
Melihat pemberitaan di media masa, membuat Bram murka. Pria itu tidak habis pikir. Apa maksud dari pengakuan ini.
"Herman ... Herman. Ternyata tidak hanya ayahmu yang berotak picik. Kau juga sama. Memang benar ya, jika buah jatuh itu tidak jauh dari pohonnya!" umpatnya kesal.
Fabian yang merupakan asisten pribadinya hanya diam melihat atasannya mengoceh tak jelas. Selama tidak mengganggu pekerjaan, pria itu tidak akan memperingatkan atasannya. tersebut.
Sedang di tempat lain. Haidar yang menonton pengakuan tersebut pun, hanya tertawa. Yang, ia pikirkan adalah nasib ketiga anak lainnya. Haidar merasa jika Herman ingin memisahkan ketiga anak itu dengan ibunya.
"Terlihat sekali, ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tentu dengan melihat perusahaannya terpuruk seperti itu, orang-orang akan memberi tanggapan pada gadisku kenapa tidak membantunya. Bahkan, aku yakin jika nanti akan ada yang berani mengusik keberadaan ketiga anak malang tersebut!" ujarnya gamblang.
"Aku harus melindungi ketiga anak itu. Mereka terlalu kecil untuk mendengar perundungan dari mulut-mulut tak bertanggung jawab!'' tukasnya.
Drrrttt ... drrtt
Ponsel Haidar berbunyi. Nama "Mama" muncul di layar. Haidar membulirkan bulatan hijau menerima panggilan.
"Assalamualaikum, Ma!"
"......!"
"Iya, Ma. Aku sudah lihat pengakuan itu," jawab Haidar.
"......!"
"Aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali melihatnya saja. Benar kata Papa, jika kita salah langkah. Apa yang dibangun Terra sekarang akan sia-sia," jelas Haidar.
"......!"
"Jangan Khawatir, Ma. Aku pasti akan melindunginya, semampuku," jawab Haidar tegas.
".........!"
"Iya, Ma. Love you more. Wa'alaikum salam!"
Haidar menutup sambungan telepon. Pria itu harus bergerak lebih hati-hati sekarang. Terlebih publik belum mengetahui hubungan percintaannya dengan Terra.
"Aku juga yang bodoh. Kenapa waktu awal pacaran nggak langsung bikin berita, kalau aku sedang macarin Terra ya?" runtuknya pada diri sendiri.
"Aku harap. Terra tidak tinggal diam. Ia harus mencari jalan, agar ketiga anak itu tidak ada yang mengusik!" lanjutnya.
Sedang di rumah Terra, ia tengah menemani ketiga anaknya bermain. Kelakuan Rion yang makin menggemaskan bahkan banyak kosa kata yang sudah ia ucapkan dengan sembarangan. Lidya yang makin ceriwis dan centil. Gadis kecil itu suka bersolek di cermin kecil dengan bahasa yang hanya ia yang mengerti. Sedang Darren.
Tidak ada keluhan dari pria kecil itu. Bahkan, ketika Terra bertanya, apa ia mendapat soal yang berbeda dengan teman-teman sebangkunya. Darren menjawab tidak. Malah, pria kecil itu senang ikut membantu teman-teman mengajari mereka pelajaran yang tidak dimengerti. Terra cukup puas dengan penjelasan Darren.
"Asal tidak mengerjakan soalnya teman, tidak apa-apa. Jangan sampai kau yang dimanfaatkan orang lain, oke!" ujar Terra memberi nasihat.
"Iya, Mama. Gurunya juga baik kok. Suka nanya, apa Darren mengerti, gitu," jawab Darren dengan wajah gembira.
Terra cukup bernapas lega. Bahkan pria kecil itu sudah tidak lagi bermimpi buruk. Sudah dua hari Darren tidur di kamarnya sendiri. Walau terkadang Terra yang masih cemas akan keadaan putra angkatnya itu. Sesekali ketika semua terlelap. Gadis itu suka menyelinap masuk kamar Darren hanya untuk memastikan jika putranya itu tertidur lelap.
Masa trauma Darren seperti sudah tidak berpengaruh lagi. Pria kecil itu sudah tidak lagi mengingat keburukan mendiang ibu kandungnya.
Terra menerapkan bagaimana ibunya dulu mengajari dirinya pada ketiga anak itu. Dengan lemah lembut dan tidak menanam kebencian.
"Darren bukan benci Tante Firsha. Darren takut, jika Tante bangkit dari kuburnya dan memukuli Darren."
Sebuah alasan yang membuat Terra sedih. Namun, ia percaya, jika suatu hari, pria itu tidak takut lagi dengan ibu kandung yang sudah meninggal itu.
Setelah pengakuan itu. Terra selalu mengajak Darren ke kantor dengan setelan formal. Ia menciptakan rumor, pengganti sesungguhnya sudah dipersiapkan. Darren Hudoyo, putra pertama dari mendiang Ben Hudoyo.
Rumor yang ia ciptakan berimbas baik pada perusahaan. Walau Darren masih begitu belia. Namun, aura kepemimpinan sudah tercipta di raut wajahnya yang tampan.
Tenang dan tatapan yang dalam, senyum sedikit dan pembawaan yang begitu berkharisma. Membuat semua orang berdecak kagum. Bahkan tidak sedikit orang menjulukinya The Next Candidate.
Foto-foto Darren masuk sebagai cover berbagai majalah bisnis. Herman hanya terhenyak menatap cover majalah yang ada di tangannya. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
Memberi pengakuan agar dirinya ikut mendompleng kesusksesan Terra. Namun, sepertinya gadis itu langsung menjegal dengan munculnya foto pewaris perusahaan sesungguhnya.
Sedang di tempat lain di ruang yang berbeda. Bram dan Haidar sama-sama tersenyum melihat cover majalah yang menampilkan diri Darren.
"Terra memang cerdas!" puji mereka berdua antusias.
bersambung.
good job Terra ...
kamu memang bukan cewek kaleng-kaleng.
next?