TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MAIN LAYANGAN



"Payangan?"


"Iya yang bisa pelbang di lanit!" seru Rion menjelaskan permintaannya.


"Oh layangan!" sahut Budiman dan Haidar bersamaan.


"Yuk beli," ajak Budiman.


"Ikut!" seru Lidya.


"Tuan, Nona, boleh saya bawa Nona kecil dan Tuan Baby keluar beli layangan?" Budiman meminta ijin.


"Boleh. Sekalian beliin sate bebek ya, dua puluh tusuk," pinta Terra.


"Uangnya!" dengan santai Budiman menadahkan tangannya.


"Astaghfirullah. CEO kere!" ledek Haidar sengit.


"Tele apa, Pa?" tanya Rion ingin tahu.


Terra berdecak. Haidar menggaruk kepala. Budiman melipat bibirnya. Lidya pun tidak tahu apa itu kere.


Kedua mata balita itu sangat menanti jawaban ayahnya. Haidar menghela napas panjang.


"Kere itu miskin, Nak. Nggak punya uang," jawab Haidar akhirnya.


"Om Pudi eumbak puna uwang?" tanya Rion serius.


Budiman bingung menjawab apa. Lidya pun menatap iba pada pria kesayangannya itu.


"Baby, eunda usyah minta layangan sama Om Budi, ya. Kasihan."


"Iya, pasihan," saut Rion iba.


Budiman jadi serba salah. Ia pun akhirnya tetap mengajak kedua balita menggemaskan itu pergi membeli layangan dan sate bebek, dengan uangnya.


"Nah, gitu kek dari tadi," sela Haidar. "minta traktir aja sudah banget."


"Mas!" peringat Terra.


"Iya sayang," sahut Haidar sambil tersenyum kecut.


Mereka menaiki mobil Terra. Lalu keluar dari halaman rumah besar. Mencari layangan wau yang berukuran raksasa. Butuh waktu satu jam mereka mencari layangan dan sate bebek. Setelah dapat. Mereka pulang. Darren sudah berada di rumah menunggu.


Setelah sampai. Mereka langsung turun. Budiman menaruh sate permintaan Terra di meja.


"Nona, ini satenya!"


"Iya, makasih ya, Kak!" ujar Terra dari dalam kamar.


"Sama-sama!" sahut Budiman.


Pria itu langsung keluar. Ternyata Dahlan dan lainnya tengah memasang benang pada layangan besar itu. Sedang Darren memasang benang pada layangan kecil. Lidya dibelikan boneka panda. Gadis itu padahal tidak meminta


"Wah, bonekanya badhus sekali!" pujinya ketika melihat boneka itu.


Tanpa pikir panjang. Budiman langsung membeli boneka itu dan menyerahkannya pada Lidya. Gadis kecil itu beribu-ribu kali mengucap terima kasih pada pria kesayangannya itu. Budiman sampai terharu mendengarnya.


"Tuan Baby, mau apa lagi selain layangan?" tanya Budiman menawarkan sesuatu.


Balita itu hanya menatap sekeliling. Lalu dia pun menggeleng, bertanda tak ada mainan yang menarik perhatiannya. Tetapi mata Budiman menangkap satu mainan seru jika dimainkan bersama. Ia pun membelinya satu set langsung.


Entah berapa banyak uang ia keluarkan hari ini. Pria itu sepertinya tak keberatan sama sekali.


Setelah benang terpasang. Para pria dewasa menerbangkan layangan besar itu. Beruntung cuaca bagus dan angin cukup kencang. Dalam waktu lima menit. Layangan itu pun terbang.


Rion meloncat-loncat kegirangan, sambil bertepuk tangan. Gabe datang bersama Gisel. Mereka langsung ikut membantu Darren menaikan layangannya. Tak lama Virgou datang bersama istri dan kedua anak kembar mereka.


"Wah, layangan nih! seru pria bule itu.


Ia pun kembali ke mobil mengambil sarung tangan. Lalu memakainya.


"Gantian sini!" pintanya.


Budiman menyerahkan benang itu pada Virgou. Pria bule itu pun mulai menarik ulur benang, agar layangannya makin tinggi.


"Waaah ... Daddy pawangan!" pekik Rion kesenangan.


Budiman berdiri mendekati Gisel. Keduanya saling lirik. Lalu mengumbar senyum. Gadis itu selalu saja merona jika berdekatan dengan Budiman.


'Duh, dari sekian banyak cowok. Cuma Kak Budi yang bikin gue kelepek-kelepek-!' gumamnya senang dalam hati.


"Kamu cantik," puji pria itu berbisik.


Blush! Lagi-lagi Gisel merona. Mukanya memerah hingga ke telinga.


"Bener, sayang. Kamu memang cantik!" puji Budiman tulus.


Dia pria tulen. Pantang baginya ngegombal ala-ala. Ia akan berkata jujur dengan hatinya.


"Sebuah hubungan itu harus dilandasi kejujuran. Biar kedepannya itu bahagia dan sama-sama enak," itu alasannya.


Ia pun jujur memuji Gisel. Memang gadis itu cantik. Dan Budiman mengakui itu.


Puspita membawa anak-anaknya di teras bersama Lidya yang memeluk boneka pandanya dengan sayang.


"Bonekanya bagus sekali!" puji Puspita.


"Iya, Mommy. Om Budi yang belikan," sahut Lidya senang.


"Sudah bilang makasih?" Lidya mengangguk.


Puspita mencium pipi gembul Lidya dengan gemas. Lidya tertawa. Ia pun mengajak dua adiknya bermain.


"Baby Satlio dan Baby Alimbi. Kita main boneka yuk!" ajaknya.


"Kita ke dalam Mommy. Di lual panas!" ajak Lidya lagi.


"Ayo," sahut Puspita.


Terra keluar kamar. Ia baru saja menyusui empat bayinya. Ia pun mendatangi stroller berisi bayi kembar itu.


"Assalamualaikum, Baby!" sapanya lalu mencium mereka berdua bergantian.


Kean dan Cal sangat senang. Kakinya bergerak-gerak seperti ingin diangkat.


Terra mengambil Kean, lalu Ita mengangkat Cal dan meletakan digendongan Terra.


"Abehwnsjnsa ...!" oceh mereka berdua.


Sedang di luar para pria asik bermain layangan. Haidar keluar dari kamar ketika melihat semuanya bermain layangan. Ia juga mau ikutan.


Beruntung Budiman membeli dua layangan besar. Kini benangnya tengah dipasangkan oleh Dahlan dan rekan-rekan lainnya. Haidar ikut membantu.


"Udah siap!" teriak Haidar ketika layangan sudah direntangkan.


"Lepas!"


Layangan dilepas. Haidar langsung menarik cepat benang dengan sekuat tenaga. Layangan itu pun berhasil terbang. Rion makin melompat kegirangan.


Hari beranjak siang. Mereka mengikat tali di sebuah tiang besi. Waktunya shalat dhuhur. Mereka menghentikan semua kegiatan. Lalu beranjak ke musolah di belakang rumah. Haidar sengaja membangun pendopo di sana untuk shalat.


Usai makan siang. Anak-anak pun wajib tidur siang. Sedangkan para pria melanjutkan bermain layang-layang. Hingga sore menjelang. Baru mereka menurunkan benda besar itu.


"Letakkan di paviliun!' titah Haidar.


Mereka pun membawa semua benda itu ke paviliun dan menyimpannya secara baik-baik.


Usai maghrib, Terra dan Haidar mulai bersiap. Mereka berdua akan mendatangi acara reuni sekolah Terra. Budiman sudah memanaskan mesin mobil. Mereka menggunakan mobil Mercedes merahnya.


"Kak, titip anak-anak ya," ujar Terra sedikit memohon.


"Iya, beres. Katanya Ayah juga entar lagi nyampe kok," ujar Puspita menyahut permintaan Terra.


"Sepertinya kita nggak ketemu Ayah, nih," ujar Haidar ketika melihat jam di pergelangan tangan kirinya.


"Ah, nggak apa-apa lah, telat dikit. Lagian acaranya juga paling ngaret!" sahut Terra.


Benar saja, tak lama Herman datang bersama istri dan anak kembar mereka. Terra pamit dan lagi-lagi menitip ketujuh anaknya.


"Jangan nakal, ya," nasehat Terra pada tiga anaknya yang sudah besar.


"Iya, Mama!" sahut mereka bertiga.


"Mama, Papa pergi ya. Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam!"


Terra dan suami akhirnya pergi. bersama Budiman dan Rudi. Di dalam rumah kekacauan pun terjadi. Seluruh bayi hanya menurut pada Rion. Berceloteh ria dengan bahasa mereka sendiri. Dan hanya Rion yang mengerti bahasa mereka.


bersambung.


Halah ... bayi pada ngobrol.


Cie ... mang Pudi! ehem!


next?