
Terra, Haidar dan semuanya pun akhirnya, pergi ke tempat kantor Sofyan.
Butuh waktu setengah jam untuk sampai ke firma perusahaan milik pengacaranya gadis itu. Setelah sampai, mereka turun. Tiga mobil mewah yang terparkir di depan firma Sofyan menjadi sorotan para pengacara yang tergabung dalam firma tersebut.
Melihat para pebisnis handal nomor satu di kota, membuat mereka tertarik dengan kedatangan Bram Hovert Pratama ke firma ini.
Terlebih Bram tidak datang sendiri. Pria itu datang bersama istri dan putranya Haidar.
Bukan itu saja. Kedatangan Terra bersama keluarga Pratama pun tak luput dari pembicaraan. Masalah apa yang sudah dikerjakan gadis remaja yang merupakan CEO sekaligus pendiri perusahaan PT Hudoyo Cyber Tech..
Para awak media yang memang suka nongkrong di firma Sofyan, hanya untuk mendapat berita infotainment gratis. Tak membuang-buang kesempatan ini. Mereka mengabadikan momen kedatangan dua pebisnis ini.
Berbagai spekulasi dan opini muncul di publik, ketika salah seorang wartawan berhasil menjepret foto kedatangan Terra yang berjalan sebelahan dengan Haidar dengan kepala tertunduk.
Wartawan mulai mengerubunginya. Budiman yang melihat gelagat itu langsung memanggil tim dan mengamankan lokasi. Datanglah sepuluh orang berpakaian hitam-hitam menghadang para wartawan yang ingin melakukan wawancara.
"Halo selamat siang, Mba Terra, Mas Haidar, Pak Bram dan Bu Kanya. Ada apa nih datang ke firma bersama pemiliknya?" tanya salah seorang wartawan.
Bram hanya mengulas senyum tanpa menjawab, begitu juga sang istri, Kanya.
Sedang Terra? Gadis itu mulai risih dengan banyaknya orang, sifatnya yang memang introver tidak membuat ia banyak bicara.
"Apa kalian memiliki masalah?' tanya wartawan lagi.
"Tidak kami tidak ada masalah apa pun. Maaf, ya. terima kasih," Sofyan menyela.
Mereka terus berjalan menuju ruangan Sofyan. Para wartawan masih terus bertanya, walau tidak ada jawaban yang signifikan mereka dapatkan.
Namun satu bidikan wartawan berhasil mengundang opini publik.
Foto dengan tajuk. "Haidar menggandeng Terra?"
Foto gandengan tangan yang nampak posesif itu, banyak menuai kontroversi di publik. Berbagai tweet-an pun bermunculan menanggapi foto tersebut.
"Mungkin pencitraan. Secara Terra kan CEO baru yang menjalankan bisnis." @Bulurendah.
"Mereka berdua sama-sama single. So?" @Gregetan
"Pelakor!" @Haidarpacargue
"Nggak pantes!" @fansberatHaidar
"Nggak banget"@fnsbrtHdr
"Terra CEO, Haidar CEO. Mereka akan membangun perusahan raksasa. Bagus untuk para pencari kerja!" @Nganggurgw
Haidar yang memang menjadi idola para ibu-ibu dan gadis-gadis membuat Terra menjadi bahan gunjingan. Mereka menyerang habis-habisan gadis itu. Bahkan saat itu juga terbentuk sebuah grup hatters untuk gadis yang dicintai oleh Haidar ini.
Aden yang melihat itu menyuruh para IT membereskan akun penyebar gosip untuk Terra. Bahkan akun itu berani mengedit foto Terra yang seperti tengah berbadan dua.
Tentu saja, Sofyan yang mendapat laporan masalah itu hanya bisa menghela napas. Pria berusia setengah abad lebih itu melaporkan perihal akun yang menyebarkan gosip miring pada gadis itu. Terra hanya tertawa menanggapinya.
"Sayang, maafkan aku ya. Gara-gara aku, kamu jadi digosipin yang enggak-enggak," ujar Haidar dengan wajah menyesal.
"Tidak apa-apa," saut Terra enteng.
"Ya, begitulah jika kamu, berhubungan dengan aku. Secara aku ganteng, kaya ...."
Plak!"
"Aduh!" Haidar mengaduh.
Sebuah pukulan mendarat di punggungnya dan sang pelaku adalah ibunya sendiri, yang kini memandangnya horor.
"Ganteng apa!" seru Kanya meledek, "ditinggal Terra juga kamu nangis."
Mendengar kata ditinggal Terra membuat pria itu membelalakan mata.
"Jangan tinggalin aku sayang. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu," pinta Haidar merengek.
Baik, Terra, Sofyan, Bram juga Budiman, memutar mata mereka malas. Pengacara yang bersama Haidar tadi tidak mendengarkan apa perkataan kliennya, karena dia sibuk dengan ponselnya yang terus berbunyi.
Sofyan yang mendengar ponsel pengacara itu, sedikit kesal. Ia mengenali siapa pria yang menjadi kuasa hukum Haidar itu.
"Bisakah kau kesampingkan masalah pribadi dengan pekerjaan?" tanya Sofyan sambil melirik malas pengacara berusia tiga puluhan itu.
"Kayak nggak pernah punya istri aja, Pak," saut pengacara itu juga dengan nada malas.
"Memang aku pernah punya. Tapi, dia langsung mengerti ketika satu kali aku jelaskan dan tidak bertanya-tanya lagi!"
Jawaban Sofyan membuat pengacara itu tersenyum kikuk. Masalahnya ia sudah terlalu bucin dengan sang istri. Jadi sebenarnya dia lah yang berkali-kali memberi pesan singkat pada sang istri.
Mereka sudah sampai ruangan Sofyan. Pria itu menyuruh sang sekretaris untuk membuatkan para tamunya teh.
"Sekretaris baru, Om?" tanya Terra.
"Iya, yang kemarin Om pecat karena nyaris telanjang datang ke kantor," saut Sofyan kesal.
Terra yang polos, benar-benar memikirkan pakaian setengah telanjang. Tapi, gadis itu langsung membuyarkan lamunan ketika Sofyan berkata..
"Ini dia kartu namanya. Sebelumnya, kita baca dulu surat dari mendiang untuk Terra, ya."
Bersambung ...
wah ... kira-kira apa isi surat Ben buat Terra ya?
next