
"Apa ini?" tanya Demian ketika melihat kumpulan flashdisk.
"Silahkan dilihat Tuan," ujar Jacob menunduk hormat.
Demian membuka laptop dan menyalakannya. Ia memasukkan flashdisk itu lalu membuka file-file nya. Matanya membelalak lebar. Ia menggeleng tak percaya.
"Kau tau aku tak suka dibohongi Jacob!" serunya dengan aura intimidasi.
"Tuan, anda mengenal saya berapa lama?" tanya Jacob menanyakan keloyalannya.
Tangan Demian mengepal. Mukanya mengelam, matanya berkilat sadis. Ia sangat menjunjung tinggi sebuah kesetiaan.
"Antar aku ke sana Jacob!" titahnya.
"Tidak sekarang Tuan!" sahut Jacob tenang.
"Saya tahu kapan jadwal mereka memulai semuanya. Kita bisa menikmatinya sebentar, lalu .... wala!" ucap Jacob memberi saran dengan seringai di bibirnya.
Demian mengangguk.
"Tapi, aku tak bisa berpura-pura, Jac!" ujar Demian sedikit gelisah.
Serahkan pada karyawan-karyawan setiaku Tuan. Anda tahu, jika ini saya dapatkan dari hotel di mana Gustavo mengantarkan tamu kita di hotel tersebut?" ujar Jacob memberitahu.
"Bahkan gerak-geriknya sudah dicurigai oleh OB kita ketika pertama kali ia masuk ruangan ini," jelasnya lagi.
Demian terduduk. Ia seperti orang bodoh selama ini. Ia menghela napas panjang. Justru orang-orang yang tidak pernah ia perhatikan menyelamatkan dirinya bahkan perusahaannya.
"Sebentar lagi dia datang Tuan," ujar Jacob ketika melihat jam tangannya.
Tak lama suara itu pun muncul. Demian tersenyum ketika melihat sosok cantik itu.
Sedangkan di tempat lain Lidya tengah berseru dengan adik-adiknya. Ella, Bastian dan Bill ingin berkaraoke.
"Ata'Iya pita ote-ote!" sahut Bastian semangat.
"Ayo!"
Gadis itu memasang alat karaoke. Lalu memutar lagu-lagu anak-anak. Bill ingin bernyanyi lebih dulu.
Lagu "Cicak di dinding" menjadi pilihan bayi itu. Musik pun mulai. Bill sudah berjoget asik.
"Bicat-picat pilindin ... piam-piam bewawap ... payan sepetol manut ... bap! palu pitantap!"
Lidya tersenyum lebar ikut bergoyang dan bernyanyi bersama.
"Picat-picat bilindin ... biam-piam pewawat ... batan sepotol banut ... hap ... balu bilantap!"
Lidya tertawa bahagia. Ia merindukan semua adik-adiknya. Widya juga tersenyum melihat tawa gadis itu.
"Tian pawu judha banyi!' pinta Sebastian.
"Oteh ... lagunya apa?" tanya Lidya.
"Lapontu!' sebut Tian semangat.
Lidya tertawa terpingkal-pingkal mendengar judul itu.
"Balonku Baby!' ralatnya.
"Piya ... ipu mazutna!" sahut Tian sambil mengangguk.
Lagu pun diputar. Musik pun mulai. Bill ikut bergoyang-goyang. Ella juga mengikuti lagu itu.
"Palontu baba pima ... pula-pula balnana ... bijo, punin, belalu ... pelah pudah ban pilu ... tulutus lapon pilu dol! Batitu mamat sasau ... lapontu bintal bentat ... pulepan belat-belat!'
Lidya sudah lemas ia jadi semakin merindukan semuanya. Melihat kakaknya tertidur sambil memegang perutnya yang kram karena dari tadi tertawa. Membuat ketiga bayi itu malah membuat Lidya makin tertawa.
"Babontu ... lada pima ... lupa-lupa balnana ... bijo, bunin, pelatu ... belah pudah ban libu .... tulutus pabon belah dol! Latitu banat bacau ... lapontu bindal belat ... pulempan pelat-belat!"
"Mami ... Iya nyerah!" keluh gadis itu.
Widya tertawa melihatnya. Ia sudah merekam dan mengirimkan ke chat famili semua melihatnya.
Terra langsung melakukan video call. Meminta mereka bernyanyi bersama. Tentu saja di sana anak-anak antusias begitu juga di kastil Bart. Semua pria sedang id perusahaan mereka Bart juga tengah melakukan janji temu dengan beberapa kolega.
Bart juga menonton rekaman itu sampai ia tertawa. Dominic yang bersamanya bertanya.
"Kenapa kau tertawa Tuan Dougher Young?'
"Aku pernah tinggal di Indonesia selama dua tahun dan memang bahasaku sangat buruk," ujar Dominic menyetujui Bart.
Hari pun berganti. Lidya kini diajak Frans ke sebuah pertemuan. Ia akan memamerkan kemenakannya. Lidya bertemu dengan banyak orang.
"Jadi kau adalah seorang dokter spesialis kejiwaan anak?" tanya salah satu kolega Frans.
"Benar Tuan," jawab Lidya ramah.
Tiba-tiba salah satu kolega tersedak. Lidya dengan cepat melakukan tindakan. Siapa sangka tubuh kecil itu mampu menekan titik, hingga mengeluarkan benda yang tak sengaja tertelan.
''Aku merasakan getaran lain ketika Lidya menyentuhku,'' ujar kolega itu.
Frans hanya tersenyum saja. Ia pun meminta Lidya langsung pulang saja. Ia menyuruh pengawalnya untuk mengantar pulang nonanya..
Sementara di tempat lain. Demian memasuki sebuah kamar. Ia duduk di kursi yang tertutup tirai. Pria itu menunggu sekitar lima belas menit saja. Terdengar pintu terbuka dan suara-suara tawa dan kecupan.
"Kau sudah mendapatkan semuanya sayang?" tanya pria itu.
"Tentu saja sudah ... Aku ... aahhh!" suara wanita mengeluarkan *******.
Lalu terdengar suara yang lebih menjijikan lagi di telinga Demian. Jacob menahannya karena belum cukup. Demian menahan semua kegeramannya. Ia sudah menyiapkan semuanya.
Ketika sudah terdengar suara yang paling menjijikkan bagi Demian. Baru lah Jacob membuka dua tirai. George Vox juga ada di sana. Ia begitu terkejut melihat Demian juga ada di sana.
Melihat tirai terbuka menampilkan dua pria membuat kedua insan yang bersatu itu terkejut dan melepaskan diri buru-buru.
Debbie menyambar selimut dan pria yang ternyata masih sepupu dengan George Vox itu menutupi area vitalnya dnegan bantal.
Tidak ada yang bisa di sanggah. George sangat malu dengan kelakuan putrinya. Pria berusia lima puluh tahun itu mendekati Deborah.
Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi gadis itu hingga Debbie terjerembab di lantai. Ia pun menangis.
Demian memandang dua manusia itu. Ia tak menyangka cinta gadis itu palsu hanya untuk mengeruk keuntungan dan membuatnya sedikit mengalami kerugian.
"Kita putus!' ujar Demian dingin.
Jacob menarik sudut bibirnya. Kadang orang yang tengah jatuh cinta itu tak mampu menerima saran atau pemberitahuan saja. Maka ia pun mengumpulkan bukti itu agar tuannya percaya.
Demian merasa lega. Ia kini bebas untuk mengejar cintanya.
"Lidya ... aku datang," ujarnya.
Waktu berlalu. Kini gadis itu bersiap untuk kembali pulang'. Ella, Sebastian, dan Bill menangis ditinggal oleh kakaknya.
"Ata'Iya ... pisimi aja sih!' pinta Ella sambil.memeluk erat Lidya.
"Kakak Iya harus kerja, sayang," ujar Lidya menerangkan.
"Belja pisimi Ata' Iya!" pinta Bill.
"Tidak bisa sayang karena ilmunya berbeda," jelas gadis itu lagi.
"Ata'Iya ... hiks ... hiks," Lidya juga sedih meninggalkan adik-adiknya di sini.
"Nanti, Kakak akan ke sini lagi pas baby di perut Mami keluar," janji gadis itu.
"Beulnel?" Lidya mengangguk.
Gadis itu sudah ada jadwal untuk kembali ke sini melakukan konsul therapist yang ia terapkan untuk penyembuhan trauma pasca kekerasan.
"Bahkan Kakak Iya akan tinggal satu bulan di sini," jelasnya.
"Apa itu benar sayang?" tanya Gabe memastikan.
"Iya kak. Sekitar.tiga atau empat bulan lagi, Lidya ke sini untuk menerapkan therapist pada korban kekerasan," jawab Lidya.
"Baiklah sayang. Kami akan selalu menunggumu," ujar Widya.
"Mungkin bulan itu Nenek Sriani mau ikut bersamamu karena kelahiran cucunya yang keempat," ujar Gabe memberitahu.
Lidya mengangguk. Besok ia akan kembali pulang. Ia sudah tak sabar memeluk semuanya terutama ibunya yang sangat ia rindukan.
bersambung.
gimana ... puas?
next?