
Hi, apa kabar? Soal kemarin maaf ya…
Menghapus pesan.
Kau masih marah? Sorry aku nggak maksud…
Delete message.
Ketemuan yuk!
Lagi-lagi semua ketikan pada layar ponsel dihapus Weini. Sekarang ia uring-uringan memikirkan cara memulai komunikasi dengan Xiao Jun. Ia pun menyerah, otaknya kusut penuh rangkaian kata yang terlalu dramatisir. Diletakkannya ponsel di bawah ranjang, dan ia berbaring dengan kepala menjuntai ke bawah.
“Ngapain aku harus mikirin cara baikan, sedangkan dia saja tidak berupaya menghubungiku. Kok jadi aku yang ngejar dia?” Weini seakan mendapat pencerahan, perasaannya mulai tenang dan ia merasa tidak terlalu bersalah lagi pada Xiao Jun. Ia bangun dari posisi telentang terbaliknya lalu bergegas keluar mencari Haris.
Orang yang Weini cari tengah serius membuat jimat kuning yang digores dengan bulu angsa dan tinta merah. Weini mengurungkan niat untuk memanggil Haris, namun keberadaan Weini sudah diketahui Haris.
“Kemarilah, bantu aku menyelesaikan beberapa lembar lagi.” Pinta Haris.
Weini mendekat dan mengambilkan selembar kertas kuning polos yang belum terukir mantera. Haris memberikannya sehelai bulu angsa lalu menginstruksikannya menggoreskan simbol sesuai arahan Haris.
“Ayah, untuk apa membuat jimat sebanyak itu. Kita sangat jarang menggunakan kekuatan sihir di sini.”
“Buat jaga-jaga, siapa tahu suatu saat berguna.” Jawab Haris santai.
Weini tak bertanya lagi, ia melanjutkan kerjaannya.
“O ya, ada satu mantera yang belum kuajarkan padamu. Kemarilah! Ayah tunjukkan sesuatu.” Haris maju beberapa langkah ke depan, lalu merapalkan sebuah mantera. Tiba-tiba cahaya kuning terang benderang mengelilingi tubuhnya. Cahaya itu perlahan meredup menjadi lingkaran kecil, semakin kecil lalu memunculkan sebuah benda. Haris meraih benda itu dan menunjukkan pada Weini.
“Wow… dari mana benda itu muncul?” Weini terkagum melihat kesaktian Haris.
“Aku menyimpannya di dimensi gaib. Ini barang berhargamu!” Haris memberikan kepada Weini, sebuah lencana bersimbolkan naga dan merak yang mengitari sebuah nama dalam aksara mandarin 'Li Yue Hwa' .
“Ini? Lencana berukir namaku. Darimana ayah mendapatkannya?” Weini kebingungan, ia mendesak Haris menjelaskan semua itu.
“Sudah saatnya kamu tahu versi lengkap kejadian masa lalu saat kau diserahkan ibumu padaku. Duduklah, santai saja ayah akan mendongeng sebentar lagi.” Canda Haris. Sewaktu Weini tegang malah ia sanggup membuat
lawakan.
Weini duduk dengan patuh, apa masih ada sesuatu yang tidak ia ketahui dari kejadian mengenaskan di masa kecilnya itu?
“Ibumu melahirkan lima orang putri, tapi hanya kamu yang dikorbankan. Apa kamu merasa itu tidak adil? Saat dalam kandungan, kamu sudah diprediksi seorang perempuan dan ayahmu hendak menggugurkanmu. Namun
ibumu memohon kemurah hatiannya dan berjanji akan melahirkan seorang anak laki-laki lagi untuknya dengan syarat tetap membiarkanmu hidup.”
Air mata menetes dari sudut kelopak mata Weini, meskipun ia tabah menerima kenyataan tapi hatinya terasa sakit saat mendengar kronologi cerita utuhnya. Haris menyeka air mata Weini dan tidak berkomentar apapun, hanya senyuman yang ia berikan sebagai dukungan.
“Waktu berjalan, Li San dihasut oleh kakaknya yang merupakan pamanmu. Ia menyesatkan pikiran ayahmu untuk menyingkirkanmu sebagai bentuk hukuman kepada ibumu yang tidak bisa memenuhi janji melahirkan seorang
putra lagi. Ibumu sejak dulu tidak suka dengan pamanmu Kao Jing yang terlihat culas dan haus kuasa. Namun karena ikatan persaudaraan, ayahmu lebih mendengarkan pamanmu. Direncanakanlah hari kematianmu,tapi ibumu mengetahui rencana busuk itu dan memintaku melakukan misi penyelamatan secara rahasia. Ia membekalimu lencana ini yang diyakini suatu hari akan membantumu menuntut keadilan. Dalam peraturan leluhur Li, jika dalam satu keturunan tidak mendapatkan penerus marga, maka anak terakhir akan dinikahkan dengan saudara
Weini mangut-manggut, titik terang mulai tampak jelas. “Jadi ayahku dihasut paman untuk membunuhku. Otak kejahatan itu adalah pamanku Li Kao Jing? Kalau menikahkanku dengan salah satu sepupu bisa jadi solusi, kenapa harus menghabisiku?”
“Haha… Weini, dalamnya lautan dapat diukur, dalamnya hati manusia siapa yang tahu? Dalam penerawanganku, pria yang berpotensi dijodohkan denganmu adalah putra sulung Kao Jing. Hanya dia yang usianya cocok
menikahimu. Tapi Kao Jing menentang keras pernikahan sedarah, dan aturan leluhur tidak seorangpun yang berani melanggar. Sebelum itu terjadi, maka dihasutlah ayahmu untuk menghabisimu. Dengan kematian maka kamu terhapus dari penerus warisan klan Li, dan besar kemungkinan tahta itu akan jatuh di tangan putra sulung Kao Jing.” Ungkap Haris menutup cerita masa lalu.
“Sekarang pamanku pasti yang paling bahagia. Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya, tega banget dia menyingkirkanku dengan licik.” Weini geram.
“Kecuali takdir berkata lain. Kita sudah puluhan tahun tanpa kabar dari sana, entah apa yang terjadi pun sudah di luar batas pengetahuan kita. Biarlah mengalir apa adanya, yang penting sekarang kamu tahu kebenarannya dan simpan baik-baik lencana ini.” Haris serah terima lencana pada Weini. Mulai sekarang gadis itulah yang bertanggung jawab atas barang berharga itu.
Weini mengamati lencana dari emas murni itu, berkilauan memantulkan kemurnian serta memamerkan ukiran yang sangat apik. Ada kerinduan tersemat dalam relung hati terdalam saat ia membaca nama aslinya yang terukir
di sana. Nama yang entah kapan bisa ia gunakan lagi sebagai identitas asli.
“Ayah, aku ingin menyimpannya seperti caramu. Ajarkan aku!” pinta Weini, Haris sudah menyelamatkan lencana ini dengan bantuan sihir. Kini Weini ingin meniru jejaknya.
Haris membunyikan jari, “Ide bagus! Sekarang ambil satu jimat yang tadi kau bikin.”
Weini celinguk ke belakang mencari jimat yang dimaksud. “Eh, jadi dari tadi kita bikin jimat sakti buat nyimpan barang. Sebanyak itu? ayaaah… apalagi yang kau simpan selain ini sampai harus menghabiskan banyak jimat?”
Haris tertawa, “Rahasia hahaha.”
Weini manyun, jangan – jangan masih banyak benda penting yang belum ditunjukkan padanya.
“Sudah sudah… ikuti instruksiku, aku hanya mengajarkanmu satu kali. Jika kau tak serius memperhatikan, jangan salahkan aku kalau gagal.” Ancam Haris meski setengah bercanda.
Candaan itu dianggap serius oleh Weini, ia menyimak dengan penuh konsentrasi. Setelah melewati beberapa tahapan, akhirnya lencana itu berhasil ia simpan dengan kemampuan sihirnya sendiri.
“Yes berhasil. Makasih ayaaaah!” Weini jingkrak kegirangan.
Haris mengagumi kemampuan Weini menguasai sihirnya, ia tidak hanya berbakat namun seakan terlahir untuk mewarisi sihir Klan Wei yang mendunia namun misterius.
Weini pamit beristirahat ke kamarnya. Tanpa terasa ia menghabiskan dua jam bersama Haris hingga subuh. Jam yang sangat tanggung untuk tidur, bisa-bisa ia bangun kesiangan dan telat ke sekolah. Kesibukan hidup di kota metropolitan ini berkonsekuensi mereka tidak memiliki quality time. Hanya dengan mengorbankan waktu tidurlah mereka bisa bertukar pikiran seperti yang baru saja terjadi.
“Hemm… jimat sakti ini keren banget. Aku akan coba simpan barang berharga lainnya. Apa ya?” jemari Weini mengetuk bibirnya, ia Nampak berpikir.
Xiao Jun? ah… Weini segera menepis bayangan Xiao Jun dalam ingatannya. Mengapa saat memikirkan barang berharga malah wajah itu yang terngiang.
Weini menyortir barang-barang dalam laci meja, beberapa ikat rambut, buku catatan mini, naskah drama dan sebuah kertas angpao merah. Weini meronggoh angpao itu kemudian menatapnya lekat. Ia tersenyum sembari mendekap kertas merah itu, barang pertama yang ia dapat dari Xiao Jun. Gara-gara ini pula mereka cekcok dan menjadi dekat sebelum akhirnya saling menjauh.
Diraihnya secarik jimat lalu merapalkan mantera. Kertas angpao itu tersimpan dalam naungan sihir. Weini tersenyum puas, “Kamu aman sekarang!”
***
Walau tak bisa memiliki dirimu, biarlah kusimpan kenangan itu sebagai bukti kau pernah menjadi yang terpenting dalam hidupku.
_Quote of Weini aka Yue Hwa_