TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BERTEMU 2



Sosok wanita cantik dengan busana seksi ini mendekati kerumunan itu. Celia hanya bisa mengikuti nonanya saja. Ketika perkenalan, memang keluarga Dougher Young dan Pratama tidak diperkenalkan, karena semua sudah mengenal mereka.


"Halo selamat malam Tuan Starlight!" sapanya pada Demian.


Semua menoleh padanya. Sebenarnya, Darren dan Rion tak kalah tampan dengan Demian. Hanya saja tujuannya tentu untuk mempermalukan Lidya. Tentu dengan menjatuhkan gadis yang berpakaian sederhana di sisi Lidya, Putri.


"Wah, aku nggak menyangka, wanita biasa bisa masuk pesta ini!" sindirnya menatap Putri sinis.


Ia menggunakan bahasa Prancis. Ia mengira tak akan ada yang mengerti apa yang ia katakan.


"Memangnya ada apa denganku, Nona?" tanya Putri juga dalam bahasa Prancis.


Deborah terdiam sesaat Ia terkejut. Sedang Jacob memandangi gadis bertubuh sedikit besar itu. Wajah manis Putri memang sangat esentrik. Hidung mungil dengan kulit sedikit gelap. Rambut hitam dikuncir. Ia hanya memakai riasan sederhana, itupun hanya bedak dan lipstik saja.


"Biasa Kak. Gadis kaya dan manja, mengira orang udik seperti kita ini dikiranya nggak bisa apa-apa!" sindir Rion menyela juga memakai bahasa yang sama, Prancis.


Lidya hanya bisa menghela napas panjang. Demian tak peduli, ia pura-pura tak mengenal Deborah.


"Anda mengenalnya Tuan?" tanya Darren.


"Tidak, aku tak mengenali dirinya," jawab Demian santai dan menatap acuh Deborah.


Mendengar ia tak diakui oleh pria itu membuat Deborah geram bukan main. Ia ingin mengatakan tentang percintaannya dengan pria itu selama tiga bulan. Tetapi, belum juga ia mengatakan sesuatu. Rion mengajak kakaknya beranjak dari situ dan mendekati orang tua mereka.


Demian mengikuti mereka. Pria itu memberi kode pada Jacob. Deborah yang ingin mengikuti Demian langsung dihalangi Jacob.


"Batasi gerakmu, Nona!" peringat pria itu dengan wajah datar dan menyeramkan.


Celia langsung menarik nonanya untuk pergi dari sana. Deborah yang tadinya menolak, ditarik paksa oleh sekretarisnya itu.


"Nona, sudah saya bilang dan tuan besar juga telah memperingati untuk menjauh dari Tuan Starlight!" peringat Celia sambil menarik atasannya.


"Aarrghh!" Pekik Deborah tertahan.


Ia tak bisa apa-apa di negara orang lain. Ia juga tak memiliki siapapun di sini. Tiba-tiba ia teringat Jordhan Nothon. Kekasihnya yang masih dipenjara.


"Akan kucoba menghubunginya," ujarnya dalam hati.


Sedang di dalam pesta masih berlangsung. Para pengusaha saling mengobrol bahkan banyak kesepakatan dan jalinan kerjasama yang berlangsung.


Sayang sekali Deborah terbawa napsu. Seandainya wanita itu mengesampingkan egonya. Ia akan mendapat jalinan kerjasama yang lain selain yang dipinta ayahnya.


Sementara di sebuah ruangan. Sosok tampan dengan tampang tak terurus. Pria itu baru saja dibayarkan jaminannya. Ketika ia mengambil ponselnya. Tiba-tiba ponsel itu berbunyi. Nama Deborah ada di sana. Ia pun mengangkatnya.


"Halo!"


"Babe I need your help!" saut Deborah di seberang telepon.


Pesta berakhir. Semuanya pulang membawa kerjasama baru juga beberapa peluang usaha. Demian kembali ke Home stay yang diperuntukkan dirinya. Jacob menatap putri yang membawa motor besar warna hijau yang diantarkan juru valet. Kepalanya sampai berputar sedemikian rupa.


"Siapa yang kau lihat Jac?" tanya Demian.


"Itu sahabatnya Nona Lidya," jawab pria itu.


"Oh ... siapa namanya ... Pu .. Purti?"


"Bukan Tuan tapi Putri," jawab Jac.


Kini pria itu menatap depan. Ia sudah tak bisa melihat gadis yang menarik perhatiannya kini.


"Cari tau, di mana Lidya praktek, juga semua kebutuhan gadis itu Jac!" titah Demian.


"Tuan," panggil Jac.


"Apa!" sahut Demian.


"Nona Lidya tak butuh apa-apa dari Tuan. Kau tak ingat, Nona Lidya adalah seorang Dougher Young?"


"Ah ... iya, aku lupa. Uang mereka tak berseri di negara ini," ujar Demian lagi.


"Baik Tuan," sahut Jacob.


Hari berganti. Kini, Lidya sedang berada di tempat prakteknya di rumah sakit. Setelah ini ia akan ke kampus untuk meneruskan pendidikan S2nya. Gadis itu mengambil program management rumah sakit.


Tiga pria mengawal dirinya. Kali ini, Lidya dikawal oleh Juno, Felix dan Robert. Mereka berdua menunggu di ruang tunggu yang ada di depan ruang praktek nona mereka.


Setelah ini Putri akan bertugas malam. Ia sudah keluar duluan setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Juno dan dua rekannya berdiri. Tak lama Lidya pun keluar sambil meletakkan jas snelinya di lengan. Robert mengambil jas nonanya sedang Felix mengambil tas berisi peralatan kedokteran Lidya.


Gadis itu terkadang sedikit kesal. Ia jadi seperti nona besar yang manja jika diperlukan istimewa seperti ini. Tetapi, untuk menolak perhatian para pengawal ia juga tak tega.


Felix memindai sekitarnya. Ia merasa aneh. Pria itu cukup jeli jika ada beberapa orang seperti memperhatikan mereka.


Robert juga merasakan hal yang sama. Begitu juga Juno. Mereka jadi memepet tubuh nona mereka.


Lidya yang tak tahu apa-apa, jadi heran. Ia memandangi para pria yang menjadi pagar pelindungnya.


"Om Juno, Om Robert, Om Felix. Ada apa?" tanya Lidya curiga.


"Tenang, Nona. Hanya perlindungan sedikit ketat saja," jawab Juno menenangkan Lidya.


Mereka pun sampai di halaman parkir rumah sakit. Juno langsung memeriksa semuanya. Bahkan menggunakan kaca hingga ke bawah mobil. Terlihat aman..Mereka pun naik mobil dan menjalankan kendaraan itu meninggalkan rumah sakit.


"Besok kita ganti mobil dan parkir di area khusus, Jun!" saran Robert pada tekannya.


"Oteh!" sahut pria yang kini menyetir.


Felix melihat pergerakan manusia melalui BraveSmart ponsel. Ia pun sedikit rancu dengan apa yang ia lihat.


"Mereka sepertinya terlatih," ujarnya.


"Ya, tapi mereka salah orang jika berurusan dengan kita!" sungut Juno dengan mata nyalang.


"Robert beritahu markas untuk mengecek pergerakan mafia klan DeathNote!" titahnya.


"Baik!" sahut Robert.


Sedang Felix meminta pasukan pengawal tambahan untuk melindungi nona mereka.


Lidya hanya bisa berpasrah, ia percaya jika dilindungi oleh para pria kesayangannya.


Sedang di sebuah tempat, Jordhan Nothon sedang duduk bersama para wanita seksi. Tiba-tiba datang sosok pria bertubuh gempal dan berwajah lucu. Pria bernama Baron Diego Nothon berusia lima puluh tahun. Dialah ayah dari Jordhan, adik sepupu Goerge Vox.


"Halo Jordhan, bagaimana? Siapa yang ingin kau incar?" tanyanya dengan senyum lebar.


"Hanya gadis kecil, bernama Lidya. Dia mengusik kekasihku Deborah," ujar pria itu.


"Oh, apa perlu bantuan lain?" tanya ayahnya lagi.


"Tidak Ayah, aku bisa mengatasinya. Hanya nyamuk kecil," ujar Jordhan sambil meremas salah satu aset wanita yang ada di sisinya.


"ikut aku manis!" ajaknya kemudian diikuti dua gadis yang menggelayutinya.


Ketiganya terlibat ciuman panas berganti-gantian. Hingga masuk sebuah kamar. Baron hanya menggeleng melihat tingkah putranya itu.


"Tuan, ini minum anda," ujar salah satu wanita dengan pakaian seksi.


Baron lalu menarik wanita itu dan langsung mencumbunya. Hingga terjadi suatu pertunjukan yang panas di sofa.


bersambung.


ah ... mafia bermain...


next?