
Hidup itu seperti drama, ada protagonist ada antagonis.
Banyak yang mencela antagonis, padahal tanpa mereka si baik tidak akan bersinar.
Kadang harus berterima kasih walau disakiti, karena tanpa tertindas…
Kamu tidak akan bisa berpijak ke tempat yang lebih tinggi.
_Quote of Weini aka Yue Hwa_
***
Kasus Weini akhirnya ketuk palu dengan hasil Lisa divonis empat tahun penjara. Artis berakal licik dan sombong itu pun diputus kontrak dan harus membayar denda ke managemen karena telah mencoreng nama baik. Sejumlah iklan dan brand ambassador yang ia bintangi juga memutuskan kerjasama dengannya. Tak perlu menunggu pasca keluar penjara, saat ini saja banyak yang berpaling melupakannya. Salah satunya Anwar yang enggan berurusan lagi meskipun Lisa terang-terangan menyebut nama sugar daddynya pada publik.
Haris puas dan lega dengan keputusan hakim, sebentar lagi ia bisa menghirup kebebasan dan kembali ke rumah sederhananya. Di akhir pekan yang menggembirakan bagi Weini yang baru usai menjalankan ujian Negara, rasanya ini kesempatan yang tepat untuk membicarakan hal serius sebelum ia pergi kencan. Haris mendekati Weini yang dengan semangat menyiapkan bekal. Gadis itu ada-ada saja di mata Haris, hanya pergi ke puncak sebentar saja harus merepotkan diri menyiapkan bekal.
“Ayah, kenapa belum siap-siap?” pekik Weini saat melihat Haris masih mengenakan baju santai.
Giliran Haris yang bingung, apa urusannya dia memakai baju rumahan dengan kencan anak gadisnya? “Loh kenapa emangnya?”
Weini langsung berkacak pinggang, ia tak peduli masih beberapa kotak makanan kosong menanti untuk diisi oleh masakan buatannya. “Ayaaaaah… kita piknik bareng. Cepet siap-siaaap!”
Haris belum menangkap betul maksud Weini, perasaan kemarin Weini minta ijin kencan dengan Xiao Jun. Apakah kencan anak muda sekarang harus bawa orangtua? Belum sempat ia bertanya, Weini sudah mendorongnya kelua dari dapur dan memintanya segera berganti rupa.
Lima menit kemudian, Haris keluar dengan kaos putih dan celana panjang hitam. Ia tampak casual namun keren hingga Weini terpukau. Haris tidak biasanya memakai kaos, tapi kali ini bisa berpenampilan lebih santai.
“Weini, ada yang mau aku bicarakan sebelum kita pergi.” Ujar Haris serius.
Enam kotak bekal sudah disiapkan Weini, ia menyatukan semua kotak bekal itu dalam satu storage box besar agar praktis. Pembicaraan serius Haris tepat waktu saat Weini sudah menyiapkan hati untuk berbincang.
“Oke ayah, aku tahu apa yang mau ayah bahas.” Seru Weini, ia paham betul kecemasan ayahnya. Maka itu Xiao Jun dan ia sengaja merencanakan piknik bersama sebelum keluar dari apartemen ini.
“Owww… sejak kapan kamu peka dengan perasaanku? Sepertinya kemampuanmu mulai menguasai telepati.” Ujar Haris, jika memang benar Weini paham pikirannya mungkin saja gadis itu mulai bisa membaca pikiran orang.
“Ng… tidak sehebat itu sih, cuman pake logika saja ayah sering menghabiskan waktu di rumah lama dan hanya pulang istirahat ke sini. Lama-lama rumah ini kayak kos-kosan hahaha” seru Weini. Menurutnya siapapun bisa melihat bahwa Haris lebih berat di Grogol daripada di apartemen semewah ini.
Haris tersenyum tenang, “Hmm… jadi ini piknik pelepasan ayah?”
“Ya bukan sih…” jawab Weini singkat.
“Weini, kalo kamu mau tinggal di sini juga gak masalah. Kamu lebih cocok tinggal di apartemen yang memiliki keamanan tinggi ketimbang di rumah sana, apalagi kariermu makin melejit. Sudah seharusnya kamu punya hunian yang layak untuk seorang artis.”
Weini menggeleng, tidak ada istilah pisah rumah dengan ayah yang membesarkannya. “Di mana ada ayah, di situ Weini tinggal.”
“Di sini ada Xiao Jun, kalian bisa saling kenal.” Haris masih belum menyerah.
“Dasar keras kepala!” seru Haris mulai malas berdebat. Selalu ada alasan yang mematahkan pendapatnya jika ia beradu pikiran dengan gadis itu.
Bel rumah berbunyi mengalihkan debat kusir ayah dan anak. Weini langsung menyunggingkan senyum, pancaran kebahagiaan betul-betul tak bisa ia tutupi. “Xiao Jun udah datang, ayo ayah buruaan!”
***
Xiao Jun membawa Lau, Weini dan Haris ke sebuah villa di puncak. Mereka akan menepi dari hiruk pikuk ibukota walau hanya semalam. Villa mewah yang disewa Xiao Jun ini menawarkan berbagai fasilitas mewah lengkap dengan asisten rumah tangga. Weini sedikit menggerutu, jika ia tahu sepraktis itu lalu buat apa ia capek-capek bangun subuh untuk menyiapkan bekal. Toh ketika tiba, makanan mereka sudah menanti dengan hangat dan terlihat menggiurkan. Weini menunduk menyembunyikan bibir manyun, bekal di storage box yang ia angkat dari tadi bakal tersisihkan oleh hidangan di hadapan.
“Ini menu makan malam kita, terima kasih sudah menyiapkannya. Sekarang kita makan bekal Weini dulu.” Xiao Jun merebut box bekal makan dari tangan Weini lalu menggiring mereka menuju kolam renang.
Weini terkesima melihat perhatian Xiao Jun yang memikirkan perasaannya. Sejak kejadian masakan pedas, Weini sudah mengambil pelajaran dari kejadian itu dan bekal ini dibuat untuk menebus kesalahan masa lalu. Mereka makan tanpa protes sedikit tentang rasa, hanya ada tawa dan kekeluargaan yang hangat.
“Paman, tentang masalah itu… aku sudah meminta waktu pada ibuku untuk bertemu. Aku harap paman bersedia ikut aku dan Weini menemui beliau.” Ujar Xiao Jun ketika Lau dan Weini meninggalkan mereka sejenak untuk
keperluan pribadi.
Haris tersenyum simpul, anak muda itu masih ingat niatnya. “Jika kamu memaksa, aku tidak enak menolak. baiklah… kapan kita berangkat?” Tanya Haris bersemangat.
Xiao Jun tidak menyangka respon Haris akan seantusias itu, sebuah status memang sangat penting bagi anak gadis apalagi Weini sangat berharga baginya. Masih terasa wajar bila Haris menginginkan itikad baik agar putrinya tidak dipermainkan.
“Setelah kelulusan Weini, kita ke sana paman.”
Weini kembali dan melihat keakraban yang aneh di antara Xiao Jun dan ayahnya. Hanya ditinggal kurang lebih sepuluh menit, apa yang mereka bicarakan hingga seakrab ini?
“Kalian lagi ngomongin apa?” tanya Weini penasaran. Ia dan Lau saling berpandangan kala melihat senyum yang kelewat girang dari Haris.
“Rahasia pria!” ujar Haris dan Xiao Jun bersamaan hingga mereka sadar reflek mengucapkan bersamaan lalu gelak tawa tak terbendung.
“Paman, sayang sekali aku tidak bisa menahanmu lebih lama. Kelak kalau paman berubah pikiran, rumah itu selalu siap dihuni kalian.” Xiao Jun mulai mengutarakan kekecewaan dan juga harapan, yang paling penting Haris tidak merasa tertekan dan ia tetap bisa mengunjungi Weini kapanpun.
“Hahaha… jangan kuatir lah, kita akan tinggal bersama jika kau bisa jadi suami Weini.” tiba-tiba Haris melontarkan candaan yang tidak nyambung. Weini seketika merasa malu, mengapa Haris seblak-blakan itu seakan ia berharap Xiao Jun segera melamarnya.
***
PERTANYAAN UNTUK PEMBACA:
MENGAPA HARIS SENANG DIAJAK BERTEMU KELUARGA XIAO JUN?
A. IA INGIN MEMANFAATKAN KESEMPATAN PULANG KE HONGKONG MENCARI XIN ER.
B. TAK SABAR LAGI WEINI DILAMAR DAN IA BISA MENIMANG CUCU
C. HARIS INGIN MEMBUKTIKAN APAKAH XIAO JUN LAYAK MENJADI SUAMI WEINI.