TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MONSTERNYA DOUGHER YOUNG



Virgou langsung tak sadarkan diri ketika tubuhnya berbaring di brangkar. Tidak ada yang mengetahui jika Virgou sudah tak sadarkan diri. Ketika ditangani dokter, barulah para medis itu mengatakan jika pasien kehilangan kesadaran.


Budiman, yang ada di mobil mengambil jaket yang dikenakan kakak iparnya dari. Baru lah ia tahu, jika jaket itu bersimbah darah. Budiman sampai menutup mulutnya. Mengingat berapa lama Virgou menahan sakitnya.


"Selama dua belas jam ia dikonfrontir oleh kepolisian. Menyatakan pernyataan tanpa ada kesalahan ... dia benar-benar monster!" gumam Budiman setengah mendesis.


Hari sudah malam. Semua menginap di rumah Bart. Mereka tak mungkin. mendatangi rumah sakit. Terra tidur bersama Puspita, menenangkan kakak iparnya.


"Jangan menangis terus Kak," ujarnya.


Papa dan Mama tadi juga bilang Kakak harus banyak berdoa kan?" lanjut Terra.


Puspita mengangguk. Wanita itu harus banyak berdoa untuk kesehatan suaminya. Ia juga harus meyakini jika suaminya adalah pria yang sangat kuat.


Sedang di rumah sakit. Dav baru saja mendonorkan darahnya untuk kakaknya. Budiman masih menunggunya. Suster menyerahkan satu gelas susu dan bubur kacang hijau.


"Bapak makan dan minum ini ya. Biar tenaganya pulih lagi," ujar seorang perawat berwajah manis.


"Terima kasih, Sus," ucap Dav lalu tersenyum.


Suster itu mengangguk lalu pergi meninggalkan tempat itu. Dav menyerahkan susu pada Budiman.


"Eh ... kau harus meminumnya, kenapa serahkan padaku?" tanya Budiman heran.


"Aku tak suka susu!" tolak pria itu.


"Tapi susu di dada wanita mau?" kelakar Budiman.


"Seperti kau tidak suka saja!" sindir Dav.


Budiman pun meminum habis susu itu. Ia sedikit lapar memang. Susu itu menambah tenaganya. Dav memakan bubur kacang hijau dengan perlahan karena masih panas. Sekitar lima menit baru bubur itu habis.


Kini keduanya menyender di kursi tunggu rumah sakit. Virgou dioperasi untuk mengeluarkan proyektil yang bersarang di bahunya. Operasi selesai, melihat lampu depan pintu mati. Keduanya langsung berdiri.


Dokter keluar dari ruangan itu, langsung di tanya oleh Dav.


"Peluru yang bersarang di tubuh korban telah berhasil dikeluarkan. Tubuhnya kekurangan darah. Kami rasa korban bukan sosok manusia bisa selama itu sadar dan tidak mengalami cedera otot atau apapun. Walau sekarang kondisinya masih diambang kritis," jelas dokter panjang lebar.


"Kami akan melakukan observasi setelah ini. Darah yang diperlukan butuh tiga kantung lagi dengan kapasitas 500cc per kantungnya!' jelasnya lagi.


Dav sangat kaget melihat berapa banyak darah yang dibutuhkan saudaranya itu. Para medis mengatakan telah meminta di berbagai rumah sakit yang ada di kota ini. Budiman langsung memposting status di media sosialnya. Karena yang dibutuhkan begitu banyak sedangkan darah yang dimiliki oleh Virgou cukup langka.


Pagi hari, setelah mengantar anak-anak ke sekolah. Terra, Puspita dan Khasya memasak banyak. Mereka akan membawa bekal makan siang ke rumah sakit. Gisel akan datang setelah mengurus kedua mertuanya.


"Jadi Budiman sedang bersama saudara iparnya menunggu di rumah sakit?" tanya Fery ayah Budiman.


"Iya, Pak," jawab Gisel.


"Pergilah sekarang, Nak. Kami bisa mengurus diri kami sendiri. Toh, di sini ada para maid," ucap Mia meminta Gisel untuk segera mendatangi rumah sakit, "bawa pakaian suamimu juga!"


"Baik Bu. Terima kasih," ujar Gisel akhirnya menurut kata ibu mertuanya.


Setelah membawa perlengkapan suami dan anaknya. Ia pun pamit sambil menggendong Samudera. Wanita itu pergi ke rumah Terra.


Sedang Darren yang pergi bersama Gio dan Dahlan ke kantor. Ia ada rapat pagi ini. Berencana setelah rapat remaja ini akan ke rumah sakit dan mendonorkan darah untuk Daddynya itu.


"Syukur darahku sama dengan Daddy," gumamnya.


Siang hari, Terra satu mobil bersama Puspita, Rasya, Rasyid, Kean, Affhan, Maisya Kaila, juga Lidya. Sedangkan Gisel satu mobil dengan Khasya bersama Arimbi, Satrio, Samudera, Rion, Dimas, Dewa, Dewi dan Cal. Sedang Bart bersama Juan memakai mobil sport Terra. Mereka dikawal oleh empat mobil lainnya.


Mereka semua pergi ke rumah sakit. Di sana mereka bertemu dengan Bram, mertua Terra.


"Pa!" panggil Terra dan Puspita.


"Mas!" panggil Khasya.


"Bram!" panggil Bart.


Pria itu mengangguk dengan wajah penuh kecemasan. Ia datang untuk memberi dukungan. Kanya akan datang bersama dengan Karina dan dua putranya.


"Kita bareng-bareng yuk," ajak Bram.


"Haidar juga sudah ada di sana bersama Herman," jelasnya lagi.


Semua masing-masing mengandeng anak-anak mereka. Bahkan, Terra membawa stroler untuk Rasya dan Rasyid juga Kaila. Yang lain bergandengan tangan, Samudera digendong oleh Bram. Semua naik lift. Virgou telah di tempatkan di ruang ICU VVIP. Pria itu belum sadarkan diri.


Ketika sampai ruangan. Darren baru saja mendonorkan darahnya. Terra memeluk putranya itu dan mengucap terima kasih.


"Terima kasih, sayang ... terima kasih."


Darren meminum susu yang diberikan oleh perawat untuknya.


"Apakah darahnya masih kurang Sus?" tanya Bart.


"Makanya kami langsung memberi dia susu dan vitamin agar memulihkan dirinya," lanjutnya.


Haidar memeluk dan mencium putranya itu penuh kebanggaan. Herman mengelus kepala remaja itu sayang.


"Bagus, Nak!" puji Bram bangga.


"Pasien belum sadarkan diri, kami bisa memberi kesimpulan jika pasien koma," jelas Dokter keluar dari ruangan.


Puspita nyaris merosot jika Khasya tak langsung menangkap tubuh wanita itu.


"Mommy!" anak-anak memeluknya.


"Kamu harus kuat sayang, harus!" ujar Khasya memberi kekuatan untuk Puspita.


Rion langsung bergegas ke ruangan. Tak ada yang bisa menahan laju bocah berusia sepuluh tahun itu. Wajah tampannya menatap wajah tampan yang memejamkan mata erat. Menatap layar monitor yang menandakan ritme jantung dan tekanan darah yang di bawah normal.


"Daddy bangun Daddy!' panggil Rion dengan suara tercekat.


"Daddy bangun Daddy!" teriak Rion.


Tiiit! Monitor berbunyi. Tekanan tiba-tiba naik namun kembali turun lagi. Para dokter pun langsung masuk ke ruangan.


"Panggil lagi, Nak. tadi Pasien merespon!" titah dokter.


"Daddy bangun!" teriak Rion.


Tiiit! Monitor lagi-lagi berbunyi. Dokter langsung memberi penanganan cepat.


"Sekali lagi, Nak!" pekik dokter.


"Daddy tolong Ion!" teriak Rion.


"Baby!" Virgou tersentak dan terbangun.


"Daddy ... huuuu ... uuu ... Daddy!" panggil Rion menangis.


"Baby jangan takut, Baby ada Daddy di sini!" sahut Virgou.


Pria itu menatap sekelilingnya. Kepalanya pusing sekali. Tubuhnya serasa remuk seperti habis dipukuli.


"Tuan, apa anda mengingat siapa anda?" tanya dokter memastikan.


"Kau pikir aku sesakit apa harus amnesia?" tanya Virgou kesal.


Dokter itu terkekeh. Virgou mencabut sendiri selang oksigen yang menempel di hidungnya. Tidak ada yang bisa mencegah. Hasil pemeriksaan begitu mencengangkan kedokteran.


"Pasien sadar tanpa adanya kerusakan sistem organ apa pun, bahkan jantungnya juga sangat bagus. Bisa dibilang kita merawat monster yang tadi tidur sejenak," jelas dokter pada seluruh keluarga.


Rion kini memeluk Virgou sambil menangis. Pria itu memeluk sayang bocah lelaki itu.


"Daddy jangan tinggalin Iona ... hiks ... hiks!"


"Daddy kuat, Baby jangan khawatir," ujar Virgou menenangkan Rion.


Puspita masuk. Ia tak peduli ada anak-anak dan lainnya. Ia langsung menciumi wajah suami yang sangat ia cintai.


"Jangan lagi membuatku khawatir seperti ini ... aku mohon," ujar wanita itu.


"Tidak akan sayang. Maaf, ya," ujar Virgou menyesal.


Semua memeluk pria besar itu. Bahkan Haidar begitu kesal dengan Virgou.


"Kau seperti drakula yang kehausan. 2000cc darah kau habiskan!"


"Papa blatula ipu pa'a?" celetuk Kaila bertanya.


"Daddymu itu Dracula Baby!" jawab Haidar masih kesal.


"Biya, Daddy blatula ... pati ipu pa'a?' tanya Kaila sedikit marah pada Haidar.


Haidar gemas bukan main. Ia pun mengangkat Kaila lalu menciumnya hingga tergelak.


"Aku beripar dengan monster!" celetuk Budiman.


Herman mengangguk setuju. Bahkan, Bram juga hanya terngaga, bagaimana darah dua kantung terakhir bisa masuk begitu cepat ke tubuh Virgou.


"Monsternya Dougher Young!" celetuk Bram.


bersambung.


Alhamdulillah ... emang monsternya Dougher Young itu Virgou.