mestinya kau pulang ketika sudah kubayar tadi malam!" sentak Gio marah.


"Ampun ... huuu ... ampun Tuan!" pintanya benar-benar memohon.


Tapi, salah seorang pria menyeretnya dan membawa Burhan pergi. Dia berteriak-teriak minta tolong.


Aini dan Saf langsung melihat kondisi dua anak yang kini tergeletak tak berdaya. Aini menangis melihat kedua adiknya menjadi korban kejahatan. Saf mencium mulut keduanya bau obat bius yang cukup kuat. Ia menggendong Ditya Darren yang sigap menggendong Radit.


"Kita bawa mereka ke rumah sakit?" tanya Darren.


"Ke rumah Aini saja. Kita akan buat mereka sadar melalui tenaga dalam," jelas Saf.


"Aini, kamu harus lapor ke guru jika dua adikmu tak bisa sekolah," titah Virgou. "Gio, temani Aini!


Aini mengangguk.


"Baik, Tuan!" sahut Gio.


Gomesh melangkah lebar. Lalu mendapati tuan dan lainnya ada di sebuah rumah sederhana. Ia pun membukakan kuncinya.


Saf lalu masuk dan meletakan Ditya, Darren melakukan hal yang sama.


Saf, melihat suasana. Ada termos. Gadis itu mengambil baskom dan mengisinya air biasa lalu mencampurnya dengan air dari termos.


Setelah mengukur suhu. Gadis itu kembali. Dengan hati-hati ia membuka baju Ditya.


"Apa bajunya juga dibuka?" tanya Darren.


"Ya buka semuanya," jawab Saf.


Kedua balita itu dibuka semuanya.


"Paman, tutup pintunya. Karena hal ini tak boleh dilihat orang luar," pintanya pada Virgou.


Virgou menutup pintu dari dalam. Gomesh duduk mengamati.


"Saya harap, jangan ada yang buka suara dengan apa yang saya lakukan!" pinta Saf lagi.


Semua mengangguk. Saf memeriksa semua saraf di tubuh kedua balita yang malang itu.


"Ata' Dallen ... bisa tolong usap setiap liur yang keluar dari mulut keduanya nanti?" pinta Saf memohon.


Darren mengangguk. Saf pun mulai menekan titik-titik syaraf. Beberapa air liur menetes, dengan telaten Darren mengusapnya. Aini dan Gio datang. Virgou meminta mereka masuk dengan cepat.


"Kau tenanglah. Biarkan Saf melakukan tugasnya," titah Virgou pada Aini.


Gadis itu duduk di sebelah pria dengan sejuta pesona itu. Virgou merangkulnya memberikan ketenangan. Aini sudah tidak menangis lagi.


Satu jam melakukan perbaikan syaraf yang nyaris tak berfungsi akibat banyaknya obat bius yang dihirup keduanya. Terlebih Radit dan Ditya masih balita. Kinerja otak, otot dan semua organ vital belum lah mampu melindungi zat berbahaya yang mereka hirup. Bukan hanya anak seusia keduanya Tapi orang dewasa pun belum bisa mengontrol itu kecuali orang-orang terlatih.


Ditya sadar terlebih dahulu. Saf memberi rangsangan pada balita itu.


"Mba," panggilnya lirih.


Aini menangis terharu. Tak lama Radit pun sadar. Saf langsung memeriksa saraf keduanya. Ia pun mengucap syukur. Tak ada kerusakan yang fatal hanya lemas saja.


"Alhamdulillah ya Allah. Mereka tidak apa-apa," ujarnya lega.


Aini lalu menghampiri Saf dan memeluknya.


"Terima kasih, Bu bidan ... terima kasih!'


"Makasih juga ya, Mas," ujarnya pada Darren.


Darren mengangguk dan tersenyum. Ia juga lega.


"Mandikan mereka dengan air hangat," ujar Saf.


Aini mengangguk dan melaksanakan perintah. Saf dan Darren memakaikan kedua balita itu baju mereka yang tadi.


"Bu, tadi ada apa? Kok Ditya rasa ada yang bekap, trus nggak ingat apa-apa," tanya Ditya.


"Udah, nggak apa-apa. Yang penting, Radit sama Ditya selamat," Darren menjawab pertanyaan Ditya.


Saf memilih memasak. Ia melihat lemari pendingin. Dengan keahliannya, ia membuat dua menu. Untuk anak-anak dan dewasa. Teh jahe untuk semuanya.


"Minum ini dulu, ya," ujarnya lalu meletakan teko dan beberapa cangkir di atas meja.


Gio yang menuangkan teh itu. Virgou langsung menyesapnya. Sementara Aini memandikan dua adiknya Safitri memasak..


Di tempat lain. Burhan dan anak buahnya kini menjadi bulan-bulanan para pria berpakaian hitam-hitam. Burhan menangis tiada henti meminta ampun.


"Ampun Tuan ... kapok ... huaaaa!"


"Diam kamu. Lawan cewe lemah kamu berani bahkan berniat licik!" sentak salah satu pria berbaju hitam.


Pak! Bug! Bletak!


Wajah Burhan babak belur. Pria itu pingsan. Beberapa orang membawanya pulang ke kampung ketika dini hari dan melemparnya tepat di depan rumah bersama satu boks barang bukti penggelapan dana desa.


"Selamat menikmati hari kesusahanmu Burhan!" sahut salah satu pria dengan tampang geram.


Empat orang berpakaian serba hitam itu pun pergi meninggalkan desa tanpa jejak.


bersambung.


ah ... selamat.


next?