
Sriani menatap jam yang menggantung di dinding. Semestinya jam segini putrinya sudah pulang. Jika pun lembur, Widya pasti akan menghubungi satu jam sebelum waktunya ia pulang.
"Aku telepon saja anak itu!' serunya dongkol.
Sriani mengambil benda pipih di atas nakas. Ia menekan satu-satunya nama yang ada di layar ponselnya.
"Halo, di mana kamu? Kenapa jam segini belum pulang?' cecar Sriani langsung ketika ponsel tersambung.
"......!'
"Pokoknya Ibu tak mau tahu. Sekarang juga kamu pulang!" titahnya langsung memutus sambungan telepon.
"Anak itu. Bisa-bisanya ia makan malam di luar! Dia pikir makanan di luar sana itu sehat untuknya!" omelnya panjang lebar.
Lima belas menit wanita itu menunggu kedatangan putrinya. Widya muncul dengan muka sedikit tak enak. Sriani tak suka dengan raut wajah putrinya yang seperti dipaksa pulang.
"Aku pulang," ujarnya ketika membuka pintu.
Sriani bersidekap. Wanita itu menatap penuh selidik anak gadisnya. Widya hanya bisa menunduk. Seakan berbuat kesalahan fatal.
"Duduk!" titahnya pada Widya.
Gadis itu pun langsung menuruti perintah ibunya. Sriani menatap putrinya dengan pandangan gusar.
"Makan malam sama siapa tadi?" cecarnya langsung.
"Sama atasan Widya, Bu," jawab gadis itu cepat.
"Ah ... bagus. Sejak kapan anak arsip bisa makan malam sama atasannya? Apa kamu berniat menggoda atasan kamu?" tuduhnya langsung.
Widya menatap ibunya tak percaya. Melihat dirinya ditatap oleh anak gadisnya, membuatnya sangat marah.
"Jawab Ibu saja. Jangan menatap seperti itu!" bentaknya.
"Tuan Gabe hanya ingin mengganti makanan saya yang ia makan tempo hari, Bu," jawab Widya dengan bibir gemetar.
Mata gadis itu berkaca-kaca. Sungguh ia ingin menangis mendengar tuduhan ibunya. Tetapi, jika ia membangkang maka perlakuan Sriani akan tambah parah.
"Ah ... alasan saja kamu! Ingat, kamu itu Ibu besar kan dengan susah payah. Menyekolahkanmu agar berpendidikan. Ibu sengaja memilih pendidikan yang jauh dari namanya laki-laki. Bukan maksud apa-apa. Ini semua untuk menjagamu!" ujar Sriani panjang lebar.
"Kau tahu, kenapa ibu memilih kau mengambil jurusan arsip. Karena tidak anak yang mau mengambil jurusan khusus itu. Kamu akan mudah mendapat pekerjaan tanpa seleksi ketat!" jelasnya lagi.
Sriani menghela napas panjang. Ia duduk di sebelah putrinya. Mengelus kepala Widya.
"Nak, Ibu takut kamu dipermainkan oleh laki-laki, makanya ibu memilih apa yang terbaik untuk kamu. Tolong jaga nama baik mendiang ayahmu," pintanya.
"Iya Bu," ujar Widya lemah.
"Sekarang kamu mandi dan ganti baju. Setelah itu kita makan malam. Ibu masak sayur sup dan ikan goreng," titahnya.
Widya mengangguk. Gadis itu pun pergi ke kamarnya. Di benaknya masih terbayang steak daging yang tadi terhidang . Bau daging bakar dan saus barbeque masih tercium di hidungnya.
Widya sangat ingin memakan makanan lain. tetapi, makanan itu hanya berakhir di khayalannya saja. Padahal, ia ingin makan bakso dengan tiga sendok sambal.
Widya juga ingin pergi jalan-jalan, menonton bioskop dengan teman-teman. Tapi, lagi-lagi keinginannya itu hanya sampai pada khayalnya saja.
Dulu ketika sekolah. Ibu selalu melarangnya bermain dengan teman-teman. Alasannya selalu saja ada.
"Jangan, Ibu takut nanti kamu jatuh!"
Atau.
"Jangan, nanti kamu sakit jika terlalu lelah."
"Jangan main sama Tina. Anak itu suka keluyuran nggak jelas!"
"Main sama Dina, anaknya baik dan tidak banyak tingkah. Lebih suka di rumah dari pada keluyuran."
Bagaimana Widya bisa bermain dengan teman yang tak suka keluar rumah, sama seperti dirinya.
"Jangan makan bakso. Kita tidak pernah tahu bagaimana proses pembuatannya!' larang Sriani suatu hari ketika Widya mengutarakan ingin makan bakso.
"Anak gadis tidak boleh makan berat jika tidak ingin tubuhnya gendut!" jelas ibunya suatu hari.
Widya sangat tahu apa yang dilakukan sang ibu adalah untuk kebaikan. Bahkan Sriani sudah memberitahu jodohnya kelak.
"Ibu akan menjodohkanmu dengan putra dari sepupu jauh Ibu. Namanya Rudi. Dia pria baik, tak suka hingar bingar. Cocok denganmu," begitu katanya.
Widya hanya menuruti apa kata ibunya. Tak ada pilihan lain selain menurut. Itu lah cara ia menunjukan baktinya.
Usai makan, Widya merebahkan diri di ranjangnya. Matanya menatap sekeliling, tembok bercat putih. Tak ada hiasan dan warna. Gadis itu tak suka dengan banyak warna. Matanya akan pusing melihat.
Tak ada kipas maupun mesin pendingin ruangan. Sriani tak membiasakan anak gadisnya memakai barang-barang itu.
"Tidak bagus untuk kesehatan!' begitu alasannya.
Pendapatannya selama ini ia serahkan pada sang ibu. Sriani lah yang mengatur semua pengeluaran gadis itu termasuk hal-hal sepele, seperti pembalut dan alat mandinya.
Jangan harapkan alat kosmetik memenuhi meja rias Widya. Ia tak memiliki apa pun kecuali sisir. Bahkan bedaknya bedak tabur biasa. Tidak ada parfum. Hand body atau lulur. Kulitnya bersih dari produk kecantikan.
Walau begitu, kulit Widya bersih dan mulus. Tubuhnya wangi walau tanpa parfum. Bahkan wajahnya bersih dari jerawat kecuali ketika hendak datang bulan.
Pengaturan pola makan dan emosi membuat gadis itu jauh dari namanya puber. Ketika ia menstruasi pertama kali, Sriani harus menyuruhnya diam di rumah selama satu minggu hingga usai siklus.
"Mimpi apa kamu ketika pertama kali hendak haid?' tanya Sriani saat itu.
Widya yang ketakutan menceritakan mimpi basahnya hanya bisa diam. Sriani benar-benar mengurung jiwa putrinya dalam dinding kokoh yang ia buat untuk melindungi Widya.
Ketika ada pria yang mendekatinya atau datang ke rumah. Maka wanita itu akan membuat sang pria mundur teratur dan tidak lagi mengajak kencan sang putri.
Widya menatap telapak tangan yang tadi digenggam oleh Gabe, atasannya. Jantungnya lagi-lagi berdetak kencang. Ada perasaan aneh yang menyelip di hatinya. Bulu kuduknya meremang ketika merasakan perasaan itu.
Widya meraba dadanya. Gelenyar aneh itu menguasai seluruh tubuhnya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat ketika mengingat kejadian barusan.
"Tadi, aku pegangan tangan sama Tuan Gabe?' tanyanya tak percaya.
Wajahnya tiba-tiba merona. Ia merasakan pipinya memanas. Pemasaran ia kemudian duduk dan menghadap cermin.
"Aku kenapa?" tanyanya aneh sambil meraba pipinya yang memerah.
"Rasa apa ini Tuhan?" tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba ia mengingat mimpi basahnya ketika pertama kali mendapat siklusnya. Sebuah ciuman panas, yang membuat bagian sensitifnya basah.
"Rasanya sedikit berbeda. Tapi, kenapa pikiranku malah ke sana?" tanyanya bingung.
Gadis itu kembali merebahkan tubuhnya. Ia mengelus telapak tangan yang tadi digenggam erat oleh pria untuk pertama kalinya.
Gadis itu memilih memejam matanya cepat. Tidak ingin bangun kesiangan. Siapa sangka, berkat genggaman itu, tidur Widya melihat banyak warna yang indah dan membuatnya meluapkan semua ekspresinya.
bersambung
Hmm.
next?