
Lelah bernyanyi kini anak-anak memilih tiduran di bentangan karpet tebal. Gio mengeluarkan semua bantal dari kamarnya. Empat bayi tengah menyedot botol susu mereka dengan mata terpejam. Lidya dan Saf berada di antara mereka merebahkan diri. Aini berada di kamarnya menyusui Arsyad.
"Uma, padhi pedet payi banana spasa?" tanya Sky dengan mata setengah terpejam.
Balita tampan itu sesekali menguap lebar.
"Namanya Baby Arsyad," jawab Saf sambil mengusap sayang kepala balita itu.
"Palsyad?" tanya Sky.
"Arsyad!"
"Alsyad?"
"Nah bener," sahut Saf.
Sky sudah memeluknya. Memang putra Budiman itu mendominasi Safitri jika berada di dekatnya. Wanita beriris abu-abu itu mencium Sky penuh kasih sayang. Balita itu sudah terlelap.
"Uma!" kini giliran Lidya yang merengek manja.
Terra benar-benar iri pada menantunya itu. Nyaris semua anak akan menempel pada sang bidan cantik.
"Mama dilupain deh," gerutunya kesal.
"Mama," tegur Haidar tak suka.
Terra mencebik. Virgou menggeleng kelakuan adik sepupunya itu. Herman dan Khasya duduk sambil selonjoran di sofa. Sedang Dav dan Seruni berbalas chat dengan para keluarga di Eropa.
Grup chat keluarga ribut dengan aksi para delapan perusuh. Mereka tak berhenti mengomentari. Terutama pada Arra, satu-satunya anak perempuan di sana.
(Kenapa Arra galak sekali sih! Aku jadi gemas!) Chat dari Leon.
Frans mengetik ....
(Arra seperti perawan di sarang perusuh!)
Gabe mengetik ....
(Emangnya ada turunan kita yang nggak galak?)
Bart mengetik ....
(Turunan darting!)
Haidar mengetik ....
(🤔 bibitnya darting!)
Terra mengetik ....
(Bibitnya kan dari Mas Haidar! 😔).
Kanya mengetik ....
(Kalian semua darting!)
Bram mengetik ....
(Papa nggak ya!)
Virgou mengetik ....
(Nggak salah lagi ya ... papa darting!)
Saf mengetik ....
(Semoga anak Saf nggak darting! Soalnya Saf kan kalem!)
Virgou mengetik ....
(Oh ya? Kemarin yang gebukin penagih utang Aini sampai babak belur spasa ya?)
Dan banyak chat saling sahut menyahut di ponsel mereka. Terkadang semuanya saling lirik karena kesal akan tulisan salah satunya. Kecuali yang ada di Eropa.
Sore menjelang, anak-anak sudah mandi dan segar. Para bayi sudah mengunyah kudapan khusus mereka. Sedang yang lain sudah makan kudapan biasa.
"Mami Peluni ... enat setali tuena!' puji Bomesh.
"Terima kasih, baby!" sahut Seruni senang.
Balita itu sudah menghabiskan dua kue bolu pandan kukus. Pangsit Saf juga jadi rebutan. Sky paling tak suka jika pangsit untuknya hanya satu.
"Bansitna halus tidha!" sahut balita itu tegas.
Semua gemas dengan kelakuan para bayi. Arra yang paling antusias ingin makan kudapan.
"Ala au nsit!" pekik bayi itu marah.
"Ini baby," Saf menaruh pangsit khusus untuk para bayi yang belum tumbuh gigi susu mereka.
"Dari mana kamu tau bahan-bahan untuk membuat makanan khusus untuk bayi baru satu tahun, Saf?" tanya Khasya lembut.
"Saf belajar masak khusus bayi dan komposisi gizi juga nutrisinya, bunda!" jawab Saf.
Khasya tersenyum. Ia memeluk wanita hamil itu. Saf langsung bermanja pada Khasya.
"Bunda ... Iya juga mau dipeluk!" pinta Lidya merajuk.
Wanita itu menyingkirkan Saf dari pelukan Khasya. Wanita berperut besar itu berdecak kesal.
"Ih ... apaan sih!" gerutunya protes.
"Hei ... sudah. Sini bunda peluk dua-duanya," lerai Khasya.
Keduanya dipeluk erat secara menyamping. Perut keduanya tampak menghalangi, hingga membuat ketiganya terkekeh.
Anak-anak tampak asyik mengobrol. Semenjak pindah Bomesh sudah tak punya lagi cerita aneh. Bahkan mereka sudah memiliki rumah sendiri, tak lagi tinggal di mansion Virgou.
"Jadi kamu sudah pindah rumah dekat Budiman, Gom?" tanya Dav.
"Sudah, Tuan. Kami pindah lima hari lalu," jawab Gomesh.
"Akhirnya ... tapi jadi sepi. Si pembawa kisah tak memiliki bahan berita," kekeh Dav menatap Bomesh dan Domesh yang sepertinya lebih banyak diam dan mengamati.
"Kenapa tidak dialihkan dengan kegiatan lain?" saran Kean.
"Sudah Tuan. Saya membelikan permainan logo dan mereka memasang susunan itu hanya dua puluh menit. Lalu saya bawa sepuluh puzel berbagai jenis. Keduanya menyelesaikan semuanya masing-masing gambar tujuh hingga sepuluh menit," jelas Gomesh pasrah.
Semuanya membesarkan mata mereka kagum. Lalu menatap dua balita yang kini juga mulai mendominasi percakapan. Kosa kata mereka yang lebih banyak membuat keduanya jauh lebih suka bicara di banding yang lainnya.
"Eh, seupeneulna teumalin Bomesh deneul wowan banyi woh!" sahut bayi itu mengingat satu kejadian.
Domesh mengernyit. Ia tak tahu kejadian apa yang didengar atau dilihat oleh saudaranya itu.
"Ada kisah apa, baby?" tanya Demian antusias.
Pria itu suka sekali dengan eksperimen balita cerdas itu. Ia kembali memasang kamera ponselnya.
"Watu sole tua hali teumalin ...."
"Yan suwala beulempuan ipu Bom?" tanya Domesh memastikan cerita adiknya.
Bomesh mengangguk. Benua, Sky, Azha, Ari dan Arra mendengarkan cerita saudara mereka itu.
Gomesh mengingat jika tak ada tetangga di sebelah rumahnya. Jika pun ada mungkin selang dua rumah yang jaraknya sekitar 100m dari rumahnya. Tak mungkin Bomesh mendengar suara orang kecuali suara orang itu begitu keras.
"Sore kapan Babies?" tanyanya penasaran.
"Sole setali Daddy, peupelum madlib!" jawab Bomesh.
Maria membelalak waktu itu ia memang membuka pintu terlalu lama. Ia membiarkan kedua putranya bermain hingga teras. Pagar tinggi dan sudah digembok. Maria sangat yakin keamanan di tempat itu karena penjagaannya selaku rutin berkeliling.
"Emang Bomesh dengar apa?" tanya Demian sangat penasaran.
"Suala beulempuan menayis ... hiks ... hiks ... dithu!" jawab balita itu polos.
Domesh lalu mengingat sore itu. Langit sudah gelap. Lampu teras belum dinyalakan. Beruntung lokasi rumah berhadapan langsung sang surya hingga bias jingga masih nampak di langit.
"Ada orangnya nggak?" tanya Sean juga penasaran.
"Eundat pihat!" jawab Bomesh santai.
"Antu!" pekik Arra tiba-tiba.
Semua beristighfar. Netra Arra menatap belakang pojok halaman rumah Gio. Bayi itu menunjuk lurus satu arah. Para bayi menoleh pada lokasi yang ditunjuk Arra.
"Wah ... beulempuan patai paju sebaloh!" sahut Sky menjelaskan dengan gerakan tangan ke dada melintang.
Semua saling menoleh. Lidya tak mau menatap arah yang ditunjukkan oleh adiknya itu. Saf mendatangi lokasi yang ditunjuk Arra lalu seperti membaca doa lalu melempar garam ke situ.
"Wah ... peldhi beulempuanna pambil nayis-nayis!" ujar Bomesh kini.
"Hais ... kalian ini benar-benar spesial ya!" puji Bart kagum.
Pria renta itu menatap puas pada seluruh keluarganya Bomesh dan Domesh memang bukan lah keturunannya langsung. Tapi, ia sudah menyiapkan tempat untuk dua balita ajaib itu.
Bayi perempuan Maria hanya bergayut manja pada ayahnya. Bayi perempuan itu sedikit uring-uringan karena tumbuh giginya. Ia sedikit terlambat bicara dan berjalan.
Tak lama, satu persatu semuanya pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing. Rumah Gio langsung sepi seketika.
bersambung ...
ah ... ada lagi kebisaan lihat hantu ...
next?