TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SEBUAH PERISTIWA 4



“A-apa? Tanya Kevin tak percaya.


“Ya, aku adalah kakek dari Naisya Putri Hovert Pratama,” sahut Bram enteng sedikit sombong. “Aku juga pemilik dari universitas ini!”


Bram telah memanggil polisi untuk menangkap para preman. Kevin akan di hadapkan kepada dewan kehormatan mahasiswa. Bram meminta ketua pengawas mahasiswa ikut andil dalam mengurus kasus kevin ini. Pria itu meminta semua dewan dari seluruh kampus berkumpul.


“Aku akan memberikan tenggat waktu dua hari untuk membuka kotak keluhan!” tekan Bram di rapat dadakan dewan pengurus. Bahkan Haidar dipanggil ke sana, dan sekarang ia duduk dengan segala keterkejutannya.


Terra yang ada di sana berdiri sebagai dewan forum mahasiswa. Ia menjabarkan kasus putrinya yang nyaris dilecehkan oleh kevin Olery. Kevin duduk dengan kepala tertunduk malu.


“Ini hanya kenakalan remaja biasa. Kenapa sepanik ini sih?” ujar salah atu anggota staf.


“Pelecehan kau anggap biasa?” tanya Terra mendesis.


“JIka terjadi pada putrimu, apa itu menjadi hal biasa?” tanyanya lagi.


“Hal ini pasti terjadi pada semua gadis. Mereka pasti melakukan sesuatu hingga dilecehkan seperti itu. Mungkin putrimu menggoda pemuda itu, secara Kevin tampan dan cerdas,” sahut anggota staf.


Banyak kepala mengangguk setuju dengan pendapat anggota staf universitas. Mereka lupa siapa Nai, salah satu calon dokter termuda di kampus mereka Istilah tak ada asap jika tak ada api.


“Lalu apa kau bilang penampilan putriku ini menggoda? Bahkan aku bisa memperlihatkan bukti jika putriku sama sekali tak menggoda Kevin!” sentak terra tak terima.


“Lalu apa dibenarkan semua kasus pelecehan dan hanya menyoroti korban saja, bukan pelakunya?”


Semua terdiam.


“Anda seorang wanita. Jika di jalan anda dilecehkan. Apa anda akan mengatakan itu adalah hal biasa?” cecarnya lagi.


Haidar sangat bangga pada istrinya, walau ia sedikit terkejut dengan apa yang dikenakan sang istri. Rapat akan ditunda hingga dua hari ke depan. Semua rektor mau pun dekan setiap kampus akan diperiksa semuanya, personil penjaga juga diperbanyak.


Terra pun pulang bersama anak-anaknya dengan kendaraan masing-masing. Rapat selesai dalam dua jam. Bram menjemput istrinya tepat ketika Kanya selesai melakukan treatmen pada tubuhnya.


“Wah, tumben Papa tepat jemputnya, biasanya Mama harus nelepon sepuluh kali dulu,” sindir Kanya.


Bram terkekeh mendengarnya, ia merangkul bahu sang istri dan mengecup kepala wanita yang telah menemani selama nyaris setengah abad itu.


“Terima kasih sayang, kau memilihku menjadi suamimu. Bukan si kumis tipis itu.”seloroh Bram.


“Ish ... dari tadi kau mengatakan itu. Siapa sih, kok aku nggak ingat?” sergah Kanya kesal.


“Jadi kau tak ingat sepupuku Devano?'’ tanya Bram.


Kanya mengerutkan dahi, untuk mengingat nama yang baru saja disebutkan oleh suaminya. Tapi, sekuat apa pun ia mengingat, ia tak menemukan nama itu dalam ingatannya. Ia hanya ingat ibu mertuanya ketika pertama kali bertemu di tempat itu dan perjodohan datang seminggu setelahnya.


“Maaf, aku tak ingat, sayang. Yang kuingat adalah dirimu yang melamarku di kedai kopi milik mendiang sahabatku, Lili,”jawab Kanya.


“Sudah tidak apa-apa. Alhamdulillah jika hanya aku saja yang ada di dalam ingatanmu sekarang dan selamanya,” pungkas Bram lalu membawa istrinya dalam pelukan.


“Menikahlah Cep! Biar bisa meluk cewe!”sahut Bram yang mendapati supirnya mengintip dari spion tengah.


Pria yang mengemudi itu hanya menunduk malu. Ia pun menutup partisi agar pemandangan uwu di belakang itu tak mengganggu konsentrasinya menyetir. Bram tertawa melihat kelakuan supir barunya itu.


“Ck ... kebiasaan deh!” tegur Kanya.


Sedang di tempat lain, tampak seorang pemuda tengah mengadukan sebuah peristiwa pada ayahnya. Tentu saja hal itu membuat sang ayah marah besar.


“Siapa yang berani menghajarmu hingga babak belur begini?” tanya Richard Olery gusar.


Tentu saja, Kevin tak menyebut Nai yang memukulinya. Tapi nama lain.


“Daud Pratama. Cucu pemilik universitas!” sebutnya.


“Ah, mentang-mentang dia cucu pemilik gedung berasa seenaknya?" sahut Richard dengan muka mengelam.


“Dia anak kedokteran, kini sedang koas di wilayah B!”adu Kevin.


Kevin tersenyum licik. Tentu saja bukan kebenaran yang ia ceritakan, tapi jika pun yang ia katakan itu benar, Richard tetap akan membelanya. Ibunya sudah lama meninggal dunia, ayahnya pun telah memiliki seorang istri baru, tapi tidak tinggal di rumah mewah yang Kevin tempati saat ini.


Pemuda itu melarang ayahnya membawa istri barunya ke tempat ini. Selain itu Kevin merupakan anak laki-laki satu-satunya yang Richard miliki. Dari istri barunya ia hanya memiliki dua anak


perempuan saja, setelah itu sang istri tak bisa hamil lagi karena telah diangkat rahimnya akibat tumor ganas.


“Ayah akan mengajak beberapa rekan ayah untuk mengintai Daud. Jika situasi mendukung. Ayah akan memberi pelajaran cantik untuk pria itu,”ujarnya menyeringai licik.


Sementara di rumah Terra, Virgou yang baru mengetahui kejadiannya langsung marah besar. Pria dengan sejuta pesona itu, meminta Gomesh mengawasi putrinya Nai.


“Tinggalkan semua pekerjaanmu. Sekarang kau menjadi pengawal putriku!”tekan pria itu.


“Baik Tuan!”sahut pria raksasa itu.


Nai hanya memutar mata malas. Keluarganya memang terlalu berlebihan jika menyangkut keamanan. Walau ia bahagia banyak yang mengkhawatirkan dirinya. Lidya memeluk dua adik perempuannya itu. Ia melihat ada sedikit memar di pelipis Arimbi. Lidya nyaris saja heboh, jika tak ingat situasi.


“Ah, hanya luka kecil,”gumamnya lirih, walau ia sedikit khawatir.


Rion minta makan, ia kelaparan. Remaja itu belum makan dari tadi.


“Ma, mau pangsit rebus sama seperti Ibu Saf kemarin,”rengeknya manja.


“Oteh, Baby. Tapi rasanya sedikit berbeda ya,”ujar Terra menyanggupi permintaan bayi besarnya itu.


“Ma, ajarin Iya masak, dong” pinta gadis itu.


Terra mengangguk setuju. Ia yakin, putrinya ini dapat belajar cepat untuk memasak.


Sementara di rumah sakit. Dina sudah boleh pulang, ia bersama nenek yang kemarin ia meminta Cahyo untuk menjemput wanita tua baik itu. Ketika mereka keluar dari kamar, Dina terkejut mendapati suaminya sudah berdiri dengan binaran mata. Ia melirik pada Cahyo, pria yang selama ini menemani dan menolongnya.


“Sayang, apa itu putraku?”tanya Pramono dengan begitu haru.


Ia pun menatap sepasang suami istri yang kemarin membuangnya. Ada sedikit kepanikan di sana. Pram, mendekat.


“Berhenti di sana, mas!”titah wanita itu tegas.


Selama delapan bulan dirinya dibuang begitu saja. Bukan ia tak tahu menahu sepak terjang suaminya selama ia dibuang. Ia sangat tahu. (ikuti kisahnya dengan judul “Sang Pewaris”).


“Kemana saja kau selama delapan bulan kemarin, hah?”tanya Dina.


“AKu ... aku ....’


“Cukup Mas. Kita akan ketemu di pengadilan segera. Aku minta pisah darimu!” ujar Dina.


Kemudian ia pun berlalu dari sana.


“Bagaimana dengan anak kita, sayang?”


Mulut manis pria yang menikahi Dina selama dua tahun itu berucap.


“Dia akan kuurus sendiri!”ujar Dina tegas.


Pramono mengepal tangannya kuat-kuat. Pria itu menahan segala emosinya. Melihat punggung istrinya menghilang, setelah pencariannya selama satu bulan terakhir mendapatkan hasil, jika istrinya berada di kota lain. Ia menatap ayah dan ibunya bergantian.


“Bodoh!” makinya sangat pelan.


Bersambung.


Nah ... bagi readers yang mau baca kisah Dina. Nantikan ceritanya ya ... skuel keluarga Terra di judul “Sang Pewaris”. ASAP.


Next?