
Hari berganti. Sore hari di Eropa. Sosok pria sudah berpakaian rapi, ia juga sudah bersiap.
Miranda mengantar suaminya ke bandara bersama sang supir. Sebelum berangkat. Goerge meminta didoakan oleh istrinya.
"Kau sudah mempelajari ke mana saja kan kau harus pergi?" tanya Miranda khawatir.
"Sudah sayang. Aku sudah melihatnya dan bertanya pada beberapa kolegaku yang pernah ke sana," jawab pria itu.
Sepasang suami istri lanjut usia itu pun berciuman. Setelah itu Goerge melangkahkan kaki menuju pesawat komersil. Ia duduk di kelas bisnis. Pria itu sudah mempelajari ke mana saja ia harus turun nanti di bandara. Pria itu harus membawa diri. Selama delapan belas jam. Pesawat itu akan menerbangkannya ke benua di mana Terra berada.
"Semoga semuanya baik-baik saja," pintanya berdoa.
Terra sudah tau dengan kedatangan Goerge. Frans memberitahunya. Wanita itu sendiri yang akan menemui pria itu.
"Apa dia datang sendiri?" tanya Terra pada Frans.
"Ya, dia datang sendiri," jawab Frans di ujung telepon.
Terra membiarkan Goerge mencari tahu keberadaannya. Ada sebersit rasa iri pada Deborah. Walau ia dulu dilimpahi kasih sayang oleh kedua orang tuanya. Tetapi, Lidya tidak. Gadis itu harus mengalami penyiksaan demi penyiksaan.
"Kak Robert!" panggil Terra.
"Saya!" saut pria sambil menunduk hormat.
"Besok sekita pukul tujuh, awasi pria bernama Goerge Vox. Ingat hanya awasi saja, jangan lakukan apa pun?!" titah Terra.
Robert membungkuk hormat lalu ia pergi untuk melaksanakan perintah Terra.
Tak lama Lidya pun pulang. Wajah Terra langsung berubah. Tadinya berwajah dingin, berubah menjadi hangat dan penuh cinta.
"Wa'alaikumussalam," sahut Terra membalas salam putrinya.
"Sore Ma. Mana adik-adik?"
Terra menunjuk taman belakang. Di sana adik-adiknya tengah bermain. Lidya pun mendatangi mereka dan membagikan coklat satu orang satu.
"Makasih Kakak Iya!" seru mereka seperti paduan suara.
"Sama-sama," sahut Lidya sambil tersenyum lebar.
Delapan belas jam berlalu. Vox turun dari pesawat dalam keadaan jetleg. Pria itu duduk sebentar di ruang tunggu bandara. Pinggangnya terasa panas. Pria itu akan mencari motel murah yang terdekat untuk meletakkan kopernya saja.
Lewat aplikasi canggih di ponselnya, ia sudah memesan kamar dengan harga cukup murah karena bukan hari weekend. Hotel bintang dua terletak tak jauh dari bandara. Melalui map digital, ia pun dapat mencapai hotel itu dengan mudah.
"Selamat pagi, apa yang bisa kami bantu?" tanya petugas hotel ramah.
Goerge menyerahkan bukti penyewaan kamar hotel via aplikasi. Petugas itu membawanya ke resepsionis untuk mendapatkan kartu aksesnya.
Setelah meletakkan kopernya di sana. Pria itu pun kembali ke luar hotel. Pagi ini matahari cukup terik. Suara mulai bising. Asap knalpot pun bercampur dengan debu.
Pria itu mendatangi mobil berwarna biru bertuliskan taksi.
"Helo mister!" sapa supir ramah.
"Where are you going?" tanyanya lagi.
Goerge menyerahkan kartu nama.
"I want to go to the address on this business card!" (aku ingin pergi ke alamat di kartu nama ini!) jawabnya.
Supir itu mengangguk. Ia memasang argometer nya. Goerge sudah menukar seribu euro ke dalam rupiah. Kini ada di dompet rahasianya. Ia hanya ingin mengantongi beberapa.
Sebenarnya semua supir tahu di mana itu alamat Hudoyo Grup. Tetapi, nasib sial dialami oleh Goerge kali ini. Sang supir membawanya ke jalan yang jaraknya lebih jauh dua kali lipat dari biasanya. Goerge yang kelelahan, nampak tertidur sejenak.
Sang supir nakal itu menyeringai sinis. Mobil itu berjalan lebih jauh lagi. Ia kembali memutar arah, padahal perusahaan itu hanya tinggal dua ratus meter lagi sampai. Sang supir ternyata menginginkan harta yang ada di pria tua malang itu.
Mobil biru itu masuk ke dalam gang sepi, pria itu mengenakan topeng kupluk warna hitam. Ia pun membentak.
"Hei bangun!"
Goerge tergagap.
"Are we there yet?" (apa kita sudah sampai?) tanyanya.
"Halah ... bodo amat Ama kata-kata Lo!" bentak sang supir.
Goerge tentu tidak mengerti. Ia sangat terkejut dengan daerah di mana ia berhenti.
"Where is this?" (di mana ini?) tanyanya panik.
"Gue nggak tau lu ngomong apa!" bentak sang supir lagi.
Pria itu menarik Goerge dari dalam mobilnya. Ia merampas ponselnya, mengambil dompetnya, membuang semua kartu identitasnya.
"Please don't do that!" (Tolong jangan lakukan itu!) pekiknya.
"Diam Lo!" bentak sang supir.
Goerge hendak berteriak. Tetapi, sebelum ia berteriak satu bogem mentah telak mengenai wajahnya. Pria itu tersungkur di tanah.
Setelah mendapat apa yang ia inginkan. Supir itu pun pergi meninggalkan Goerge yang pingsan.
Hingga lima belas menit kemudian. Ia pun tersadar. Bibirnya sobek dan mengeluarkan darah. Pria tua malang itu meringis kesakitan.
"God!" ia menangis tersedu.
Beruntung yang diambil oleh perampok itu hanya uang dan ponselnya saja. Uang sebanyak dua juta di dompet dicuri. Beruntung ia masih memiliki sejumlah uang di kantung rahasianya.
"Aarrghh!" pria itu berdiri sambil meringis.
Ia menghapus air matanya kasar. Ia tak boleh menyerah begitu saja. Sebentar lagi semuanya pasti ia akan dapatkan.
Goerge sengaja tak melaporkan dirinya ke kedutaan besar jika habis kerampokan. Dengan langkah terpincang ia pun mencoba mengikuti jejak mobil yang tadi membuangnya entah di daerah mana. Bajunya sudah kotor. Penampilan pria itu benar-benar mengenaskan.
Ia menatap kartu nama yang tadi dibuang oleh supir nakal itu. Ia menatap orang-orang yang hilir mudik di hadapannya. Ia mencoba bertanya, tapi tak satu pun orang mau menolongnya. Bahkan ada yang sengaja menghindarinya bahkan acuh.
Pria itu mencoba bertanya pada petugas yang bertuliskan security di seragamnya.
Security itu menatap tampilan pria bule tua yang kacau dan berantakan. Ia sangat yakin jika pria tua ini habis ditimpa musibah.
"this is my workplace. Let me take you" (ini adalah tempat kerjaku. Biar aku antar) jawabnya sambil mengajak pria tua malang itu.
Goerge menghela napas lega. Ia mengucap beribu terima kasih lalu mengikuti pria itu. Dengan langkah tertatih dan pincang. Goerge begitu semangat bisa sampai ke perusahaan yang memberinya harapan besar untuk menemukan putrinya.
"Who do you want to meet, sir?" (Siapa yang ingin kau temui Tuan?) tanya sekuriti.
"The name on the business card," (Nama yang ada di kartu nama tersebut) jawab Goerge.
Pria itupun mengangguk dan mengantarkan pria itu ke resepsionis.
"Tuan ini mau ketemu sama Nyonya Terra," ujarnya memberi tahu.
"What's your name, sir?" tanya sekurity pada Vox.
"Vox, Goerge Vox!" jawab pria itu.
Terra sudah memberitahu jika ada pria bernama Vox yang akan bertemu dengannya hari ini.
"You've been waiting, sir,"(anda sudah ditunggu Tuan!) sahut resepsionis itu.
"Follow me," ajak wanita itu.
Dengan langkah terpincang, Goerge mengikuti wanita itu menaiki lift. Pria itu merasakan sakit luar biasa di kakinya. Ia yakin jika kakinya bengkak. Beruntung tadi dia sudah memberinya satu alat tempel untuk meredakan sakitnya.
Ting! Pintu lift terbuka. Mereka berdua keluar dari lift dan berjalan menuju satu ruangan. Wanita itu mengetuk pintu yang tertutup.
"Nona, Tuan Vox sudah datang!" sahutnya yang tak dimengerti Vox.
"Masuk!"
Wanita itu membuka pintu. Vox masuk setelah dipersilahkan. Ia pun mengucap terima kasih.
(othor gunain bahasa Indonesia aja ya)
"Selamat pagi, Tuan Vox!" sapa Terra dingin.
Wanita itu tadinya membelakangi Vox. Begitu ia berbalik. Terra sangat terkejut dengan penampilan pria tua itu.
Bibir sobek, dengan muka memar, baju kotor bahkan sedikit sobek. Terra meyakini jika Vox baru saja mendapat musibah.
Tadinya, seribu umpatan dan makian ingin dia daratkan pada pria ini. Tadinya ia ingin menghina Vox. Tetapi, begitu melihat penampilan kacau pria itu. Terra urung melakukannya.
"Nona Dougher Young ... tolong Putriku, kau boleh ambil apapun bahkan nyawaku sekalipun. Asal kau bisa mengembalikan Putriku," pinta pria itu dengan suara serak.
Terra terdiam. Budiman yang ada di sana tak melakukan apa-apa selain menunggu perintah.
"Aku mohon, Nona!" ujar George lalu ia pun bersimpuh di depan Terra.
"Tuan Vox!"
Terra langsung merengkuh tubuh pria itu yang menangis.
"Aku tau, pasti Deborah berbuat kesalahan yang fatal. Hukum saja aku, Nona. Timpakan hukuman itu padaku, karena tidak bisa mendidik putriku dengan baik!" ujar pria itu sambil tergugu.
Terra menangis. Ia tak pernah melihat begitu besar cinta seorang ayah pada putrinya.
"Berdirilah Tuan," ajak Terra lalu mengangkat bahu yang bergetar.
Budiman hanya bergeming. Pria itu tak menampakan ekspresi apapun.
Terra memencet interkom dan menyuruh Aini mengobati luka-luka Goerge tapi langsung ditolak.
"Tidak usah, tolong biarkan saja. Ini tak seberapa dibanding aku harus kehilangan putriku."
Terra sedih. Ia pun lalu mengangguk dan memberi perintah pada pria yang hanya berdiri mengamati. Budiman mengangguk. Lalu membawa George bersamanya. Terra mengikutinya.
Jalan yang pincang, membuat Terra makin yakin jika George terkilir. Mereka menaiki mobil dan pergi ke suatu tempat. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai di sebuah camp.
Budiman berbicara pada ketua camp di mana di sana terdapat orang-orang yang diberi suaka oleh pemerintah.
Deborah yang terkatung-katung selama tiga hari di laut lepas. Diangkut oleh dinas ke daratan. Gadis itu cukup beruntung, karena pemerintah memberi suaka pada orang-orang terlantar seperti Deborah.
Gadis itu muncul dengan rambut kaku dan kulit kusam. Pakaian yang ia kenakan sangat lusuh dan seperti gembel. George langsung mengenalinya.
"Putriku!" teriaknya.
"Daddy!" Deborah terbengong.
"Daddy!" teriaknya.
Lalu mereka berpelukan. Deborah bersujud di kaki ayahnya menangis dan meminta maaf. George juga menangis. Ia begitu bahagia mendapatkan putrinya kembali.
"Tuan Vox, anda bisa membawa putri anda kembali. Kami telah mendapatkan datanya," ujar ketua camp.
George mengucap syukur berkali-kali. Lalu ia mendatangi Terra dan memeluknya.
"Thank you ... thank you," ujarnya penuh ketulusan.
Keduanya pun diantar ke hotel tempat di mana George menyimpan kopernya. Sorenya ia langsung pulang. Deborah dideprlortasi selamanya ia tak boleh berpergian.
Terra menghapus air matanya.
"Kita pulang!" ajaknya.
Budiman membungkuk hormat. Lalu ia pun mengawal Terra dan menyupirinya hingga rumah.
bersambung.
ah ... ada air mata.
next?