
Subuh menjelang. Tiba-tiba sosok pria datang sambil marah-marah nggak jelas. Semua terbangun gara-gara ocehannya. Termasuk tiga anak Terra. Gadis jadi kesal dibuatnya.
"Spasa belisit!" omel Rion.
Semakin ia tumbuh kecerdasan bayi belum genap dua tahun itu makin pesat. Terra menenangkan bayinya. Lidya merengek manja sedang Darren menggeliat masih ngantuk.
"Mama liat dulu, ya," ujar Terra masih menyipitkan matanya.
Ketika ia buka pintu di sana sosok dengan pesona luar biasa tengah berkacak pinggang sambil memberengut kesal. Terra menyipitkan mata.
"Kak Virgou?!" panggilnya.
Si empunya nama menoleh sambil mengerucutkan bibirnya. Terra terkikik geli dibuatnya. Wajah tampan itu sangat lucu jika ngambek.
"Kenapa kalian nggak bilang-bilang, kalo mo pergi ke pantai?!" gerutunya kesal.
"Ih, siapa suruh hapenya nggak aktif. Te udah berkali-kali hubungi ya!" seru Terra tak terima.
Virgou kesal. Ia menghentakan kakinya ke lantai sebagai wujud kekesalannya. Terra makin terkekeh geli melihat kelakuan absurd dari pria yang sangat tampan itu.
"Apa sih, Kak. Nggak pantes kek gitu," protes Terra.
"Ah ... gara-gara korupsi di perusahaan semuanya kacau. Aku males banget berurusan sama orang-orang nggak tau diri itu. Pengen langsung tembak aja, biar mati. Bikin negara rugi aja!" omelnya panjang lebar.
Terra cengok. Ia ternganga mendengar keluhan dari seorang Virgou barusan..
"Sejak kapan Kakak ngeluh sama korupsi, bukannya dulu ...," Terra menghentikan perkataannya.
Virgou menatapnya malas. Tiba-tiba Bart keluar kamar dengan memakai bokser tipis saja. Hal itu membuat Terra terpekik, lalu membuang muka.
"Grandpa, you tarnish your granddaughter's holy eyes!" (Kakek, kau menodai mata suci cucu gadismu!') seru Virgou memberi tahu.
Bart langsung tersadar, ia pun melihat dirinya. Segera ia berlari ke kamar untuk memakai baju lengkap.
"Gosh, it turns out that old man is still dashing!" (astaga, ternyata si tua itu masih gagah!) sungutnya tak percaya ketika melihat sesuatu yang besar dan menonjol tadi.
Terra yang memerah mukannya, makin kesal setengah mati. Baru kali ini ia melihat sesuatu yang tabu sebelum ia menikah.
"Gue kira bakalan liat itu pas MP gue ntar!" gumamnya dalam hati dongkol.
"Ah ... mata suci gue!" pekiknya tertahan.
Virgou tertawa meledek. Pria itu makin menggoda gadis itu. Entah kemana hilangnya napsu untuk menarik tubuh gadis itu ke ranjang. Malah dalam dirinya ingin melindungi gadis itu dari siapa pun termasuk Haidar, calon suami Terra.
"Ck ... masa kau tak tahu pria-pria Eropa itu sangat gagah walau usianya sudah sangat tua," godanya.
"Bagaimana menurutmu? Besarkan milik Grandpa?" tanyanya usil.
Terra memukul gemas bahu Virgou. Ia kesal sekali. Wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus. Bibirnya memberengut.
Dengan langkah yang dihentak-hentakkan gadis itu kembali ke kamarnya. Virgou tertawa puas.
Bart keluar dengan wajah tak bersalah. Ia tidak mengira reaksi Terra sampai seperti itu. Ia mengira gadis Asia sama dengan gadis Eropa, yang terbiasa melihat hal "tadi".
"Jangan kau samakan gadis Asia dengan gadis Eropa Grandpa. Sebagian dari mereka sangat tabu berbicara soal *** dengan gamblang, termasuk Terra. Dia masih perawan. Kau tau!" ujar Virgou memperingati Bart.
Bart akhirnya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia kini mulai merasa bersalah. Kemudian ia melihat Virgou dengan pandangan heran.
"Bagaimana kau bisa ada di sini?" tanyanya dengan ekspresi bingungnya.
"Kau pikir, Terra seperti kalian yang mudah melupakan sosok keluarganya?" tanya pria itu menyindir.
Ia belajar sesuatu dari gadis itu. Tidak melupakan keluarganya. Seburuk-buruknya keluarga mereka tetap keluarga. Bukankah darah lebih kental dari air? Ia pun mulai mengingatnya.
"Aku mau tidur sebentar. Kepalaku pusing!" saut Virgou menuju kamar di mana tadi sang kakek keluar.
Bart hanya menggeleng. Ia pun ikut melangkah masuk kamar bersama cucu yang kini mulai menganggapnya kakek.
Sedang Terra sudah membersihkan diri usai sholat subuh dengan Darren. Pria kecil itu tidur kembali. Gadis itu membiarkannya.
Kemudian ia pun keluar kamar. Sudah tidak dilihatnya lagi Virgou di sana.
"Mungkin kembali tidur," terkanya kemudian..
Ia pun melangkah ke dapur. Memasak untuk sarapan bersama.
Kali ini semuanya ingin makan masakan Indonesia. Terra akan membuat nasi goreng seafood. Mengambil cumi segar yang kemarin baru di beli dari nelayan.
Membersihkan dan memotong-motongnya. Setelah dipotong-potong. Ia sisihkan cumi, kemudian beranjak ke udang. Beruntung semua keluarga tidak ada yang alergi dengan binatang laut itu. Jadi Terra aman untuk menggunakannya.
Gadis itu berlanjut membuat bumbu. Kemudian ia membersihkan sawi hijau selanjutnya dipotong-potong.
Sejurus kemudian terciumlah masakan Terra. gadis itu sampai membuat dua wajan besar untuk memasak. Beruntung tadi malam ia sudah memasak nasi sebanyak dua kilo untuk sarapan pagi ini.
Setelah semuanya tanak. Terra membaginya menjadi dua bagian. Budiman datang ketika memeriksa semua ruangan. Terra memanggilnya.
"Kak Budi!"
Pria itu mendatangi kliennya. Terra menyerahkan satu bakul nasi goreng di atas nampan.
"Ini buat Kakak dan tim sarapan, cukupkan Kak?" tanyanya.
"Terima kasih, Nona, ini pasti cukup," jawabnya sambil tersenyum.
Kemudian pria itu membawa nampan berisi satu bakul nasi goreng ke villa di mana timnya berada.
Kanya dan Karina datang, mereka tersenyum ketika melihat Terra tengah membersihkan dapur. Karina begitu bangga memiliki adik ipar sebaik Terra. Ia sedikit malu karena tidak bisa secekatan gadis itu.
Kanya membantu menyusun piring-piring dan sendok. Terra meletakkan satu bakul nasi goreng.
Semua sudah bangun dan semringah menatap sarapan yang tersaji begitu mengiurkan dan membuat air liur menetes.
"Pasti enak banget ini!' seru Haidar langsung mengambil piring.
David, Gisel dan Gabe juga mengikuti kelakuan Haidar. Mereka mengambil piring dan menyendok nasi goreng dalam bakul.
Bart dan kedua anaknya muncul. Darren sudah menggandeng dua adiknya yang sudah rapi.
Terra menyisikan satu piring nasi goreng lalu di letakkan dalam lemari. Bart langsung menanyakan.
"Kenapa kau simpan nasi goreng itu, Te?"
"Buat Kak Virgou, takut nanti dia bangun, Te belum masak untuk makan siang," jawabnya ringan.
Bart begitu terharu mendengar jawaban cucunya itu. Benar kata Virgou. Terra tidak akan lupa siapa keluarganya.
bersambung.
Terra gitu loh Opa ...
Next?